“Biologis hanyalah sebagian kecil dari hal yang membuat seseorang menjadi ibu”

– Oprah Winfrey

Adopsi, berdasarkan KBBI, adalah pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri. Tindakan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam alasan. Di masyarakat, terdapat mitos-mitos yang berkembang yang kemudian dijadikan alasan untuk melakukan adopsi anak. Mari ungkap lima hal yang kita ketahui tentang adopsi yang ternyata adalah mitos!

  1. Anak adopsi dapat dijadikan pancingan

Bagi pasangan yang sudah lama menikah namun belum dikaruniai buah hati, tentu memiliki tekanan tersendiri di masyarakat. Oleh karena itu biasanya mereka mengambil langkah untuk mengadopsi anak dan menjadikannya pancingan agar sang istri dapat segera hamil. Namun, menurut Zoya Amirin, seorang psikolog seksual, menyatakan bahwa mengadopsi anak tidak dapat dijadikan sebagai pancingan karena hanya meringankan tekanan dari lingkungan sosial untuk pasangan tersebut1. Apabila pasangan menghendaki memiliki anak, maka perlu merencanakan dengan benar dan tanpa paksaan.

  1. Anak adopsi lebih berpotensi bermasalah daripada anak kandung

Faktanya, anak adopsi dapat tumbuh sebaik anak kandung. Perilaku anak, baik kandung maupun adopsi, dipengaruhi juga oleh lingkungannya. Bandura, seorang ahli yang mencetuskan teori pembelajaran sosial, menyatakan bahwa perilaku manusia diperoleh dari proses mengamati dan meniru perilaku orang lain2.

  1. Anak adopsi kebingungan dengan siapa “orang tua”nya dan akan mengalami masalah identitas

Pada kondisi ketika orang tua terbuka tentang keluarga kandung, anak adopsi sebenarnya mengerti perbedaan peran keluarga adopsi dan keluarga kandung dalam hidupnya3. Hal tersebut tergantung pada keterbukaan hubungan di antara mereka serta informasi pengadopsiannya.

  1. Orang tua angkat tidak dapat menyayangi anak adopsi seperti mereka menyayangi anak kandungnya

Keputusan untuk mengadopsi anak bukanlah sesuatu yang mudah. Tentu calon orang tua harus mampu merawat anak, termasuk mencintai mereka dengan sepenuh hati. Walaupun orangtua kandung memang memiliki cinta kasih yang besar pada anaknya, tidak berarti pula orang tua angkat tidak bisa melakukan hal yang sama. Karena cinta dan keterikatan dengan anak bukan merupakan sesuatu yang hanya didapatkan dari faktor keturunan saja4.

  1. Adopsi anak hanya dapat dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah

Keputusan untuk mengadopsi anak dapat dilakukan oleh seseorang tidak sedang dalam ikatan pernikahan, sehingga akan menjadikannya sebagai seorang single parent. Biasanya tindakan ini dilakukan agar dapat meningkatkan kualitas hidup calon anak adopsi5. Namun, calon orang tua juga perlu mempertimbangkan berbagai hal sebelum mengadopsi anak, di ataranya ialah dukungan dari lingkungan, asal-usul anak, serta kemampuan finansial.


Sumber Data Tulisan

  1. Artikel mengenai pengangkatan anak. Artikel lengkap dapat dibaca di http://health.liputan6.com/read/2511864/angkat-anak-sebagai-pancingan-hanya-mitos
  2. Buku Teori Kepribadian, oleh Feist & Feist
  3. Penelitian oleh Child Welfare Information Gateway pada tahun 2013 tentang Keterbukaan pada pengadopsian. Penelitian lebih lengkap dapat diakses melalui https://www.childwelfare.gov/pubPDFs/f_openadopt.pdf
  4. http://www.americaadopts.com/resources/adoptive-parent-myths-and-facts/
  5. Penelitian oleh Child Welfare Information Gateway pada tahun 2013 tentang Adopsi pada Orang tua Tunggal. Penelitian lebih lengkap dapat diakses melalui https://www.childwelfare.gov/pubPDFs/single_parent.pdf

By: Nurmalita Rahman

Featured Image Credit: https://shsethematador.wordpress.com/2013/01/04/breaking-the-stereotype-2/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

%d bloggers like this: