Saat Menjumpai Anak  yang Sulit Membaca dan Menulis, Saya Harus Bagaimana?

HF, 19 tahun, Yogyakarta

Selamat pagi, saya  HF mahasiswa salah satu universitas di Yogyakarta yang sedang KKN di daerah Jawa. Begini, di daerah KKN saya ada seorang anak perempuan yang berbeda dengan teman sebayanya. Ia sekarang kelas 6 dan berumur 12 tahun tetapi belum bisa menghitung lebih dari 10 dan mengalami kesulitan untuk membaca angka serta menulis angka dengan baik (sulit membedakan  antara angka 6 dengan 9). Meskipun demikian, selama berkomunikasi  anak tersebut  sangat periang dan positif. Ia suka dengan nyanyian anak-anak (Lagu Delman, Selamat Ulang Tahun, dan lain-lain). Ia juga suka bermain. Namun disaat pelajaran, ia susah fokus dan susah menghafal pelajaran. Lingkungan keluarga dari anak tersebut terbilang sederhana khas masyarakat desa. Ayah dan ibunya bekerja sebagai petani. Namun dikarenakan musim kering, tidak ada lagi yang bisa ditanam. Maka sang ayah pergi merantau untuk memenuhi ekonomi keluarga. Masyarakat desa menganggap bahwa anak itu memiliki gangguan dan tidak jarang saya mendengar kata idiot keluar dari tutur kata mereka. Apa yang sebaiknya saya lakukan sebagai mahasiswa KKN di desa tersebut? Bagaimana cara saya mengedukasi warga di sana, guru, serta orang tua dari anak tersebut? Dan bagaimana saya bisa mengintervensi anak tersebut karena belum ada data tes IQ untuk anak tersebut?

Jawaban :

 Terimakasih  atas kepercayaan Saudara HF untuk bercerita di Pijar Psikologi. Perkenalkan, saya Mega. Saya adalah salah satu konselor Pijar.

Kasus ini cukup membuat miris karena membuktikan kurangnya pendidikan khusus di daerah pelosok desa. Akibatnya, masyarakat kurang memiliki pengetahuan dan informasi terkait dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Dalam kasus ini, anak tersebut kemungkinan besar mengalami gangguan kesulitan belajar. Gangguan inilah yang membuat kemampuan anak berbeda dari kebanyakan anak-anak seusianya.  Penyebab gangguan kesulitan belajar yang spesifik  ini bukan karena faktor inteligensi namun diduga kuat berasal dari disfungsi neuroligis. Sebagai mahasiswa yang sedang KKN di desa tersebut, yang bisa saudara lakukan adalah mengedukasi orang tuanya. Saudara  dapat menjelaskan bahwa anak mereka memiliki kebutuhan khusus. Perlu adanya pendampingan dan bimbingan dalam belajar di rumah dengan strategi belajar yang lebih sesuai dengan kemampuan anak. Anak bisa diberikan stimulus berupa alat bantu peraga. Dengan demikian anak mampu menyentuh, melihat, mendengar serta menghubungkan dengan konsep yang dipelajari seperti angka-angka dan simbol-simbol hitungan. Alat peraga bisa menggunakan mainan yang terbuat dari plastik. Selain itu, Saudara dengan dapat berdiskusi dengan gurunya untuk menemukan strategi atau metode belajar yang tepat ketika di kelas. Pembelajaran mungkin akan membutuhkan perhatian dan pendampingan guru secara khusus. Kemudian, Saudara juga dapat  memberikan edukasi dan informasi pada masyarakat awam bahwa anak tersebut bukanlah anak idiot dan himbau untuk menghilangkan label idiot. Jelaskan pula bahaya pemberian label atau penggunan kata-kata negatif bagi anak. Hal ini akan berdampak pada perkembangan psikologis dan dapat menimbulkan luka psikisnya. Akibatnya, anak bisa saja akan memiliki kepercayaan diri yang rendah dan merasa tidak berharga. Tak hanya itu, hal tersebut juga dapat berdampak pada kondisi akademis anak. Demikian saran yang bisa saya berikan. Jika masih ada yang ingin dikonsultasikan lebih lanjut, Saudara bisa mengirimkan email konsultasi kembali.

Terimakasih telah berbagi.

Salam, Pijar Psikologi.

Jawaban ini ditulis oleh: Mega Dianingtyas, S.Psi

Total
57
Shares
%d bloggers like this: