Cherophobia: Mereka yang Takut Berbahagia

Kebahagiaan menjadi tujuan akhir semua orang dalam hidup. Oleh karena itu, manusia selalu berusaha menghindari kegagalan, kehilangan, kesepian, dan keterpurukan. Semua cara kita lakukan menurut keinginan kita agar terhindar dari ketidakbahagiaan. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa ada orang-orang yang justru menghindari perasaan bahagia?

Cherophobia adalah sebutan bagi orang-orang yang merasa takut untuk bahagia. Ketika seseorang mengalami cherophobia, dirinya akan cenderung menjauhi segala aktivitas yang berhubungan dengan hal yang menyenangkan. Di sisi lain,  seseorang dengan cherophobia juga  bukanlah sosok individu yang selalu bersedih. Mereka hanya tidak ingin terlibat dalam kegiatan yang dapat menimbulkan emosi positif atau rasa bahagia yang mendalam.

Bahagia Berujung Duka

Peter Lambrou Ph.D. menceritakan kisah mengenai kliennya bernama Sarah. Sarah mengatakan bahwa dirinya takut untuk benar-benar merasa bahagia. Menurut Sarah, selama hidupnya ketika dirinya merasakan kegembiraan, ada saja hal mengecewakan dan menyakitkan yang ikut menghampiri.

Sarah menyorot kembali pengalamannya saat berada di kelas 6. Pada saat itu Sarah baru saja kembali dari perkemahan yang begitu asik dan menyenangkan. Tiba-tiba, Sarah mengetahui neneknya, yang adalah orang terdekat baginya, telah jatuh sakit dan meninggal sore itu. Bagi Sarah, itulah pengalaman pertamanya merasakan bahwa dalam satu hari bisa dimulai dengan kebahagiaan dan berakhir dengan duka mendalam.

Sarah mengakui bahwa tidak semua hari yang baik akan diakhir dengan kejadian buruk. Akan tetapi, Sarah meyakini sudah cukup banyak kejadian yang mengajarkannya bahwa setiap dirinya telah merasa penuh suka cita, pasti akan ada kejadian tidak menyenangkan yang merusaknya. Peristiwa berkemah yang penuh kegembiraan diikuti berita duka mengenai nenek meninggal membuat Sarah merasa bersalah atas kebahagiaan yang dialaminya. Sarah terjebak dalam kebingungan untuk memberikan ekspresi emosi yang tepat atas dua kejadian yang sangat bertolak belakang.

Membaca kisah Sarah, pernahkah Anda merasakan apa yang dialaminya? Pernahkah Anda terjebak dalam suatu hal? Mari coba analogikan kisah Sarah dengan perumpamaan terjebak. Contohnya, saat tersesat mencari lokasi tujuan di daerah yang belum pernah Anda lewati karena memilih arah jalan yang salah. Apa yang Anda rasakan pertama kali? Perasan gelisah tentunya menghampiri kita saat tersesat. Lalu, bagaimana dengan isi pikiran kita? Tentunya kebingungan menghampiri karena kita tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Perasaan gelisah dan pikiran yang bingung tersebut adalah gambaran orang-orang yang terjebak dalam ketidakbahagiaan. Ketika merasa terjebak, orang dengan cherophobia mulai mengasosiasikan perasaan bahagia dengan rasa bersalah. Mereka merasa bersalah apabila merasa senang sedangkan masih terpendam banyak ketidakbahagiaan dalam benak mereka. Ketidakbahagiaan membuat mereka sulit menerima rasa bahagia.

Apa yang Dialami Orang Cherophobia?

Istilah cherophobia mungkin masih kurang familiar di telinga kita. Namun, pada kenyataannya sudah banyak orang-orang yang mengalami ketakutan ini. Mungkin juga ada orang di sekitar Anda atau Anda sendiri mengalami rasa takut untuk bahagia. Mari kita lihat apa saja gejala yang ditunjukkan orang-orang dengan cherophobia.

  • Mengalami kecemasan untuk bergabung ke dalam aktivitas sosial seperti pesta, konser, dsb. Orang-orang dengan cherophobia memilih menolak untuk berpartisipasi pada acara-acara tersebut. Mereka mengasumsikan bahwa acara sosial akan berujung pada suasana yang menyenangkan. Partisipasi mereka akan membuat mereka larut dalam kebahagiaan dan meningkatkan kecemasan.
  • Berpikir bahwa menunjukkan rasa bahagia tidak baik bagi dirinya, temannya, dan keluarganya. Pola pikir ini berkembang pada orang dengan cherophobia karena mereka merasa bersalah atas ekspresi emosi positif. Rasa bersalah ini membuat mereka berpikir kebahagiaan akan membuatnya menjadi pribadi yang jahat. Oleh karena pandangannya sebagai pribadi yang jahat, pada akhirnya mereka tidak mau mengekspresikan emosi positif.
  • Menyisihkan kesempatan yang dapat mengarah pada perubahan hidup yang positif. Contohnya, ketika meraih sebuah prestasi membanggakan. Orang dengan cherophobia takut mengambil langkah positif tersebut karena akan menimbulkan rasa bahagia yang berlebih.
  • Berpikir menjadi bahagia berarti hal buruk akan terjadi. Hal ini membuat mereka meyakini kegembiraan berlebihan akan mengakitbatkan kejadian yang tidak menyenangkan.
  • Berpikir menjadi bahagia membuang-buang waktu dan sia-sia. Oleh karena ketakutan dan keyakinan bahwa kebahagiaan akan berakhir tidak menyenangkan, mereka berpikir untuk tidak mencari kebahagiaan. Usaha mencari kebahagiaan tidaklah masuk akal bagi mereka.

Linda Esposito, LCSW mengungkap bahwa salah satu penyebab seseorang sulit merasa bahagia adalah ketakutan. Kita semua takut akan perubahan dan itu adalah hal yang wajar. Ketakutan menjadi tidak wajar ketika kita tertahan dalam ketakutan tersebut. Ketakutan melumpuhkan banyak orang yang terjebak dalam pemikiran berlebihan mengenai hal yang akan terjadi. Mereka meyakini bahwa setiap kebahagiaan yang mereka alami pasti akan ada penderitaan setimpal yang ikut menghampiri.

Nikmatilah Apa yang Terjadi

Bagi Anda yang merasa memiliki kekhawatiran untuk merasa bahagia, Anda mulai dapat menghilangkan cara pandang Anda mengenai kemungkinan terburuk yang terjadi dalam hidup. Mulai sekarang berusahalah untuk tidak memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Fokuslah pada apa yang sedang Anda jalani saat ini. Lakukanlah dan nikmatilah hasil yang Anda raih atas pekerjaan Anda. Rasakan setiap kegagalan, keberhasilan, kebahagiaan, dan kesedihan yang Anda terima. Semua hal yang terjadi adalah proses untuk lebih menikmati hidup. Ingat, bahagia bukanlah segalanya yang membentuk hidup. Dari masa-masa terburuk dalam kehidupan kita juga bisa belajar tentang banyak hal. Mengubah pemikiran untuk bisa lebih positif dalam menghadapi semua yang terjadi dalam hidup akan membuat Anda memaknai hidup lebih baik.

“Life is not a problem to be solved, but a reality to be experienced”

– Soren Kierkegaard

Total
14
Shares