“Ketika mengajari anak dengan autis kami harus cepat untuk beradaptasi, mengikuti insting kami dan segera merencanakannya.” – Adele Devine




Jumlah anak dengan autisme di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dari dr. Widodo Judarwanto, seorang dokter anak dan editor dari klinikautis.com, memprediksi orang dengan autisme akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia, pada tahun 2015 satu per 250 anak mengalami gangguan autisme dan terdapat kurang lebih 12.800 anak dengan autisme dan 134.000 orang dengan autisme di Indonesia1. Sayangnya di Indonesia sendiri belum terdapat data yang akurat mengenai jumlah anak autisme setiap tahunnya. Tentunya hal ini berkaitan dengan pemahaman masyarakat akan informasi mengenai autisme itu sendiri. Orang tua kebanyakan tidak mengetahui dan enggan untuk membuka diri saat anaknya memiliki gejala-gejala autisme sehingga data pasti jumlah anak dengan autisme di Indonesia masih terbatas.

Pendidikan Anak dengan Autisme
Saat ini telah banyak beredar informasi mengenai penanganan autisme di Indonesia seperti dibukanya berbagai pusat terapi, terbentuknya berbagai yayasan yang peduli menangani anak dengan autisme, hingga seminar dari dalam maupun dari luar negeri yang membahas mengenai isu autisme. Penanganan yang dahulu dianggap mustahil pada akhirnya dapat diterapkan pada anak sejak usia dini, meski tidak banyak pihak yang mampu untuk melakukannya.

Dalam UUD 1945 pasal 31 disebutkan bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan. Untuk anak berkebutuhan khusus, hak ini diwujudkan lewat pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi adalah sebuah sistem pendidikan yang menggabungkan antara peserta didik biasa dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Menurut data dari UNESCO pada tahun 2007, ranking Indonesia dalam pendidikan inklusi berada pada urutan ke-58 dari 130 negara. Ranking ini kemudian mengalami kemerosotan sehingga pada tahun 2008 turun ke ranking 63 dari 130 negara. Posisi Indonesia bahkan kian merosot sampai ke peringkat 71 dari 129 negara. Padahal nyatanya pendidikan inklusi dibutuhkan di Indonesia2.

Meskipun sudah banyak terjadi perubahan namun masih terjadi hambatan dalam proses pembelajaran antara anak dengan autisme dan guru di sekolah. Hal ini menimbulkan kesenjangan antara apa yang dibutuhkan anak dengan autisme dan apa yang diajarkan oleh guru. Dengan demikian, kebutuhan anak dengan autisme di bidang pendidikan masih belum terpenuhi.3

Memasukkan anak dengan autisme ke sekolah umum tentu merupakan perjuangan tersendiri bagi orang tua, guru, maupun anak itu sendiri. Sebagai contohnya menyiapkan materi yang bisa diterapkan oleh anak dengan autisme untuk proses pembelajarannya, metode dan strategi pembelajaran, dan mempersiapkan anak dalam bersosialisasi dengan anak lainnya di sekolah. Hal ini disebabkan karena anak dengan autisme memiliki kesukaran dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Misalnya bisa saja mereka kesulitan bekerja sama dengan rekan sebayanya di sekolah. Dari sinilah peran sekolah umum mempersiapkan pendidikan untuk anak dengan autisme dengan cara mengenali latar belakang dari anak tersebut agar guru dapat mengetahui cara penanganan dari anak tersebut.

Anak dengan Autisme dalam Hal Berinteraksi Sosial
Penampilan maupun gerak-gerik yang berbeda dari anak pada umumnya membuat anak dengan autisme kerap kali menjadi sasaran bullying teman-teman sebaya yang normal di lingkungannya. Anak dengan autisme juga sering mengalami kesulitan dalam hal berkomunikasi memahami beberapa tipe bahasa atau kalimat tertentu.3 Minimnya pengetahuan sebagian masyarakat mengenai penanganan anak dengan autisme menyebabkan masyarakat kerap mengucilkannya dari lingkungan sosial.

Peran Orang Tua dalam Menghadapi Anak dengan Autisme
Seringkali orang tua tidak mengetahui apabila anaknya mengalami gejala autisme sehingga banyak anak dengan autisme yang tidak tertangani sejak usia dini. Orang tua yang telah mengetahui anaknya memiliki autisme mengalami konflik dari dalam diri yang terkadang membuat orang tua sulit untuk menerima keadaan anaknya. Masih banyak orang tua yang mengalami syok, sedih, khawatir dan bercampur cemas ketika pertama kali mendengar anaknya yang didiagnosis memiliki autisme. Pengasuhan sehari-hari merupakan beban tersendiri bagi orang tua dalam memberikan perhatian terhadap anak dengan autisme. Hal ini disebabkan bahwa anak dengan autisme membutuhkan pengawasan yang berbeda dari anak normal lainnya.

Jika saja para orang tua menyadari bahwa orang tua merupakan pihak pertama yang diharapkan menjadi terapis yang baik untuk anaknya. Orang tua dapat memercayakan pada lembaga terapis yang memang berkapasitas untuk melakukan terapi pada anak-anak dengan autisme. Tidak hanya memercayakan pada terapis orang tua juga harus konsisten melatih anak dengan autisme di rumah.4

Di sisi lain pemerintah Indonesia juga harus turut dalam mendukung intervensi terhadap anak dengan autisme sehingga anak dengan autisme dapat berinteraksi dengan baik di masyarakat.





Referensi:
[1] Jumlah Penderita Autis di Indonesia. Artikel diakses dari https://klinikautis.com/2015/09/06/jumlah-penderita-autis-di-indonesia
[2]Latief (2009). Pendidikan Inklusi Belum Menjadi Isu Nasional. Diakses dari http://www.endonesia.com
[3]Hidayat & Asjasari, M. Pengenalan Autisme dan Pelayanan Pendidikannya. Diakses dari http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195505161981011-MUSYAFAK_ASSYARI/Pendidikan_Anak_Autis/PENGENALAN__AUTISME_&_PENDIDIKANNYA.pdf
[4]Novia, P.R. & Kurniawan, I.N. (2007). Penerimaan orang tua pada Anak Autis. [Naskah Publikasi]. Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia


Sumber Foto:
http://circleofdocs.com/wp-content/uploads/2015/04/autistic-kid.jpg

Total
24
Shares
%d bloggers like this: