“Bersikap baiklah tanpa membedakan satu dan yang lainnya. Berpikirlah lebih pada karakter dan kecantikan batin dari seorang wanita dibandingkan dengan penampila ndiri mereka.”

Sarah Ida Shaw

Penampilan menjadi satu hal yang tak luput dari perhatian dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sebagian orang bahkan melakukan berbagai upaya untuk menjadikannya tampak menarik. Mulai dari membeli beragam atribut menawan hingga membentuk postur tubuh yang dianggapnya ideal. Sayangnya, berbagai upaya tersebut acap kali berakhir menjadi bentuk perilaku yang ekstrem. Standar kecantikan dan ketampananyang ideal tampaknya menjadi semakin tidak masuk akal dan tidak ada habisnya. Bahkan, bagi sebagian orang aspek kesehatan terkadang luput dari standar tersebut.

Banyak orang telah terbawa oleh arus fenomena budaya yang muncul beberapa dekade lalu1. Bagi para wanita misalnya, muncul miskonsepsi bahwa kerampingan tubuh merupakan simbol dari kecantikan yang ideal. Pandangan tersebut terkonstruksikan secara sosial melalui artikel-artikel buku dan majalah1. Jika Anda mengenal tokoh barbie, konstruksi tubuhnya juga menimbulkan obsesi yang ekstrim pada sebagian orang. Obsesi untuk menciptakan tubuh dengan standar yang tak masuk akal tersebut sering kali menimbulkan ketidakpuasan. Lebih jauh, dapat menimbulkan depresi, harga diri yang rendah, gangguan makan, serta bunuh diri atau kematian2.

Selain permasalahan di atas, terdapat fenomena lain yang harus kita waspadai. Fenomena ini mungkin tampak biasa dalam keseharian kita, tetapi dampak yang diberikan bisa jadi sangat berbahaya. Pernahkah Anda mengeluhkan bentuk dan ukuran tubuh yang rasanya begitu menyebalkan kepada kawan-kawan Anda? Pernahkah Anda terlibat dalam perbincangan ketika orang-orang saling mengeluhkan berat tubuh yang semakin bertambah? Jika iya, Anda harus lebih berhati-hati.

Fenomena sosial yang menjadi bahasan kita kali ini dikenal dengan istilah fat talk. Fenomena ini terjadi ketika para wanita berbicara negatif satu sama lain mengenai ukuran/bentuk tubuh mereka3. Istilah tersebut diperkenalkan oleh antropolog budaya, Nichter dan Vuckovich, pada tahun 1994. Uniknya, orang-orang yang umumnya telah memiliki tubuh yang sehat tak luput dari fenomena ini. Umumnya percakapan akan diwarnai dengan beragam pernyataan dan pertanyaan seperti berikut4:

  • Aku merasa sangat gemuk.
  • Apakah aku terlihat gemuk menggunakan pakaian ini?
  • Jika kamu mengganggap dirimu gemuk, lihatlah aku!
  • Kamu terlihat bagus mengenakan pakaian itu, apakah berat badanmu baru saja turun?
  • Aku berharap bisa memiliki tubuh yang pas untuk mengenakan baju itu.

Menurut Nichter, para wanita berkomentar negatif mengenai tubuh mereka mungkin disebabkan oleh tekanan dari norma sosial3. Bagi para mahasiswa, khususnya di kalangan wanita, fenomena ini dirasakan wajar adanya. Beberapa di antaranya mungkin merasa terganggu. Akan tetapi, mereka mengakui bahwa ada tekanan untuk melakukan hal yang sama di kelompok sosial mereka.

Sebagian wanita meyakini bahwa fat talk justru membuat mereka merasa lebih baik3. Sebab, merekadapat mengekpresikan ketidakpuasan pada tubuh mereka dan menerima respon empatik dari orang lain. Namun, frekuensi dari fat talk di kalangan remaja diketahui berkorelasi positif dengan ketidakpuasan pada tubuh loh. Beberapa studi menunjukkan adanya peningkatan ketidakpuasan fisik dan rasa bersalah pada wanita yang memiliki kebiasaan tersebut.

Penemuan Salk dan Engeln-Maddox (2011) menggambarkan respon yang sering muncul ketika fenomena ini terjadi3. Orang-orang umumnya akan menolak anggapan bahwa teman mereka gemuk dan mulai berempati. Turut serta dalam fat talk terkadang menjadi cara untuk mengekpresikan empati. Selain itu, sebagian orang juga menjadikan fat talk cara untuk mencari pembenaran dari kekhawatiran mereka.

Membahas lebih dalam mengenai fenomena ini, mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya.  Apakah fenomena ini hanya terjadi pada para wanita saja? Tidakkah para pria mengalaminya juga? Sebuah studi telah memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.Tidak hanya wanita, para pria juga melaporkan tekanan yang sama untuk terlibat dalam fat talk5.Selain itu, frekuensi dari fat talk diketahui pula akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia kita loh3.

Nah, yang terakhir mari kita bahas dampak negatif dari fat talk. Berdasarkan hasil beberapa studi, fenomena ini dapat berdampak pada kesehatan mental maupun fisik kita. Fat talk dapat menimbulkan perasaan malu, tidak puas, juga gangguan perilaku makan6. Kebiasaan ini tidak memotivasi seorang wanita untuk bertindak sehat atau merawat tubuh mereka, tetapi justru sebaliknya. Seorang peneliti juga mengatakan bahwa fenomena ini berdampak pada kesehatan mental wanita dan dinamika sosial mereka7. Bahkan, bisa mengarah kepada problem kesehatan mental yang lebih luas seperti depresi5.

Sekarang kita sudah sampai di penghujung bahasan kita. Ingatlah, tidak salah untuk menjadi cantik atau tampan. Akan tetapi, janganlah hanya berfokus untuk mencapai tubuh yang menarik dan ideal saja. Jadikan dirimu sehat dan buat kecantikan batin yang lebih besar.. Hal lain yang bisa mulai kita lakukan adalah menghabiskan lebih banyak waktu tanpa fat talk. Yuk berkontribusi dalam kampanye sehat kita, “So, friends, don’t let friends fat talk”.


Sumber Data Tulisan

1Nichter, M. (2000). Fat Talk: What Girls and Their Parents Say About Dieting. London: Harvard Univesity Press.

2Sari, G.E.P., Hardjono, & A.N. Priyatama. (2010). Perbedaan Ketidakpuasan Terhadap Bentuk Tubuh Ditinjau dari Strategi Koping pada Remaja Wanita di SMA Negeri 2 Ngawi. Jurnal Wacana Psikologi UNS, 2(4): 47-63.

3Salk, R. H. & R. Engeln-Maddox. (2012). Fat Talk Among College Women is Both Contagious and Harmful. Journal of Sex Roles, 66: 636-645.

4The University of Chicago. (2015). End Fat Talk. Diakses melalui https://wellness.uchicago.edu/page/end-fat-talk tanggal 27 Desember 2015.

5Arroyo, A & J. Harwood. (2012).  Exploring the Causes and Consequences ofEngaging in Fat Talk. Journal of Applied Communication Research, 40(2): 167-187.

6Matter, G. (2015). The Problem with ‘Fat Talk’. Diakses melalui http://www.nytimes.com/2015/03/15/opinion/sunday/the-perils-of-fat-talk.html tanggal 27 Desember 2015.

7Adams, R. (2015). Before You Complain About Your Body, Think About This. Diakses melalui http://www.huffingtonpost.com/entry/before-you-complain-about-your-body-think-about-this_560e907fe4b0dd85030b9e8a tanggal 27 Desember 2015.

Featured Image Credit: knowmore.tv

%d bloggers like this: