Benarkah Cinta Tak Pernah Tepat Waktu?

Umpamanya, saat ini Anda sedang duduk berhadapan di suatu kafe dengan seseorang yang sedang menjalin hubungan asmara dengan Anda. Anda bahagia karena tengah berada di depan kekasih Anda. Akan tetapi, tiga minggu kemudian, hubungan itu kandas. Anda mengklaim diri Anda sendiri sebagai orang yang patah hati. Sampai pada saatnya, Anda bertemu dengan orang lain dan Anda memilih untuk jatuh cinta lagi. Ternyata, orang lain itu bertanya kepada Anda, “Kamu pernah ke kafe dengan seseorang, ya?”. Anda tersontak dan membatin, “Cinta tak pernah datang tepat waktu.”

Cinta Melulu

Hampir semua manusia di dunia ini memiliki cinta. Namun, apakah datangnya cinta di setiap manusia itu selalu tepat waktu? Setiap dari kita mungkin saja akan menjawab, “Ya, cintaku tepat waktu, kok. Ibuku, ayahku, dan Tuhanku buktinya. Mereka selalu menjagaku. Hadir untukku. Maka, tentu saja, cintaku pasti tepat waktu.”. Meski begitu, penjelasan tentang tepat waktu barusan tidak menyatakan tentang kapan datangnya. Anda akan dibuat pusing memikirkan detail waktu datangnya.

Jika dipikir-pikir, cinta yang tak tepat waktu itu memang menyakitkan. Anda tak bisa memaksakan orang yang Anda cintai akan mencintai balik secara otomatis pada waktu itu juga. Alih-alih tidak dicintai balik, tidak jarang sebagian manusia justru ditolak atau ditinggal pergi. Klaim yang dipahami bukan sekadar ‘cinta tak pernah tepat waktu’, melainkan ‘cinta tak pernah datang padaku, kapan pun waktu itu.’

Cinta yang tak tepat waktu juga tidak selalu menyajikan kebahagiaan. Kasus perumpaan di awal paragraf ini bisa dijadikan pelajaran. Kita tidak bisa menebak apa jadinya jika ‘Anda’ melanjutkan kisah asmara dengan kekasih yang dulu. Boleh jadi, akan berkisah lebih sedih. Namun, bisa juga lebih bahagia. Tergantung dari barometer yang ‘Anda’ pakai. Begitu pula kita tidak bisa menebak apa kelanjutan dari kisah ‘Anda’ dengan kekasih yang sekarang dan sempat bertemu dengan ‘Anda’ pada waktu lampau.

Cintailah Cinta, Sekalipun Patah Hati Berkali-kali

Semua orang berhak jatuh cinta, berhak dicintai, dan yang kadang-kadang dilupakan: semua orang berhak patah hati. Jatuh cinta adalah proses, sebab kata ‘jatuh’ adalah kata kerja. Patah hati pun begitu: ia termasuk proses. Walau pun patah hati merupakan terjemahan dari kata ‘broken heart’, sebaiknya kita memaknai patah hati sebagai proses suatu peristiwa, bukan sekadar kondisi semata. Bersyukurlah jika Anda sedang patah hati. Dengan patah hati, setidaknya kita bisa mengevaluasi diri agar suatu saat nanti kita sanggup belajar mencintai dengan mengacu pada peristiwa patah hati.

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati.
Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya.
Mereka tahu apa yang mereka cari.
Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.

Kutipan di atas merupakan sajak ‘Menikmati Akhir Pekan’ karya Aan Mansyur.

Salah satu cara agar Anda tidak berlarut dalam patah hati Anda adalah dengan benar-benar bersiap diri untuk mencintai dan dicintai. Jika Anda masih sendiri dan belum siap dengan segala tanggung jawab perkara cinta, jangan main-main dengan cinta. Mari nikmati waktu kesendirian itu. Berkawanlah dengan sebanyak-banyak kawan. Tersenyumlah dengan setulus-tulusnya senyum. Kelak nanti, jika ada seseorang yang tertambat hatinya pada Anda, Anda berhak memilih: menjadikannya sebagai kekasih saat itu juga atau menjadikannya sebagai kekasih di lain waktu.

Sebuah Jawaban

Jadi, apa jawaban dari judul tulisan ini? Benarkah cinta tak pernah tepat waktu?

Jawabannya kurang lebih bisa dipahami berdasarkan kelanjutan kisah perumpaan yang tertulis di paragraf pertama tulisan ini.

Umpamanya, Anda menyambut orang lain itu dengan sungguh-sungguh. Terjalinlah kisah cinta yang baru. Berminggu-minggu dan berbulan-bulan, Anda jalani waktu bersama kekasih baru itu sebagaimana hubungan cinta pada umumnya: pergi ke pantai, pergi ke bioskop, atau pergi ke pameran seni. Sampai pada titik kebosanan di hati kekasih Anda, Anda berpisah dengannya. Anda mencoba merasa biasa-biasa saja. Sayangnya, tidak bisa. Mantan Anda tahu Anda telah berpisah sehingga ia datang dan berupaya mengobati kepiluan hati Anda. Anda seolah merasa siap untuk jatuh cinta lagi. Tanpa basa-basi, terlontarlah kalimat dari mantan Anda, “Kapan itu, aku melihatmu di pantai dengannya. Aku juga pernah melihatmu nonton film bareng dia. Ah, mengingat masa lalumu dengannya hanya membuatmu makin berlarut dalam sedih. Bagaimana kalau kita kembali saling mencinta? Syaratnya: berikrar suci di KUA.”

Saya rasa, Anda berani membatin, “Cinta memang tak pernah tepat waktu.”. Mungkin, itu jawaban dari judul tulisan ini.

Salam cinta!

_______

Catatan: judul tulisan ini dipengaruhi oleh novel ‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’ karya Puthut EA.

Penulis:
Ananda Sevma
Sarjana Psikologi UGM yang gemar membaca dan menulis hal-hal sedih dan hal-hal bahagia

Total
30
Shares
%d bloggers like this: