“Kecerdasan emosi, melebihi faktor-faktor lain, melebihi IQ atau keahlian, memiliki peran sebesar 85%-90% dari kesuksesan seseorang. IQ memang merupakan awal dari kompetensi. Kamu membutuhkannya, tetapi IQ tidak akan membuatmu menjadi bintang. Kecerdasan emosi lah yang dapat menuntunmu mencapai kesuksesan.”

– Warren Bennis

Menyedihkan. Begitulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan berita-berita utama yang ditayangkan oleh media massa. Pasti masih segar dalam ingatan Sobat Pijar mengenai kasus penganiayaan pelajar di Bantul, Yogyakarta1. Mungkin kamu masih bertanya-tanya bagaimana bisa sekelompok pelajar menganiaya temannya dengan begitu sadis hanya gara-gara masalah tato Hello Kitty. Juga mengenai kasus mahasiswa Unas yang bunuh diri karena depresi dengan banyaknya tugas ujian dan belum melunasi biaya kuliahnya2. Bagaimana ia bisa nekat mengakhiri hidupnya?

Pada kasus yang pertama, dapat dikatakan bahwa para pelaku penganiayaan tidak memiliki rasa empati3. Kata empati berasal dari bahasa Yunani empatheia yang artinya “ikut merasakan”. Dengan kata lain, empati merupakan suatu kemampuan untuk memahami pengalaman subjektif orang lain. Pelaku kejahatan dan penganiayaan sadis tidak memiliki rasa empati, sehingga mereka menyiksa korbannya dengan begitu kejam. Kasus yang kedua, mahasiswa tersebut cenderung mengambil emotional-focus coping atau penyelesaian masalah secara emosional. Keputusan bunuh diri nya pun merupakan suatu keputusan emosinal. Idealnya, seseorang dapat bertindak berdasarkan problem-focus coping¸ yaitu berfokus untuk mencari solusi untuk permasalahan hidupnya.

Dari kedua kasus tersebut dapat diambil dua hal: empati dan coping atau cara seseorang menghadapi permasalahan hidupnya. Mengapa tiap orang dapat memiliki kadar empati dan strategi coping  yang berbeda? Faktor kunci dalam perbedaan tersebut adalah kecerdasan emosi. Apakah sesungguhnya kecerdasan emosi itu? Seberapa penting peran kecerdasan emosi dalam kehidupan sehari-hari? Mari kita kenali lebih lanjut mengenai kecerdasan emosi ini.

Untuk dapat lebih memahami mengenai kecerdasan emosi, kita harus menyelami ciri-ciri orang dengan kecerdasan emosi yang baik4. Pertama, orang dengan kecerdasan emosi yang baik dapat mengenali emosi yang dirasakannya. Kedua, mereka juga dapat mengelola emosinya dengan baik. Ketiga, mereka dapat memotivasi diri sendiri. Keempat, mereka dapat mengenali emosi orang lain dengan tepat. Dan yang kelima, mereka dapat membina hubungan yang baik dengan orang lain.

Kecerdasan emosi merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengendalikan emosi diri, orang lain, dan dalam kelompok. Terdapat dua macam emosi, yaitu emosi positif (gembira, optimis, bersemangat, puas, bersyukur) dan emosi negatif (sedih, marah, takut, gugup, cemas). Orang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik dapat mengetahui dengan pasti apa yang sedang dirasakannya sehingga ia dapat mengambil tindakan yang tepat. Selain itu, ia pun dapat mengenali emosi orang lain yang kemudian menimbulkan empati.

Orang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik sangat cocok untuk menjadi pemimpin. Karena dapat berfokus untuk mencari solusi atas permasalahan dan bukannya terlarut dalam emosi, ia dapat mengambil keputusan yang akurat dan tepat. Di tengah konflik dan tekanan, ia mampu berpikir jernih dan mencairkan suasana tegang. Selain itu, pemimpin dengan kecerdasan emosi yang baik dapat memahami bagaimana perasaan karyawannya. Bagaimana dengan Sobat Pijar, sudahkah memiliki kecerdasan emosi yang baik?

“Siapa pun bisa marah, marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah”

– Aristoteles

Kecerdasan emosi merupakan suatu hal yang dapat dipelajari dan diubah. Berikut ini beberapa tips untuk meningkatkan kecerdasan emosi5.

  1. Kurangi emosi negatif dalam kehidupan sehari-hari. Cobalah untuk melihat suatu permasalahan secara lebih objektif. Misalnya jika teman tidak membalas SMS, jangan langsung berpikiran bahwa ia sedang menghindari kamu. Sebaiknya carilah pikiran alternatif misalnya teman sedang tidak punya pulsa atau masih tidur.
  2. Kurangi Perasaan Takut akan Penolakan. Cara yang efektif untuk mengelola rasa takut akan penolakan adalah dengan membuat beberapa rencana untuk keadaan yang penting. Misalnya, dalam memilih sekolah kamu sebaiknya memiliki plan A, plan B, dan plan Dengan begitu, kamu dapat memiliki pandangan yang lebih optimis untuk masa depan.
  3. Ingat teknik XYZ untuk mengekspresikan emosi! Kadang kala kita begitu susah untuk mengungkapkan apa yang sesungguhnya kita rasakan. Mungkin juga kamu takut bahwa ungkapan emosi mu akan menyinggung orang lain. Di sisi lain, memendam apa yang dirasakan juga tidak baik karena suatu waktu kita dapat “meledak”. Solusinya adalah dengan menggunakan rumus XYZ yaitu: aku merasa X jika kamu melakukan Y saat Misalnya: Aku merasa kecewa (X) saat kamu terlambat datang (Y) padahal aku sudah datang tepat waktu (Z). Nah, dengan cara ini kamu dapat mengungkapkan perasaanmu tanpa membuat orang lain tersinggung.
  4. Hindari Langsung Berbicara Saat Marah. Saat merasa marah atau kecewa dengan seseorang, sebelum kamu mengatakan atau menanggapi sesuatu sebaiknya kamu menarik nafas panjang sembari menghitung sampai sepuluh. Setelah itu, kamu dapat menanggapi dan bereaksi dengan pikiran yang lebih tenang.
  5. Jangan larut dalam penyesalan, ambil pelajaran. Terkadang tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginan kita. Kegagalan merupakan hal yang kerap ditemui dalam kehidupan. Daripada larut dalam penyesalan dan menyalahkan iri sendiri maupun orang lain, cobalah untuk menanyakan beberapa pertanyaan berikut pada dirimu. “Apa pelajaran yang bisa aku ambil?” “Bagaimana agar aku bisa mengambil hikmah dari kejadian ini?” “Hal apa yang penting dilakukan agar diriku bisa berkembang?”. Dengan beberapa pertanyaan refleksi tersebut, kebijaksanaan diri kita akan mengobati rasa sesal yang ada.

Sumber data tulisan

  1. Kasus ini dapat diakses melalui tautan http://news.liputan6.com/read/2179287/reka-ulang-kasus-penganiayaan-tato-hello-kitty-ricuh
  2. Kasus ini dapat diakses mengenai tautan http://www.indopos.co.id/2014/03/mahasiswa-unas-bunuh-diri-karena-depresi.html
  3. Lebih lanjut mengenai seluk beluk empati dapat ditemukan dalam buku karya Goleman, Daniel (1995) yang berjudul Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional). Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
  4. Lebih lanjut mengenai definisi Kecerdasan Emosi dapat ditemukan dalam buku karya Goleman, Daniel (1995) yang berjudul Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional). Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
  5. Cara meningkatkan kecerdasan emosi dapat dibaca di https://www.psychologytoday.com/blog/communication-success/201410/how-increase-your-emotional-intelligence-6-essentials

By: Lusiana Yashinta Ellysa Putri

Image Header Credit: www.zevitgrow.com/wpcontent


Profil Penulis

11251668_10204391045111291_57933664_n
Lusiana Yashinta Ellysa Putri

Lusiana Yashinta adalah alumnus Psikologi UGM yang aktif dalam dunia jurnalistik. Ia pernah mempresentasikan penelitiannya dengan Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti mengenai Happiness pada IX Binenieal Conference of Association of Asian Social Psychology 2011 (Kunming, China)

%d bloggers like this: