“Mengendalikan emosi, bukan dikendalikan emosi” (Anonim)

Pernahkah Anda merasa marah, sedih, kecewa, sakit hati, atau putus asa? Jika ya, lantas apa yang Anda lakukan saat itu? Tentu setiap orang mempunyai caranya sendiri dalam menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya. Cara menghadapi masalah ini ada yang bersifat baik dan ada pula yang bersifat destruktif atau menghancurkan.

Lalu, bagaimana cara yang baik untuk kesehatan jiwa dan raga Anda?

Dalam ilmu psikologi, terdapat mekanisme menghadapi masalah melalui pengalihan energi negatif ke dalam aktivitas yang lebih positif. Mekanisme itu disebut sublimasi. Sublimasi merupakan cara dalam menghadapi masalah dengan mencoba mentransfer energi negatif kepada aktivitas yang lebih positif atau aktivitas lain yang kurang berbahaya serta lebih diterima oleh norma yang berlaku.[1] Mekanisme ini seperti balas dendam, namun kepada sesuatu yang lebih positif. Lebih lanjut, aktivitas pengganti ini harus berupa aktivitas yang mampu memberi efek positif terhadap individu yang bersangkutan.[2]

Misalnya saat Anda merasa kesepian di rumah, Anda menyalurkannya dengan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Saat Anda merasa kecewa atas suatu prestasi, Anda dapat menyalurkan dengan meraih prestasi di bidang lainnya. Saat Anda marah, mungkin Anda bisa mencoba menyalurkan energi Anda dengan berolahraga atau beribadah.

Saat Anda sedang putus cinta, Anda dapat mengekspresikannya dengan menuliskannya menjadi puisi atau malah menjadi sebuah novel. Juga, saat Anda merasa gagal dalam satu bidang, Anda dapat mencoba memaksimalkan bidang lainnya serta banyak lainnya.

Sublimasi merupakan salah satu cara menghadapi masalah dengan positif. Bahkan, seorang psikiater dari Harvard Medical School, George E. Vaillant,  mengatakan bahwa cara ini adalah salah satu cara yang paling baik dan dewasa ketika menghadapi permasalahan.[3] Dengan cara ini, banyak orang berhasil mengubah energi negatif yang mereka miliki menjadi sesuatu yang lebih produktif.

Jika ditilik, terdapat beberapa manfaat melakukan “balas dendam sehat” ini. Di antaranya adalah Anda tidak perlu menekan emosi Anda yang malah akan berbahaya bagi kesehatan Anda. Orang yang melakukan sublimasi lebih sehat daripada yang menekan dan menyembunyikan perasaannya.

Selain itu, aktivitas Anda lebih diterima masyarakat dan seringkali sama sekali tidak menimbulkan kerugian, bahkan memberikan manfaat. Hal ini tentu menyelamatkan kita dari penyesalan terhadap aktivitas-aktivitas yang tidak kita harapkan terjadi. Manfaat lainnya, jika aktivitas Anda bersifat produktif, akan menghasilkan banyak manfaat yang bernilai materiil, atau bernilai seni, atau hal lainnya. Selain itu, sublimasi juga merupakan pemberian jeda terhadap emosi-emosi diri kita untuk kita pikirkan kembali bagaimana cara menghadapi masalah-masalah dalam hidup kita.[4]
Selamat mencoba!


Sumber data tulisan (sertaan daftar pustaka atau footnote)

[1] Diehl, M., Chui, H., Hay, E. L., Lumley, M. A., Grühn, D., & Labouvie-Vief, G. (2014). Change in coping and defense mechanisms across adulthood: Longitudinal findings in a European American sample. Developmental psychology50(2), 634.

2 https://www.psychologistworld.com/freud/defence-mechanisms-list.php

3 http://www.dailygood.org/story/573/what-are-the-secrets-to-a-happy-life-george-e-vaillant/

https://brainmass.com/psychology/abnormal-psychology/advantages-and-disadvantages-of-defense-mechanisms-166717

Sumber foto:

http://i2.wp.com/www.bethebro.com/wp-content/uploads/2015/05/angry-bro.jpg?resize=350%2C200

%d bloggers like this: