“He who knows himself knows his lord”

Manusia adalah makhluk yang selalu mencari. Pada masa remaja, pencarian itu dimulai dengan mempertanyakan “siapa saya?”  Lebih jauh lagi, remaja akan mulai mempertanyakan “siapa Tuhan?” sebagai salah satu mister yang ingin dipecahkan. Tidak mengenal diri sendiri, dan tidak mengenal keyakinannya, dapat menjebak seseorang dalam sebuah kebingungan identitas (identity confusion)1.

Sebenarnya bagaimanakah perkembangan pemahamaham agama dalam kepala manusia? Yuk kita pahami agar mampu mendidik agama dengan cara yang tepat sesuai dengan masa perkembangan anak-anak kita.

Menurut ahli psikologi dan teologi dari Amerika, James Fowler, perkembangan pemahaman agama pada seseorang dikelompokan menjadi enam tahap2. Perkembagan religius ini berfokus pada motivasi untuk menemukan makna hidup pada seseorang. Apa sajakah tahapannya?

gr1
www.magforwomen.com

 

Tahap 1: Iman intuitif-proyektif (masa kanak-kanak awal)

Balita belum mengenal konsep Tuhan dalam kepalanya. Namun, mereka mulai belajar untuk merasakan kehadiran orang-orang di dekatnya. Jika ia merasa aman dengan orang-orang di sekelilingnya. Maka ia akan mengembangkan gambaran intuitif mengenai hal-hal baik di dunia ini. Lama-kelamaan, ia akan mulai percaya dengan kebaikan yang bersifat tak terlihat seperti konsep Tuhan dan malaikat.

Maka dari itu, kita harus menjaga dan memberikan kasih sayang sepenuh hati kepada balita agar ia merasa aman di dunia ini dan percaya akan hal-hal baik. Jika anak sudah terbiasa dengan hal baik, maka penanaman kepercayaan dan nilai agama akan menjadi semakin mudah.

gr2
missionbibleclass.org

Tahap 2: Iman mistis-literal (masa kanak-kanak pertengahan dan akhir)

Ketika anak-anak mulai memasuki tahap perkembangan pikiran yang lebih konkret, mereka mulai bernalar lebih logis. Anak-anak usia sekolah menginterpretasikan kisah-kisah religius seperti adanya. Pandangan mereka mengenai Tuhan sangat menyerupai gambaran mereka mengenai orang tua yang memberikan hadiah untuk kebaikan yang dilakukan dan memberikan hukuman untuk keburukan yang dilakukan.

Pada tahapan ini, biasanya anak-anak membayangkan hal-hal yang berkaitan dengan agama dengan sangat nyata seperti membayangkan panasnya api neraka dan indahnya surga. Namun sebagai orangtua jangan hanya menjelaskan agama sebatas surga dan neraka saja ya. Orang-orang yang spiritualitasnya tinggi adalah orang-orang yang berbuat baik bukan hanya karena surga atau neraka, tapi karena mereka memang terbiasa dan selalu ingin berbuat baik. Yuk didik anak-anak kita agar mencintai agama dan berbuat baik bukan hanya karena mengejar surga atau menjauhi neraka.

gr3
www.macleans.ca

Tahap 3: Iman sintetis-konvensional (masa remaja)

             Seiring bertambahnya pengalaman, remaja mulai mengaitkan hal-hal yang ia alami dalam kehidupan dengan nilai-nilai agama atau keyakinannya. Di masa ini juga lah iman remaja akan Tuhan berkembang menjadi “sosok yang selalu hadir untukku”

Pada tahapan ini remaja semakin mengembangkan pengetahuannya akan agama. Ketika menilai suatu perbuatan, ia akan melihat benar-salah suatu perbuatan dari sudut pandang agama dan juga apakah perilaku itu membahayakan atau tidak. Tahapan ini belum memungkinkan remaja untuk mengevaluasi nilai-nilai agama yang dianutnya dan mereka cenderung patuh hanya pada ajaran-ajaran agama yang pernah diterimanya.

Karena remaja belum bisa berpikir kritis mengenai ajaran-ajaran agama, maka dari itu kita perlu menanamkan nilai-nilai yang baik. Jangan sampai ajaran-ajaran yang ekstrem mengotori pikiran mereka.

Baca juga: Spiritualitas dalam Disabilitas

gr4
www.youngadultministryinabox.com

Tahap 4: Iman individuatif-reflektif (masa dewasa awal)

Menurut Fowler, di tahap ini untuk pertama kalinya individu mampu sepenuhnya bertanggung jawab terhadap keyakinan religiusnya. Tahapan ini dikatakan juga berkaitan dengan manusia dewasa yang mulai mengatur hidupnya sendiri dan meninggalkan rumah orangtuanya. Pikiran kritis terlah berkembang di masa ini. Orang-orang dewasa mulai mempertanyakan “apakah doktrin agama yang diajarkan kepada saya itu benar atau adakah keyakinan yang lain yang harus saya ikuti?”

Menurut Fowler, pemikiran yang kritis ini juga berkaitan dengan pendidikan tinggi yang selalu mengajarkan mahasiswa untuk berpikir kritis. Kehidupan di kampus memiliki peranan penting dalam pembentukan iman pada tahapan ini.

gr5
blogs.uuworld.org

Tahap 5: Iman konjungtif (masa dewasa pertengahan)

Menurut Fowler, jumlah orang dewasa yang memasuki tahapan ini hanya sedikit. Tahapan ini lebih terbuka terhadap paradoks dan mengandung berbagai sudut pandang yang saling bertolak belakang. Keterbukaan ini beranjak dari kesadaran seseorang mengenai keterbatasan mereka akan ilmu agama. Di tahapan ini, manusia mulai sadar bahwa seorang manusia tak mungkin menguasai semua ilmu agama.

Disebutkan dalam bukunya, salah seorang perempuan yang berada di tahap ini mengungkapkan pemahaman religius yang kompleks sebagai berikut, “Tidak peduli apakah kamu menyebutnya sebagai Tuhan atau Yesus atau aliran Kosmik atau realitas atau Cinta, tidak peduli bagaimana Anda menyebutnya, Ia ada”

gr6
www.givebackourfreedom.com

Tahap 6: Iman universal (masa dewasa pertengahan ata masa dewasa akhir)

             Menurut Fowler, tahap tertinggi dari perkembangan religius melibatkan transendensi dari sistem keyakinan tertentu untuk mencapai penghayatan kesatuan dengan semua keberadaan dan komitmen untuk mengatasi berbagai rintangan yang memecahbelah orang-orang di planet ini. Peristiwa-peristiwa yang menimbulkan konflik tidak lagi dipandang sebagai paradoks. Menurut Fowler, hanya sedikit orang berhasil mencapai tahap perkembangan yang tertinggi dan sulit dipahami ini. Ada tiga contoh orang yag menurut Fowler berhasil mencapai tahap ini adalah Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Jr., dan Bunda Teresa.

Ketiga tokoh tersebut adalah contoh bagaimana seseorang mengkhayati nilai-nilai agamanya menjadi sebuah nilai universal yang mereka gunakan untuk membantu sesama manusia tanpa peduli identitas.

Dari penjabaran teori psikologi tersebut, mampukah kita mengevaluasi sudah sejauh mana perkembangan agama kita? Sudah seperti apa pengkhayatan nilai-nilai agama?


Sumber Data Tulisan

1. Santrock, John W. 2007. Adolescence, eleventh edition. Jakarta: Erlangga.
2. Fowler, J. (1981). Stages of Faith. Sans Fransisco: Harper & Row

Featured Image Credit: www.godisreal.today

By: Regisda Machdy

Profil:

Regisda Machdy adalah alumni Psikologi UGM yang aktif di kegiatan penelitian serta pengabdian masyarakat

 

%d bloggers like this: