Cinderella Complex: Dia yang Berharap Pangeran Datang

“Aku maunya nikah aja ah, gak mau musingin kuliah kayak gini. Terus musingin kerja gitu?”

“Hmm, udahlah tenang aja, nanti juga bakal datang lelaki yang bakal melamar kamu. Kamu gak usah musingin dirimu sendiri gitu.”

Apa kamu termasuk salah satu yang pernah menyatakan hal seperti di atas? Atau teman-teman perempuan di sekitarmu sering mengemukakannya?

Sekilas terdengar layaknya candaan biasa. Namun, siapa sangka itu bisa menjadi salah satu indikasi adanya Cinderella Complex dalam diri kalian?

Apa itu Cinderella Complex?

Istilah Cinderella Complex muncul dalam tulisan College Dowling, dengan bukunya yang berjudul “Women’s Hidden Fear of Independence”. Dowling menjelaskan Cinderella Complex sebagai suatu keadaan perempuan yang ditekan rasa ketakutan, lalu berdampak pada menurunnya kemampuan berpikir dan kreativitas mereka.

Perempuan yang memiliki Cinderella Complex, berharap layaknya seorang putri di cerita dongeng bahwa akan datang seorang pangeran yang memesona dalam kehidupannya. Ada keinginan untuk menjalani hubungan dengan sosok lelaki yang dapat berperan sebagai pelindung dan pemberi nafkah dalam hidupnya.

Cinderella Complex menyebabkan perempuan merasa takut dan tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri. Ia enggan untuk mandiri dan menjadi seseorang yang bergantung pada lelaki yang dianggap sebagai pangerannya. Selain itu, ia juga tidak ingin pusing untuk mengurus kehidupannya sendiri.

Dewi Candraningrum, seorang aktivis feminis Indonesia menyatakan, anak-anak perempuan pada zaman sekarang dilanda Cinderella Complex. Pengaruh Cinderella Complex membuat mereka mengelu-elukan lelaki untuk menikahinya, membuahinya, dan menjadikannya bahagia.

Cinderella Complex: Lumrah atau Tidak?

Perempuan yang ingin didampingi oleh seorang laki-laki dalam hidupnya adalah hal yang lumrah. Berharap akan memiliki pasangan yang akan melengkapi kekurangan dan menguatkan dari rasa lemah yang ada. Memiliki sosok yang melindungi, memperhatikan, dan memberi rasa aman serta nyaman pada dirinya.

Akan tetapi, keinginan dan harapan tersebut dapat mengkhawatirkan jika perempuan menjadi terlalu berharap dan bergantung pada laki-laki. Selalu ditemani dengan khayalan ada pangeran baik hati datang untuk menyelamatkan hidupnya. Sebagai pengingat, kehidupan ini bukanlah dongeng yang diisi dengan keajaiban serta keindahan sosok pangeran di dalamnya.

Kehadiran sosok laki-laki dalam kehidupan perempuan bukan berarti akan membatasi kemampuan dan memandang rendah diri perempuan itu sendiri. Tidak terjebak dengan asumsi bahwa perempuan pada dasarnya adalah makhluk yang lemah sehingga sulit untuk mandiri.

Perempuan bisa menjadi sosok yang mandiri dan bersinar dengan kemampuan yang dimilikinya. Lihat saja sekarang, banyak tokoh perempuan yang menjadi panutan dengan prestasi yang pernah diraih oleh mereka. Sebagai contoh, Sri Mulyani ataupun Susi Pudjiastuti.

Apa Penyebab Cinderella Complex?

Tanpa disadari, perempuan telah diajarkan untuk hidup bergantung dengan orang lain tanpa dipersiapkan bagaimana caranya hidup mandiri. Seorang psikolog Indonesia, Elly Risman menyatakan beberapa penyebab Cinderella Complex pada perempuan. Penyebab tersebut seperti, anak biasa dimanja, diberi hal-hal yang selalu menyenangkan, tidak tahu cara menerima kenyataan hidup, dan dipenuhi harapan yang bahagia tanpa tahu proses yang penuh usaha dan perjuangan di baliknya.

Perempuan juga terdidik sebagai sosok yang berperan sebagai pendorong lelaki dalam hidupnya. Sebagai contoh, membantu di dapur, membersihkan rumah, serta berdiam diri di rumah lebih baik daripada harus pergi keluar.

Selain itu, pengaruh budaya patriarki turut menjadi alasan yang mendorong hal ini. Kasarannya, nasib perempuan itu bergantung pada laki-laki yang akan menjadi pendampingnya nanti.

Namun, ada yang berpendapat bahwa perempuan tidak memaksimalkan potensinya bukan karena batasan yang ada pada budaya masyarakat patriaki, melainkan karena kebutuhan internal untuk diselamatkan oleh lelaki.

Pada dasarnya perempuan bisa mandiri. Terlepas dari kemandirian itu, ada harapan dalam diri perempuan untuk melepaskan pengaturan hidup dan pengambilan keputusannya terhadap lelaki. Selain itu, ia takut akan hidup seorang diri, tidak ada yang menyayangi, serta mengurusi jika ia mengembangkan kemampuan diri secara penuh.

Perbedaaan nilai dan sikap ini berdampak pada gejolak batin pada diri perempuan. Hal ini juga melemahkan kesempatan hidup pada diri perempuan dan menyalahkan diri mereka atas kekurangan atau keterbatasan yang ada.

Terlepas dari Cinderella Complex

Seorang psikolog klinis Universitas Padjadjaran, bernama Ahmad Gimmy, menyatakan, cinderella complex bukanlah sebuah gangguan psikologis, tetapi lebih kepada istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi saat ini. Fenomena yang semakin disoroti karena perempuan cenderung ingin menghindari tantangan hidup yang menanti dan berharap ada pangeran datang untuk menyelamatkannya nanti.

Seperti candaan yang mungkin sering kamu dengar, “Udah ah mau nikah aja. Kapan ya ada yang datang melamar?”

Bukan berarti perempuan tidak boleh bergantung terhadap lelaki, tetapi lebih kepada perempuan mampu hidup mandiri dan berani untuk terus berkarya, tanpa memandang rendah dirinya sendiri.

Bukankah akan lebih indah jika kamu, sebagai seorang perempuan, juga dapat menjadi tempat bergantung pasanganmu nanti? Berperan secara seimbang, saling bergantung, dan mengisi satu sama lain.

Zahrah Nabila

a psychology student who is still learning and should treat herself first, before treat others

Previous
Previous

Cegah Kekerasan Seksual Pada Anak!

Next
Next

Berdamai dengan Perasaan Bersalah