“Indikator pengasuhan sukses oleh orang tua bukanlah perilaku anak, melainkan perilaku orang tua.”

-Andy Smithson

Keluarga adalah lingkungan sosial yang paling pertama dikenal anak sejak ia lahir. Keluarga juga yang menjadi lingkungan terdekatnya. Tidak heran jika keluarga memainkan peran yang sangat penting dalam setiap tahap perkembangan anak. Namun peran seperti apa yang diberikan keluarga dalam perkembangan emosi anak?

Apa itu emosi?

Tentunya sebelum beranjak lebih jauh, kita harus memahami terlebih dahulu, hal apa yang disebut dengan emosi? John Santrock, dalam bukunya yang berjudul Life Span Development menjelaskan bahwa emosi adalah:

“sebuah perasaan atau afeksi yang muncul ketika seseorang berada dalam suatu situasi atau interaksi yang penting untuk dirinya, terutama berkaitan dengan kesejahteraan dirinya.”1

Demikian, maka jika berbicara mengenai contoh emosi, mungkin Anda bisa menghabiskan waktu yang tak sebentar untuk menyebutkannya. Belum lagi pembagiannya ke dalam mana yang emosi positif dan mana yang emosi negatif. Tapi, tahukah Anda, perkembangan emosi sudah dimulai bahkan sejak seorang anak masih dalam usia bayi?

Perkembangan Emosi

Jangan salah, meskipun bayi kemampuan komunikasinya masih sangat terbatas, tapi bayi juga sudah mulai memiliki kemampuan untuk menunjukkan emosi dasar. Emosi dasar ini disebut dengan emosi primer. Yang termasuk ke dalam emosi primer adalah rasa terkejut, rasa tertarik, senang, marah, sedih, takut dan jijik. Emosi dasar ini mulai berkembang sejak bayi berusia enam bulan. Dalam usaha menunjukkan emosinya, bayi biasanya mengekspresikan dengan cara yang sederhana seperti tersenyum dan menangis. Dalam perkembangannya, emosi anak dan pengaruh yang diterima dari sekitarnya sejak kecil akan mempengaruhi cara anak menghadapi emosinya sendiri di masa depan. Hal utama yang memberi pengaruh dalam perkembangan emosi anak, tentu hal terdekat di sekitarnya yang ia temui sejak ia lahir, keluarga.

Apa pengaruh keluarga terhadap perkembangan emosi anak?

Keluarga sebagai lingkungan yang paling dekat dengan anak tentu memainkan peran besar dalam kehidupan anak. Dalam penelitian terbaru, lingkungan keluarga seperti hubungan antara ibu dan anak menjadi bagian yang menentukan kemampuan anak untuk meregulasi emosinya. Kemampuan untuk meregulasi emosi ini di masa perkembangan anak yang selanjutnya akan mempengaruhi kemampuan anak mengontrol kecemasan diri dan kemampuan hubungan sosial anak2.

Selain itu, keharmonisan di dalam lingkungan keluarga terutama di dalam rumah (sebagai tempat interaksi sehari hari anak berlangsung) menjadi faktor utama dalam perkembangan emosi anak. Anak yang sering mendengar orang tuanya bertengkar akan sering mengalami kesulitan dalam interaksi bermainnya sehari-hari1. Sebaliknya, anak yang berada di lingkungan orang tua yang harmonis dan suportif cenderung mengabaikan hal hal negatif di sekitarnya dan lebih mudah bereaksi dengan hal yang lebih positif2.

Yang disebut di atas hanyalah sebagian kecil contoh pengaruh yang diberikan lingkungan keluarga terhadap perkembangan emosi anak. Contoh lain, orang tua yang sering membantu anaknya yang masih berusia dini untuk lebih mengenal emosinya, akan membuat anak lebih mudah mengekspresikan emosi dengan cara yang benar3. Misalnya, ketika orang tua mendampingi anak bermain, orang tua mendapati mainan anak direbut oleh teman bermainnya. Anak lalu menangis. Sikap orang tua yang mendampingi anak, lalu berusaha menghentikan tangis anak. Orang tua yang cukup bijak, tidak hanya akan memarahi anak lain untuk mengembalikan mainan namun juga  memberi pengertian kepada anak. Beri pengertian bahwa ketika mainan kita diambil memang sudah sepantasnya kita merasa sedih atau marah. Perasaan ini bisa diungkapkan dengan menangis atau melaporkan dengan orang dewasa yang mengawasi mereka bermain, bukan dengan berlaku kasar pada orang yang mengambil mainan itu. Dengan demikian, selain anak akan lebih mengenal emosi yang ia rasakan, anak juga akan mengetahui apa yang harus ia lakukan ketika ia mengalami emosi itu.

Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa menjadi orang tua adalah pekerjaan yang mudah. Banyak hal yang kemudian disadari membuat orang tua harus belajar, bukan kepada orang lain, tapi kepada anak sendiri. Orang tua tidak akan menjadi sosok “orang tua” jika bukan karena kehadiran anak. Anda mungkin bisa membaca banyak buku parenting, atau buku tentang pengasuhan orang tua. Namun, seringkah Anda mendapati diri Anda bingung ketika apa yang tertera di buku tetap tidak sesuai dengan yang Anda hadapi dengan anak Anda sehari hari? Sesungguhnya guru terbaik bagi orang tua adalah anak mereka sendiri. Apa yang anak rasakan, bagaimana emosi yang dialami anak, apa yang terjadi pada perkembangan berpikirnya, adalah dinamika dinamika yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan mendalam oleh sebuah buku.

Menyelami setiap perkembangan anak di masa emas pertumbuhannya menjadi suatu yang menarik untuk dilakukan. Anda sebagai orang tua tentu memiliki hak untuk melakukan apapun yang menurut Anda tepat untuk anak. Selain berpegangan pada buku dan pengalaman orang lain, tetap jangan lupakan anak anak Anda juga menjadi guru terpenting bagi Anda mendampingi pertumbuhannya.


Sumber Data Tulisan

  1. Pengertian dan hasil penelitian disadur dari buku kaya John W. Santrock yang berjudul Life Span Development, terbit tahun 2012.
  2. Hasil penelitian terbaru dikutip dari http://timesofindia.indiatimes.com/life-style/health-fitness/health-news/Family-environment-predicts-childrens-emotional-development/articleshow/51022909.cms
  3. Disadur dari Social and Personality Development karya David R. Shaffer

Image Source: zeenews.india.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

%d bloggers like this: