(Bukan) Cara Belajar Psikotes

Seingin apa pun kamu sama doi, jangan coba menipu dia demi mendapatkan hatinya.

Kalau Anda baca artikel ini, ada dua kemungkinan:
Anda degree seeker, atau Anda job seeker.

Mau tahu caranya belajar psikotes? Agar Anda tidak kecewa membaca lanjutan tulisan ini, saya beritahu dari sekarang bahwa psikotes bukan untuk dipelajari. Kenapa? Mari kita mulai dari hal yang paling mendasar.

Apa itu psikotes?

Psikotes (atau lebih formal disebut Tes Psikologi) merupakan tes yang disusun dengan metode ilmiah untuk mengungkap properti psikologis seseorang. Tes ini bisa mengungkap kepribadian, sifat tertentu, sampai ke kondisi psikologis, tergantung dari tujuan penyusunan tes psikologi itu sendiri. Hasilnya pun beragam, ada yang menghasilkan skor angka dan ada pula yang menghasilkan penilaian naratif.

Apa gunanya Psikotes?

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, psikotes digunakan untuk mengungkap hal-hal yang tidak kelihatan. Dengan menggunakan tes psikologi sebagai alat, seorang perekrut dapat melihat apakah kandidat yang dihadapi memenuhi kriteria sifat yang diharapkan. Akan tetapi, tentu kita semua ingin bisa memenuhi harapan perekrut agar diterima bukan?

Saya akan coba arahkan pembicaraan kita ke konteks rekrutmen karyawan. Kriteria yang diharapkan dari seorang kandidat bukan sekadar soal kemampuan, tetapi juga ketepatan. Contohnya, perekrut akan memilih orang yang resilien dan mandiri bila akan menempatkan kandidat di lokasi yang berada di pelosok.

Tahukah Anda berapa biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan satu karyawan baru? Estimasi biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan satu karyawan baru berkisar antara 15-50 juta rupiah per karyawan. Sementara salah satu penyebab utama seseorang keluar dari pekerjaan adalah ketidakcocokan karyawan dengan tempat kerja. Bisa dibayangkan berapa kerugian perusahaan bila mendapatkan orang yang tidak tepat. Karena itu digunakanlah berbagai alat termasuk psikotes untuk menemukan orang yang tepat di posisi yang dibutuhkan.

Itu kan dari sisi perusahaan. Kenapa saya harus peduli?

Kecocokan tidak hanya punya dampak terhadap perusahaan, tetapi juga bagi karyawan itu sendiri. Karyawan yang merasa tidak cocok dengan pekerjaannya otomatis akan merasa tidak bahagia. Tidak bahagia bisa berdampak kepada produktivitas, sampai dengan kesehatan mental karyawan. Hal ini akan berdampak negatif baik bagi perusahaan maupun karyawan. Perusahaan tidak dapat mencapai target dengan maksimal, dan karyawan tidak dapat memaksimalkan potensi dan mengembangkan diri. Sesungguhnya psikotes digunakan sekaligus untuk menyelamatkan diri kandidat itu sendiri: menghindarkan kandidat dari posisi yang mungkin akan menghambat perkembangan diri.

Kita juga harus menyadari bahwa psikotes ada bukan hanya untuk menyelamatkan perusahaan dari kerugian akibat karyawan resign. Tes psikologi dalam rekrutmen ada juga untuk menyelamatkan diri kita dari tempat yang kurang tepat dan menghambat perkembangan.

Karena itu, jangan coba-coba belajar ataupun menipu psikotes. Psikotes ada demi kebaikan Anda sendiri. Bila pada rekrutmen berikutnya Anda gagal, ingatlah mungkin ada tempat yang lebih baik bagi Anda untuk berkembang.

Kerja itu untuk hidup, bukan hidup untuk kerja. Mencari hidup sama saja seperti mencari pasangan; seingin apa pun kamu sama doi, jangan coba menipu dia demi mendapatkan hatinya.

Total
46
Shares
%d bloggers like this: