Balas Dendam: Ketika “Maaf” Tidak Cukup Mengobati Luka Hati

“Mata dibalas mata hanya akan membuat seluruh dunia menjadi buta.”
– Mahatma Gandhi.

Seringkali kita merasa kecewa dan sakit hati atas tindakan yang dilakukan orang lain pada kita. Entah sebuah tindakan disengaja atau tidak, tetap saja terasa menyakitkan, bukan? “Memaafkan” nampaknya bukan sebuah kata yang menjadi pilihan untuk dilakukan. Ada keinginan lain yang lebih besar: keinginan untuk membalas perbuatan yang dilakukan orang itu. Keinginan untuk membalas dendam.

Kata “balas dendam” terdengar lebih familiar pada cerita fiksi atau film action yang biasa hadir di layar bioskop. Kata ini juga terasa begitu “jahat” dan sering dihubungkan dengan tindakan kekerasan yang merujuk pada kematian.
Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, balas dendam juga dapat terjadi.

Bagaimana sebenarnya balas dendam itu?

Berkenalan dengan luka

Perkenalkan, namanya adalah luka emosional. Keberadaannya sering diabaikan, sebab ia tidak tampak oleh mata. Jika luka fisik yang terlihat jelas menjadi penting untuk diobati, demikian halnya dengan luka secara emosional.
Ada banyak hal yang dapat memicu luka emosional seseorang. Mulai dari ejekan yang diberikan oleh orang sekitar hingga rahasia yang disebarluaskan oleh teman dekat. Contoh lain yang cukup menyakitkan adalah ketika kekasih mendua dengan orang lain.

Meski tidak tampak, luka emosional memiliki dampak yang besar terhadap kehidupan seseorang. Rasa sakit yang disebabkan oleh gangguan emosi lebih terasa dan lebih bertahan lama dibandingkan rasa sakit yang disebabkan oleh luka fisik. Bahkan, penyebab terbanyak seseorang melakukan bunuh diri adalah karena kesedihan dan depresi yang mendalam, bukan karena merasakan sakit secara fisik.

Ketika terluka, kita selalu mencari cara untuk memperbaiki perasaan.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan pembalasan, membalas dendam dan menghukum pihak yang dianggap bersalah. Harapan seperti, “Semoga dia mendapat balasannya.” Hingga “Awas saja, tunggu sampai dia merasakan hal ini juga.” Tentu pernah terbesit dalam pikiran ketika seseorang menyakiti kita.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa balas dendam dapat membuat seseorang merasa lebih baik. Hal ini dilakukan setelah mengukur kondisi emosi seseorang sebelum terluka dan setelah melakukan pembalasan dendam.

Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi emosi setelah melakukan balas dendam sama dengan mereka yang tidak merasa terluka secara emosi.

Secara sederhana, hasil penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Perasaan terluka ( Muncul emosi negatif ( Keinginan untuk membalas ( Kesempatan datang ( Melakukan balas dendam ( Kondisi emosi kembali normal seperti tidak pernah terjadi apapun.

Apakah dengan melakukan balas dendam, semuanya akan jauh lebih baik?

Pada dasarnya, insting untuk membalas dendam dimiliki oleh setiap orang. Tergantung bagaimana pengendalian diri dan kepribadian seseorang dalam menerima insting tersebut. Namun demikian, balas dendam merupakan bentuk self-destructive (menghancurkan diri sendiri).

Seringnya, balas dendam dilakukan dengan perbuatan yang jauh lebih kasar dan menyakitkan. Bukan tidak mungkin bila korban yang awalnya menjadi penyebab kita terluka secara emosional, akan melakukan pembalasan balik. Bukankah siklus seperti ini justru membuat kebencian dan perpecahan yang tidak akan ada habisnya?

Menerima adanya keinginan untuk membalas dendam adalah bentuk pengendalian diri

Semua orang tentu pernah terluka batinnya. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain untuk berbuat baik pada kita setiap saat. Terkadang ada tindakan yang dilakukan orang lain, baik disengaja maupun tidak, yang menyakiti perasaan kita. Maka dari itu, semua bergantung pada bagaimana diri kita menyikapinya.
Bayangkan jika semua orang berpikiran untuk melakukan pembalasan dendam. Dunia akan kacau dan dipenuhi dengan kebencian. Apakah itu hidup yang kita inginkan?

Barangkali, apa yang dikatakan Frank Sinatra itu benar. Bahwa “Balas dendam terbaik adalah dengan meraih keberhasilan besar.”

%d bloggers like this: