Ibu, Aku Ingin Lebih Mengenalmu

Menjadi Ibu adalah sebuah hal yang berharga. Ibu adalah guru pertama bagi kita, sumber kehidupan dan pemberi inspirasi kepada kita untuk berkontribusi dalam setiap lini kehidupan kita. Saat kita sakit, Ibu adalah orang pertama yang akan merawat dan memperhatikan kebutuhan kita. Bahkan saat kita sedang sedih, ia akan menjadi orang yang memberikan tangan dan bahunya demi sebuah pelukan hangat dan menenangkan.

Everything She Have is Ours

Menjadi seorang Ibu berarti bahwa hidupnya tak lagi menjadi miliknya seorang diri. Ia punya suami, anak dan keluarganya. Tak jarang ia harus merelakan dan menunda mimpi-mimpinya demi melayani dan menyokong kehidupan keluarga, terlebih untuk anak-anaknya.

Kenali Ibu Lebih Dekat Lagi

Ibu juga pernah menjadi seperti kita. Ia pernah mengalami masa kecil dimana ia menjadi seorang anak yang manja dan ingin selalu diperhatikan. Ia juga pernah menjadi remaja yang sedang mengenal rasa jatuh cinta. Mendengarkan dan mengetahui cerita tentang masa-masa kecil Ibu akan membantu kita mengenal lebih dekat dan memiliki kedekatan dengan ibu dan juga keluarga besarnya. Bahkan, mengenali Ibu lewat cerita-cerita di masa kecilnya akan membantu remaja lebih mampu dan adaptif untuk melewati masalah dalam transisi kehidupan remaja ke dewasa.

Ibu Juga Perlu Bahagia

Seperti kita, Ibu juga perlu “ruangnya sendiri untuk bernafas”. Bayangkan saja bagaimana berat dan sibuknya tugas seorang Ibu. Ia tak hanya menjaga dirinya sendiri, ia harus menjaga dan memenuhi kebutuhan anak-anak dan keluarganya. Hasil penelitian pada para Ibu di Amerika Serikat menyatakan bahwa ternyata para Ibu memiliki kecenderungan dan resiko yang lebih besar untuk mengalami burnout. Ibu yang bekerja juga beresiko lebih besar untuk mengalami depresi. Maka dari itu, setiap Ibu harus mewujudkan kebahagiannya masing-masing. Hal ini bisa diatasi dengan memperbanyak waktu diskusi bersama teman-temannya. Peer-support antar Ibu bisa menjadi ajang untuk saling berbagi dan menemukan passion-nya. Dorong dan berikan waktu untuk Ibu kita agar mereka bisa punya dunianya sendiri.

Tak Ada Ibu yang Sempurna

Setiap manusia memiliki masa lalu dan (mungkin) traumanya masing-masing. Begitu pula Ibu kita. Terkadang trauma dan pengalaman masa lalunya masih terbawa hingga kini. Bila kita pernah merasa sangat jengkel dengan cara ibu menasehati atau ibu yang memberikan aturan-aturan bagi anaknya, bisa saja itu adalah manifestasi dari masa lalunya. Bukan berarti Ibu tidak mencintai kita. Cobalah untuk menerima dan memaafkan hal-hal atau kesalaha yang pernah Ibu kita lakukan. Percayalah, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk kita, anak-anaknya.

Para Ibu selalu memiliki tempat untuk menampung duka, mengecupnya, lalu bangkit – Helvy Tiana Rosa

Isnaini Rahmawati

Perempuan yang sedang belajar. Belajar tentang hidup, belajar untuk hidup, dan belajar untuk menghidupkan.


Previous
Previous

CURHAT: Saya Tidak Percaya Diri untuk Melamar Kekasih Hati

Next
Next

Mengapa Kita Butuh Sebuah Pelukan?