Menonton Pertandingan Olahraga: Antara Kebahagiaan dan Keagresifan

unsplash-image-g9SNY0aLMF0.jpg

Pertandingan olahraga selalu menjadi hal yang dinantikan bagi fans. Tak terkecuali pada perhelatan Asian Games 2018 yang tengah berlangsung saat ini. Masyarakat Indonesia dan dunia beramai-ramai menyemarakkan acara tersebut. Mulai dari memberikan dukungan lewat media sosial, hingga menonton pertandingan secara langsung.

Saat menonton pertandingan olahraga, tak jarang fans akan melakukan hal-hal “unik”. Misalnya, menggunakan atribut mulai dari kaus, topi, hingga syal dan dandanan yang menjadi ciri khas tim favoritnya. Bagi fans yang tidak dapat menonton secara langsung, mereka biasanya akan bersama-sama menonton siaran langsung di televisi. Hal ini bisa dilakukan hingga tengah malam atau pagi buta.

Rasa Kepemilikan Terhadap Tim

Tak jarang kita melihat seseorang yang membanggakan tim olahraga favoritnya ketika mereka menang. Sorak- sorai kemenangan, hingga pawai ketika tim kesayangan menang biasa kita dapati pada fans sebuah tim olahraga. Perilaku ini terjadi karena adanya rasa kepemilikan terhadap suatu tim. Ketika tim favorit menang, selain merasakan kebanggaan terhadap tim favoritnya, perasaan positif terhadap diri sendiri juga akan meningkat.

Perubahan perilaku para fans juga bisa kita temukan saat tim kesayangan kalah dalam sebuah pertandingan. Perasaan kecewa yang dilampiaskan dengan kemarahan kepada lawan main hingga melakukan cemooh kepada fans merupakan contoh dari kekecewaan yang dialami.

Rasa kepemilikan terhadap suatu tim didasari oleh keinginan untuk menjadi bagian dari suatu hal. Keinginan ini didasari oleh kebutuhan untuk menjalin suatu hubungan interpersonal yang stabil. Saat seseorang menjadi bagian dari fans suatu tim, dia akan menjadi bagian dari suatu kelompok. Hal ini memungkinkan interaksi yang intens dengan fans lain dari tim favoritnya. Interaksi yang intens tersebut akan makin menguatkan rasa kepemilikan terhadap tim.

Meningkatkan Kebahagiaan

Saat menonton tim favorit menang, maka fans cenderung merasa senang, dan perasaan akan menjadi lebih baik. Pada fans, perasaan bahagia tersebut terjadi karena hormon dopamin yang ada di dalam otak meningkat saat menonton pertandingan olahraga. Hormon dopamin merupakan hormon yang berpengaruh pada motivasi, perasaan senang, dan rasa percaya diri.  Perasaan bahagia juga dapat muncul saat melihat fans dari tim yang sama merayakan euforia kemenangan. Identitas kelompok yang sama menyebabkan kita mudah merasakan emosi bahagia yang dibawakan oleh orang tersebut.

Kebahagiaan yang muncul karena kemenangan tim favorit dapat pula meningkatkan kepercayaan diri. Saat melihat tim yang kita dukung menang dalam pertandingan, kita merasa menjadi bagian dari kemenangan yang diraih oleh tim tersebut. Kepercayaan diri yang muncul ini berbanding lurus dengan peningkatan perasaan bahagia.

Perasaan bahagia tidak hanya ditimbulkan karena kemenangan dari tim favorit. Berkumpul dengan sesama fans dari tim favorit dan meluapkan berbagai emosi saat pertandingan berlangsung juga membuat kita merasa lebih bahagia.

Larut dalam Kekalahan

Tidak hanya kemenangan, kekalahan yang dialami oleh tim favorit juga membawa dampak secara emosional terhadap fans. Saat menggemari suatu tim, fans akan mengidentikkan diri dengan kondisi tim tersebut. Saat tim menang, fans seakan turut mengalami kemenangan tersebut.

Begitupun saat mengalami kekalahan, fans akan merasakan secara emosional kekalahan yang dialami oleh tim. Bahkan perasaan sedih yang mereka alami, akan bertahan selama beberapa waktu. Kekalahan tersebut seakan terjadi pada diri hingga memengaruhi diri mereka. Dalam beberapa kasus, ketika tim kalah, fans juga akan mengalami penurunan nafsu makan.

Agresivitas yang Tak Disadari

Saat menonton pertandingan olahraga, tak jarang kita jumpai penonton yang sangat terlarut dalam pertandingan. Berteriak dan mengumpat, kendati terlihat “kasar”, namun merupakan hal yang biasa dijumpai. Hal ini seakan wajar pada penonton pertandingan olahraga. Perilaku “kasar” tersebut terjadi karena efek naiknya hormon testoteron. Saat hormon testoteron naik, perilaku yang berkaitan dengan harga diri akan meningkat. Perilaku kompetitif merupakan salah satu contohnya. Kompetisi antar dua tim menyebabkan ketegangan, dan bisa berujung pada umpatan atau teriakan ketika permainan tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan. Perilaku ini juga dapat muncul ketika tim lawan bertindak “curang” sehingga agresivitas pun tak dapat dihindari. Ketika perilaku agresif muncul, tak jarang kekerasan pun terjadi. Fans fanatik yang tidak dapat menerima kekalahan dari tim favoritnya dapat melampiaskan kekecewaannya dengan melakukan tindakan agresif seperti merusak fasilitas umum atau menyerang fans dari tim lain.

Menjadikan aktivitas menonton olahraga sebagai salah satu kegiatan yang dapat mendatangkan kebahagiaan merupakan hal yang wajar. Nyatanya aktivitas tersebut banyak mendatangkan keuntungan. Namun fans perlu menghindari agresivitas berlebihan yang dapat merusak fasilitas umum atau menimbulkan korban jiwa agar aktivitas sebagai penggemar olahraga tidak merugikan orang lain.

Previous
Previous

CURHAT: Saya Ingin Terbebas dari Pacar yang Sering Mengintimidasi Saya dan Keluarga

Next
Next

Cara Sederhana Mengurangi Kecanduan Internet