CURHAT: Orangtua Saya Sering Menuduh, Membohongi dan Membandingkan Saya dengan Orang Lain

Curhat

Saya lahir dari orang tua yang cukup keras namun kurang disiplin. Semua anak dari orang tua kami tumbuh dengan kebiasaan suka berteriak ketika berbicara. Orang tua saya sering lebih membenarkan apa yg mereka lakukan atau bicarakan daripada mendengar pendapat kami. Jikapun tidak, kebiasaan berbicara menggunakan yang menyudutkan membuat saya ciut untuk berbicara kemudian. Namun saya masih sempat mendapat pendidikan dari nenek dan tante yang mana mereka tegas dan disiplin. Saya merasa itu yang membuat saya jauh lebih bisa menghormati orang lain tapi susah kepada orang tua sendiri.

Akan tetapi, itu berbeda dengan adik-adik saya yang mana mereka cenderung lebih dimanjakan. Itu menurut saya, karena saya mengalami ketika kondisi finansial keluarga sama belum stabil seperti sekarang yang mana membuat saya jauh lebih bisa me-manage keperluan pribadi. Saya pernah menginginkan adik saya untuk melanjutkan sekolah di asrama juga, awalnya orang tua berkata ‘ya’ tapi pada akhirnya ‘tidak’ mereka lakukan dengan berbagai alasan. Kami sering beradu argumen, terutama dengan ibu. Saya juga sebenarnya tidak ingin terlalu keras kepada orang tua saya sendiri, tapi mereka memaksa saya melakukannya karena saya sudah tidak tahan hampir selama 20 tahun ini memendam semuanya sendiri.

Kebiasaan kedua orang tua saya memojokkan saya, menuduh saya, membohongi saya membuat saya merasa jauh dari mereka. Itu sebabnya saya tidak betah lama-lama berada di rumah ketika liburan, hal itu juga membuat saya sering membandingkan dengan yang lain, tapi saya masih sering mengingatkan pada diri saya sendiri kalau itu salah. Saya ingin tahu, kiranya apa yang bisa membuat kondisi ini menjadi lebih baik untuk saya dan keluarga saya. Mohon bantuannya

Gambaran: Perempuan, 19 tahun, Mahasiswa

Jawaban Pijar Psikologi:

Terima kasih atas kepercayaannya untuk bercerita di Pijar Psikologi.

Ketika saya membaca tulisan kamu, saya memiliki gambaran bahwa kamu merupakan pribadi yang matang dan cukup dewasa ya. Kamu memiliki pertimbangan ketika mengajukan pendapat kepada orang tua dan pertimbangan dalam memutuskan segala sesuatunya untuk diri kamu sendiri. Saya mengapresiasi usaha kamu berbagi dengan kami, Pijar Psikologi untuk mengatasi permasalahan keluarga. Usaha kamu selama ini hebat dan berani, jangan berhenti optimis dan teruslah bersemangat ​☺

Saya memahami rasanya berada pada situasi kamu yang berharap orang tua mau mendengarkan suara anak dan bersikap demokratis. Sebagai anak pertama yang beranjak dewasa dan sudah mengetahui benar-salah, rasanya kita memiliki kewajiban untuk meluruskan apa yang sudah menjadi kebiasaan yang salah dan demi kebaikan keluarga. Saya juga memahami perasaan kecewa kamu ketika orang tua menolak semua usahamu dengan sikap yang sekiranya kasar. Hal itu menyebabkan hingga hubungan kamu dengan orang tua sekarang menjadi jauh.

Membandingkan hidup dengan orang lain tidak sepenuhnya salah, yang salah ketika terlalu lama melihat ke atas. Bandingkan hidup orang lain dengan tujuan belajar dan bersyukur. Belajar untuk meningkatkan kualitas diri dan mensyukuri bahwa banyaknya masalah ternyata ada banyak hal positif.

Cobalah ketika menyampaikan pendapat kepada orang tua untuk tidak langsung menyampaikan idenya, karena orang tua mungkin sudah memiliki keputusan sendiri. Ajaklah orang tua ikut berpikir supaya lebih mudah memahami kamu. Mulailah dengan pertimbangan-pertimbangan kamu terlebih dahulu. Contohnya saat persoalan sekolah adik. Sampaikan kepada orang tua bagaimana karakter adik (seperti: kurang bisa mengelola uang, kurang mandiri selama di rumah, dll), lalu pertimbangan-pertimbangan atau harapan (seperti: sewaktu kamu seumur adik bisa A, B, C, dll), setelah itu pendapat kamu bahwa adik lebih baik masuk sekolah asrama.

Kebiasaan berteriak ketika berbicara yang saya pahami merupakan tanda individu yang sangat ingin didengarkan. Mungkin bisa meminta kepada orang tua untuk berbicara lembut dan pelan serta yakinkan kepada orang tua bahwa kamu lebih mendengarkan bila orang tua berbicara dengan lembut. Usaha ini perlu disampaikan berulang-ulang karena berteriak sudah menjadi kebiasaan sehingga orang tua butuh bantuan kamu berulang kali pula untuk membentuk kebiasaan baru yaitu berbicara dengan lembut. Paling utama kamu pun perlu menjadi contoh orang tua dan adik untuk berbicara lembut ​☺ bila saat-saat tertentu kamu merasa berat, kamu bisa meminta bantuan Nenek dan Tante. Terkadang individu lebih mudah melunak dengan orang yang disegani dan dihormati. Sampaikan harapan kamu untuk kebaikan keluarga kepada nenek dan tante.

Selanjutnya yuk kita bersama-sama belajar memaafkan dan memahami orang tua. Ketiadaan orang tua tidak serta merta membuat hidup kita jauh lebih baik bukan? Bagaimanapun orang tua ingin melakukan yang terbaik kepada anaknya, meskipun terkadang caranya yang keliru. Memahami bukan berarti memaklumi semua caranya tetapi mengerti keinginan orang tua yang ingin terbaik untuk anaknya. Bila caranya salah, maka yakinkan orang tua cara yang benar. Tidak ada yang salah juga kamu menyampaikan perasaanmu dan harapanmu kepada orang tua, tetapi selalu ingat dengan cara yang benar, sopan dan lembut supaya hati orang tua terbuka. Ketukan pintu yang keras membuat tuan rumah enggan membuka pintu bukan?

Apabila kamu membutuhkan dukungan dan penguatan silahkan kamu mendatangi profesional, semisal psikolog di Rumah Sakit terdekat. Saya yakin kamu lebih mampu mengatasi persoalan ini daripada orang lain karena Tuhan tidak akan menimpakan ujian kepada sembarang orang. Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan, semoga cukup membantu. Terima kasih kepercayaan kamu untuk berbagi dengan kami. Semoga kebahagiaan selalu menyertai dirimu beserta keluarga ​☺

 

Terima kasih telah berbagi

Salam,

Pijar Psikologi

Pijar Psikologi

Pijar Psikologi adalah media non-profit yang menyediakan informasi kesehatan mental di Indonesia.

Previous
Previous

Cara Sederhana Mengurangi Kecanduan Internet

Next
Next

Merasakan dan Mengenal Rasa Cemburu