Banyak orang terburu-buru dalam menilai suatu hal. Tak jarang ia lupa untuk menyertakan kebenaran di dalamnya.”

Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya. Pasti Anda sudah sering mendengar kalimat itu. Ada pesan mendalam dan hal penting yang harus Anda pahami tentang itu. Ya, jangan terlalu mudah untuk menilai seseorang. Apalagi dengan sembarangan menilai seseorang dengan sebutan orang “gila”. Tidak selamanya dan tidak semua orang dengan gangguan mental adalah orang gila. Butuh waktu yang lama serta proses yang panjang dalam menilai seseorang bahwa seseorang mengalami gangguan mental atau tidak.

Dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kita tidak terlalu cepat mendakwa seseorang karena ciri fisik atau perilakunya. Yuk! Intip sebagian kecil fakta dan mitos tentang kesehatan mental yang kami sajikan di bawah ini dan jadilah orang yang bijak dalam menilai seseorang. 

  1. Senyum-senyum sendiri apakah termasuk pertanda orang dengan gangguan mental?

Faktanya, orang yang senyum-senyum sendiri bisa saja sedang teringat dengan hal-hal menyenangkan dalam memorinya. Terkadang ia tak perlu mengatakan kepada orang lain apa hal menyenangkan dalam pikirannya. Anda juga pasti pernah mengalami hal demikian bukan? Kadang suatu peristiwa membawa memori Anda ke sebuah ingatan tentang hal menyenangkan yang terjadi di masa lalu. Jadilah pribadi positif yang tidak langsung menilai seseorang dari apa yang terlihat sedang dilakukan.

  1. Berbicara pada diri sendiri apakah termasuk orang dengan gangguan mental?

Jangan terburu-buru Anda menyimpulkan seseorang yang berbicara sendiri adalah orang dengan gangguan mental. Faktanya, berbicara sendiri atau lebih tepatnya berbicara kepada diri sendiri sebenarnya adalah kegiatan yang sangat penting untuk diri kita. Mengapa? Karena apa yang kita ucapkan atau pikirkan akan terprogram ke dalam bawah sadar kita.1 Berbicara kepada diri sendiri atau sering dikenal sebagai self-talk ada yang bersifat positif dan negatif. Contoh yang positif adalah ketika Anda akan melakukan wawancara kerja Anda mungkin akan bergumam pada diri Anda dengan berkata, “Aku pasti bisa melakukannya!”.  Hal tersebut akan meningkatkan rasa percaya diri. Akan tetapi, jika Anda melakukan self-talk dengan kata-kata yang mengurangi semangat Anda maka self-talk itu berubah menjadi self-talk yang bersifat negatif. Tidak menutup kemungkinan Anda pun akan menjadi pesimis.

Self-talk juga bisa dijadikan sebagai salah satu terapi untuk para remaja yang mengalami body-dissatifaction (ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh), seperti merasa kurang tinggi, merasa terlalu gemuk, dan lain-lain. Selain itu, self-talk juga merupakan bagian dari rational emotive bahavior therapy yang bertujuan mengubah ide-ide tidak rasional menjadi ide rasional (mengubah pandangan negatif menjadi positif). Sebuah studi menunjukkan bahwa seseorang yang diet dan melakukan positif self talk dapat menurunkan berat badan 3 kali lebih banyak  dari diet biasa.2 Bagaimana? Anda tertarik mencobanya?.

  1. Jika seseorang memiliki gangguan mental, maka ia tidak dapat menjalankan aktivitas dengan baik?

Orang dengan gangguan mental (contohnya: bipolar, schizophrenia, ADHD, dan sebagainya) terbukti dapat merengkuh kesuksesan. Banyak tokoh terkemuka yang berhasil mencapai mimpinya.  Hal yang perlu dilakukan adalah mengontrol sakit mental yang mereka miliki hingga dapat menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Misalnya orang dengan schizophrenia dikategorikan sembuh ketika mereka bisa mengontrol imajinasi mereka. Mereka bisa mengontrol apa yang sebenarnya hanya ada di pikiran mereka dan apa yang nyata. Mereka mampu melakukan kontak dengan baik dengan dunia nyata. Ketika mereka sudah mampu untuk bersosialisasi dengan baik maka mereka juga akan mampu mengatur kehidupan mereka.

  1. Orang yang narsis mengalami gangguan mental?

Narsis sendiri sebenarnya berasal dari nama pemuda tampan yang bernama Narkissos. Menurut mitologi Yunani, Narkissos artinya adalah  jatuh cinta kepada bayangannya sendiri. Orang yang narsis memiliki self-love yang tinggi, memiliki rasa bangga yang berlebihan terhadap dirinya sendiri. Mereka yang narsis selalu berharap untuk dipuji oleh orang lain. Orang yang narsis secara berlebihan termasuk ke dalam pembahasan gangguan kepribadian narsistik. Selain itu, tinggi rendahnya narsis yang dialami seorang akan mempengaruhi responnya terhadap kritik dan kegagalan.3

  1. Orang yang selalu gagal akan terkena depresi?

Faktanya, banyak orang selalu yang gagal tapi tetap bangkit kembali. Berbagai kegagalan yang kita alami dalam kehidupan memang dapat memicu terjadinya stress hingga depresi.  Namun, orang yang mempunyai self regulation atau mekanisme pengaturan diri yang baik akan tetap bertahan. Seseorang akan mampu menghadapi peristiwa yang tidak menyenangkan apabila dapat melakukan coping atau mengantisipasi stress. Dengan demikian, ia tidak akan depresi meskipun selalu gagal.4


Sumber Data Tulisan

1Selengkapnya bisa dibuka pada laman http://www.kompasiana.com/primadi/the-power-of-self-talk-and-affirmation_550adb3da33311cb102e3aac

2 Selengkapnya bisa dibaca pada penelitian tentang “Pengaruh Pelatihan dan Evaluasi Self-Talk Terhadap Penurunan Tingkat Body-Dissatisfaction” yang dilakukan oleh Dita Iswari dan Nurul Hartini pada tahun 2005

 3 S. Nevid, Jefrey, dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta. Erlangga

4 2006 by the McGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved.

By: Dzikria Afifah Primala Wijaya

Featured Image Credit: www.health.liputan6.com

%d bloggers like this: