Saya memiliki seorang anak didik (inisial AR) di Sekolah Luar Biasa (SLB), ia merupakan anak laki-laki yang berusia 10 tahun, dan ia merupakan penyandang autis. Ketika ia hendak belajar di sekolah, tiba-tiba ia menyerang (menyubit, menendang, menggigit) salah satu gurunya, entah apa alasannya. Setiap hari seperti itu. Tolong solusinya, terimakasih.

 

Jawab:

Terima kasih sudah mempercayakan cerita ibu ke pijarpsikologi.org. Perkenalkan saya Walida salah satu konselor Pijar. Merupakan kesempatan emas dapat berbagi dengan Ibu yang berdedikasi terhadap anak didiknya yang diduga penyandang Autis.

Ibu memiliki anak didik berusia 10 tahun dengan Autisme yang seringkali menunjukkan perilaku menyerang (mencubit, menendang atau menggigit) setiap hendak memulai belajar. Tentunya hal ini merupakan kondisi yang tidak mudah bagi seorang Guru. Idealnya Ibu mendapatkan kesempatan bertemu dengan psikolog/psikiater yang menangani AR melalui perantara orang tua. Hal ini dimaksudkan agar pihak sekolah/Guru mendapatkan gambaran yang tepat mengenai kondisi AR. Dengan adanya komunikasi antara pihak sekolah dan psikolog atau psikiater diharapkan tritmen kepada AR dapat terjaga konsistensinya. Hal ini penting karena penyandang Autisme memiliki karakteristik tidak menyukai adanya perubahan dalam rutinitas keseharian.

Baca juga: Autisme? Mari Kenali Lebih Dekat

Apabila terdapat perubahan dalam rutinitas harian, penyandang Autis akan tantrum. Anak dengan Autisme menunjukkan beberapa kombinasi dari pola tidur yang abnormal, gangguan mood, perilaku agresi, menyakiti diri sendiri, perilaku kompulsif, atau rentang perhatian  yang abnormal (Rapin, dalam Bowe 2005). Kondisi AR agaknya menunjukkan kombinasi perilaku tersebut. Karakteristik ini hendaknya dipahami oleh Guru Pendamping AR, sehingga kurikulum atau metode pengajaran dapat disesuaikan. Salah satu kurikulum yang dapat disusun untuk anak dengan Autisme adalah Kurikulum Fungsional (Bowe, 2005). Kurikulum ini berfokus mengajarkan keterampilan hidup praktis yang bertujuan menyiapkan anak berfungsi secara sesuai dalam hidup bermasyarakat. Selain itu, guru dapat mempelajari dan mengeidentifikasi karakteristik/pola perilaku AR dalam keseharian di sekolah seperti benda/hal yang menjadi obsesi AR, faktor pemicu timbulnya tantrum, atau hal-hal yang dapat mendistraksi AR. Hal ini akan mempermudah guru untuk mengatur kelas, karena anak dengan autisme merespon bau, suara, stimulus visual, dan perabaan dengan cara yang berbeda dan sulit dimengerti. Prinsip dalam mengatur kelas dengan anak autis adalah meminimalkan distraksi dan mengorganisasi/mengatur keseharian dengan jadwal yang rutin. Beberapa artikel yang dapat membantu Ibu untuk memahami murid-murid dengan autisme dapat diakses dalam http://www.teacch.com/.

Keputusan Ibu untuk berbagi persoalan yang dihadapi merupakan salah satu bukti perhatian besar Guru terhadap anak didiknya. Semoga Ibu senantiasa diberikan kekuatan dan konsistensi dalam mendampingi murid-muridnya. Selamat Berjuang!

Terima kasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi.

 

Jawaban ini ditulis oleh: Walida Asitasari, S. Psi. M. Psi., Psikolog

Referensi:

Bowe, Frank. 2005. Making inclusion world. New Jersey: Pearson Education, Inc

Sumber gambar:

youtube.com/whatisaggressivebehavior-childpsychology

Total
68
Shares
%d bloggers like this: