Mengobati Rasa Takut

unsplash-image-j8a-TEakg78.jpg
Satu-satunya hal yang harus kita takutkan adalah rasa takut itu sendiri.
— Franklin Delano Roosevelt, Presiden AS

Rasa Takut Bukan Kelemahan

Konon, para pahlawan, pendekar sakti, atau pangeran berkuda putih kerap digambarkan sebagai sosok perkasa yang tak kenal rasa takut. Selama berabad-abad, kita mengamini ide bahwa rasa takut adalah suatu kelemahan alih-alih sesuatu yang wajar.

Nyatanya, rasa takut adalah emosi yang sangat manusiawi—bahkan hewani. Rasa takut dihasilkan oleh bagian kecil otak bernama amigdala sebagai respon primitif terhadap ancaman. Dengan memiliki rasa takut, kita otomatis akan berusaha mencari cara untuk mempertahankan diri dan bertahan hidup. Singkatnya, ribuan tahun evolusi mengajarkan spesies manusia untuk menghindar dari kepunahan.

Bagaimanapun, rasa takut itu sendiri bisa jadi sangat menakutkan ketika datang secara ekstrem. Bagi orang-orang yang mengalami fobia alias ketakutan berlebihan terhadap suatu hal, rasa takut bisa mengganggu kenyamanan, menyulitkan kehidupan sehari-hari, bahkan mengancam nyawa. Jadi, sangat wajar ketika mereka bertanya-tanya apakah kondisi mereka bisa disembuhkan.

Rasa Takut Bisa Diatasi

Sejauh ini, para pakar serta peneliti saraf dan psikologi sepakat bahwa cara paling efektif untuk menangani rasa takut adalah dengan menghadapkan seseorang secara langsung dengan hal yang paling ia takuti. Obat-obatan hanya berfungsi untuk meredam efek psikis dan fisik yang diakibatkan oleh fobia, bukan menghilangkan rasa takut itu sendiri.

Persepsi atau cara pandang kita terhadap sesuatu sangat berpengaruh dengan rasa takut yang akan kita alami. Melalui beberapa penelitian, orang-orang dengan akrofobia atau ketakutan pada ketinggian terbukti melihat bidang vertikal lebih tinggi dari kebanyakan orang. Untuk itu, sejak awal kita bisa mencoba untuk mengubah cara pandang terhadap hal yang paling ditakutkan. Kita bisa memulai dengan berhenti membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk secara berlebihan.

Dengan bantuan psikiater, seseorang dengan fobia juga bisa mulai menjalani terapi. CBT (Cognitive Behavioral Therapy) misalnya, membantu pasien melalui konseling untuk mengeksplorasi perasaan, pikiran dan sikap terhadap hal yang ditakutkan. Dari sini, pasien belajar untuk mengenali sumber rasa takut dan pelan-pelan menghadapinya. Flooding treatment menghadapkan pasien pada kondisi yang ditakuti hingga serangan panik yang dialami mereda perlahan-lahan.

Melenyapkan Rasa Takut

Pada kenyataannya, butuh waktu dan terapi yang intens untuk menangani kasus fobia berat. Hal ini terjadi karena terapi pada prinsipnya hanya memperbandingkan dua emosi berbeda dari pemicu yang sama.

Bagaimanapun, penelitian yang baru-baru ini dilakukan secara terpisah oleh tim Thomas Ågren dari Universitas Uppsala dan Daniella Schiller dari Universitas New York menunjukkan hasil awal yang menjanjikan: rasa takut ternyata bisa dilenyapkan sama sekali.

Masih ingat salah satu adegan film animasi Inside Out dimana memori yang awalnya bahagia bisa diingat kembali sebagai memori yang menyedihkan? Saat mengingat sebuah memori, otak kita mengalami proses perombakan emosi. Akibatnya, perasaan yang muncul pada saat itu ditentukan oleh bagaimana terakhir kali memori tersebut kita ingat.

Dengan memanipulasi proses ini, rasa takut nantinya bisa dihilangkan sama sekali dari memori tertentu. Hanya saja, satu-satunya cara untuk bisa memanipulasi ingatan tentunya dengan terlebih dahulu mengingat setiap detail memori tersebut secara keseluruhan. Sudah sewajarnya kita menghindari hal yang kita takuti, tapi hanya dengan berani menghadapi maka kita punya kesempatan untuk menaklukkan ketakutan yang kita alami.

—-

Sumber Data Tulisan

1. .Agren, J.Engman, A.Frick, J.Bjorkstrand,E.M.Larsson, T.Furmark, M.Fredrikson. Disruption of Reconcilidation Erases a Fear Memory Trace in the Human Amygdala. Science, 2012; 337 (6101):1550 DOI: 10.1126/science.1223006” dalam Uppsala University. “Fear can be erased from the brain, research shows.” ScienceDaily. ScienceDaily, 20 September 2012. www.sciencedaily.com/releases/2012/09/120920141155.htm

2. Lametti, Daniel. “How to Erase Fear in Humans.” Scientific American. Scientific American, 23 March 2010. www.scientificamerican.com/article/how-to-erase-fear-in-humans/

3. Lourenco, Stella F. et al. Near Space and Its Relation to Claustrophobic Fear. Cognition 119, 7 February 2011; 448-453. www.elsevier.com/locate/COGNIT

Previous
Previous

Moebious Syndrome: Penyakit Langka Terkait Ekspresi Wajah

Next
Next

Menyaksikan Perjuangan Seorang Agorafobia di Dunia Luar