Sdr. AK, 27, Surabaya.

Saya memiliki teman laki-laki bernama RY yang menurut psikiater dia kecenderungan OCD serta ADD. Sebetulnya, dia sedang dalam psikoterapi/medis (obat-obatan) dan hasilnya cukup baik. Namun, dia tidak konsisten dalam melakukan terapi tersebut. Mungkin itu bawaan dari penyakit ADD dewasa dan dia tidak disupport oleh orang di sekitarnya. Orang di sekitarnya tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu. Bagaimana ya, agar  teman saya bisa konsisten terhadap terapinya? Terimakasih.

 

Jawaban :

Salam sejahtera,

Pertama perkenalkan saya Niken, salah satu konselor di Pijar Psikologi. Saya ucapkan terimakasih atas kepercayaan saudara untuk berkonsultasi di pijarpsikologi.org.

Setelah saya membaca penjelasan saudara, saya simpulkan bahwa teman Anda (Pak RY) mengalami OCD dan ADD. Saat ini sedang menjalani terapi obat, namun Pak RY kurang konsisten dengan terapinya tersebut.

Saya coba memahami posisi saudara sebagai teman yang berusaha untuk mendukung Pak RY agar konsisten dengan pengobatannya. Mengkonsumsi obat-obatan secara terus menerus memang membuat bosan. Bahkan kita pun pernah mengalami kebosanan saat melakukan pengobatan  biasa yang tidak berlangsung lama. Orang yang sedang dalam terapi obat-obatan memang perlu diawasi setiap saat oleh orang disekitarnya. Misal saat di kampus, harus ada teman yang mengingatkan dan mengawasi. Saat di rumah pun, anggota keluarga juga harus mengawasi dan mengingatkan. Sehingga memang sulit jika hanya salah satu pihak saja yang melakukan pengawasan pengobatan.

Saran saya, perlu dicari tahu atau dipahami terlebih dahulu mengapa keluarga Pak RY tidak mengetahui atau tidak mau tahu mengenai masalah ini. Apakah mereka memiliki masalah keluarga? Jika masih memungkinkan untuk memberi tahu dan memberi pengertian pada keluarga Pak RY mengenai kondisinya, hal tersebut akan lebih baik. Kedua, sebagai teman, Saudara perlu mengingatkan kembali apa tujuan Pak RY mengikuti terapi. Dengan mengingat tujuannya, harapannya Pak RY dapat termotivasi kembali. Saudara juga perlu selalu mengingatkan dan menanyakan apakah Pak RY sudah mengkonsumsi obatnya. Kadang hal ini memerlukan sikap pengertian yang lebih, karena saudara menghadapi teman yang sedang berusaha mengatasi masalahnya. Saudara juga perlu konsisten dalam mengawasi atau mengingatkan Pak RY.

Saya rasa saran tersebut yang saat ini paling mungkin untuk dilakukan. Saya salut dengan kepedulian saudara sebagai teman. Semoga saudara selalu diberi kemudahan dalam membantu teman. Saya yakin saudara mampu. Jika masih ada yang perlu ditanyakan, jangan ragu untuk menghubungi kembali.

 

Terima kasih telah berbagi.

Salam, Pijar Psikologi.

Jawaban ini ditulis oleh: Niken Kintaka S.Psi

%d bloggers like this: