Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun, tidak jujur itu sulit diperbaiki.

-Bung Hatta-

“Kok muka anak Bunda ketekuk gitu? Ada apa?”

“…”

“Ditanya kok diem aja?’’

“Nilaiku jelek, Nda.’’

“Tuhkan, jelek lagi. Kamu pasti nggak belajar kan? Klo nilamu jelek gitu nilainya gimana mau sukses?’’

Siapa diantara Ayah, Bunda yang masih melakukan seperti ilustrasi di atas? Atau justru Anda yang menjadi di posisi mendapatkan nilai jelek? Menurut Anda, apa salah satu sebab seseorang mendapatkan nilai jelek saat ujian?

Salah satu dugaan terbesar dari seseorang yang mendapatkan nilai jelek adalah kurangnya usaha dalam belajar mempersiapkan ujian. Kemungkinan lain yang menyebabkan seseorang kurang usahanya dalam mempersiapkan ujian adalah self-efficacy yang rendah. Lalu apa yang dimaksud dengan self-efficacy? Self-efficacy adalah penilaian tentang seberapa besar kemampuan seseorang dalam menghadapi suatu situasi. Self-efficacy berbeda dengan rasa percaya diri. Rasa percaya diri identik dengan perasaan merasa bisa tanpa sebelumnya menganalisis kemampuan diri sendiri. Bandura menganggap bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh self-efficacy yang dimiliki.[1] Seseorang yang kurang belajarnya dalam mempersiapkan ujian karena kurang percaya bahwa belajar akan membantunya dalam menghadapi ujian. Rasa tidak percaya tersebut merupakan pengaruh dari seseorang yang memiliki self-efficacy yang rendah.

Seseorang yang memiliki self-efficacy yang baik atau positif cenderung mengerjakan suatu tugas tertentu sebagai sebuah tantangan sekalipun tugas yang dikerjakan adalah tugas yang sulit. Berbeda dengan seseorang yang memiliki self-efficacy yang rendah, menghindari tugas yang sulit. Bagi seseorang yang memiliki self-efficacy yang tinggi dan baik memiliki komitmen untuk mencapai suatu tujuan dan berusaha keras untuk mencegah kegagalan. Meskipun begitu, ketika gagal mereka (red : orang yang memiliki self-efficacy tinggi dan baik) menganggap bahwa itu disebabkan kurangnya usaha, keterampilan dan pengetahuan mereka.

Salah satu faktor yang dapat membuat seseorang memiliki self efficacy yang baik adalah dukungan sosial yang diberikan dari lingkungannya. Sebuah penelitian mengatakan bahwa ada korelasi yang sangat signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan self-efficacy. Semakin tinggi dukungan sosial keluarga yang dimiliki oleh seseorang maka, semakin tinggi pula self-efficacy seseorang tersebut, begitu pula sebaliknya.[2]

Apa hubungannya self-efficacy dengan ujian?

Sebelumnya telah dibahas bahwa dukungan sosial mempengaruhi self-efficacy seseorang. Salah satu dukungan sosial yang dapat diberikan adalah informasi tentang kemampuan diri seseorang. Dalam menghadapi ujian, seseorang membutuhkan hal-hal yang membuat dirinya merasa percaya dengan kemampuan yang dimilikinya. Ayah, Bunda atau lingkungan sekitar bisa melakukannya dengan cara memberikan kalimat-kalimat yang membantu seperti,

Bunda lihat nilai ujian bahasamu kemarin bagus, Nak! Ujian kali ini usahakan lebih bagus lagi ya nilaimu

Anak Ayah hebat nih! Ujian kemarin nilai matematikanya sudah 70. Ujian kali ini anak Ayah pasti bisa meningkat nilai matematikanya

Tidak harus bagus nilai ujianmu karena jujur adalah hal yang paling penting. Walaupun Ayah dan Bunda akan lebih senang lagi jika nilai ujianmu bagus.

Ayah, Bunda… dukung aku ya!

Di masa-masa ujian seperti ini bantuan orangtua sangat dibutuhkan oleh seorang anak dalam menghadapi ujian. Tidak menuntut mereka untuk juara kelas. Tidak membebani mereka dengan harapan-harapan orangtua yang sebenarnya tidak sesuai dengan kemampuannya. Pemahaman orangtua yang baik tentang kemampuan anaknya dapat membantu mereka membentuk self-efficacy yang tinggi dan baik. Ujian bukan lagi sebuah beban apalagi ancaman bagi orang-orang yang self-efficacynya tinggi dan baik. Alangkah bahagianya jika dukungan dan orangtua memang sesuai dengan kemampuan si Anak. Ayah, Bunda doa dan dukung aku dalam ujian ya!


Sumber Data Tulisan

[1]Selanjutnya dapat dibaca pada jurnal psikologi dengan judul Efikasi Diri, Dukungan Sosial Keluarga dan Self Regulated Learning pada Siswa Kelas VIII oleh Nobelina Adicondro dan Alfi Purnamasari Universitas Ahmad Dahlan

[2]Selanjutnya dapat dibaca pada jurnal psikologi dengan judul Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Self-Efficacy pada Remaja di SMU Negeri 9 Yogyakarta oleh Niken Widanarti dan Aisah Indati Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Featured Image Credit: https://changeche.wordpress.com

Total
9
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

%d bloggers like this: