Demi Lovato: Penerimaan terhadap Diri Sendiri

“Aku sangat bersyukur untuk hari ini dan aku akan melindunginya. Bukan hal mudah untuk tetap positif melalui hari-hari, tetapi aku tahu aku harus tetap sehat.”-Demi Lovato.

Mengalami suatu hal buruk yang terjadi pada diri kita terkadang membuat kita tidak karuan. Terlebih hal buruk tersebut berupa rasa sakit, entah sakit fisik atapun sakit psikis. Bagi sebagian besar dari kita, hal tersebut membuat kita merasa terpuruk sehingga memengaruhi produktivitas kita. Namun, sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi seorang Demi Lovato.

Demi Lovato dan Gangguan Bipolar
Siapa yang tak kenal dengan Demi Lovato? Dia adalah aktris sekaligus penyanyi yang melejit berkat aktingnya di film Camp Rock. Bagi sebagian orang, mengakui dirinya mengalami sakit psikis seperti hal yang ‘memalukan’ untuk diutarakan. Sebab banyak label negatif terhadap mereka dan tentunya dapat menghambat produktivitas kerja. Terlebih bagi artis sekelas Demi Lovato yang terkenal di hampir seluruh penjuru dunia. Namun, dia justru terbuka kepada khalayak luas terkait sakit psikis yang dialaminya, yaitu gangguan bipolar.

Seperti yang telah orang-orang ketahui, pada tahun 2011 lalu Demi Lovato sempat direhabilitasi karena gangguan bipolar yang dialaminya. Sebelumnya, Demi mengaku mengalami bulimia (makan secara berlebihan lalu mengeluarkannya kembali) akibat di-bully teman-temannya yang mengejeknya gemuk. Perlakuan bullying yang Demi terima tidak hanya membuatnya menjadi bulimia tetapi juga membuatnya merasa mudah diejek, sedih, bahkan menarik diri dari lingkungan. Akan tetapi, Demi tidak menyangka jika hal tersebut makin memperparah kondisi psikisnya hingga dia mengalami gangguan bipolar.

Gangguan Bipolar Tidak Menghambat Produktivitas Demi Lovato
Awalnya, Demi merasa kaget setelah psikolog yang dia datangi mendiagnosanya mengalami gangguan bipolar. Namun, lambat laun Demi mulai dapat menerimanya. Seperti orang dengan gangguan bipolar lainnya, Demi pun mengalami fase manik dan fase depresi. Pada saat berada dalam fase manik, Demi merasa sangat bersemangat. Bahkan Demi dapat terjaga hingga jam 5 pagi karena menulis 7 lagu dalam satu malam. Sementara pada saat fase depresi, Demi tidak menyadari mengapa dirinya marah dan depresi. Ia bahkan tidak kuat untuk beranjak dari tempat tidur.

Mengalami gangguan bipolar tidak serta-merta membuat Demi begitu terpuruk. Dia justru bergabung ke dalam organisasi Be Vocal: Speak Up for Mental Health untuk memperjuangkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental. Organisasi tersebut juga bertujuan untuk mendukung dan membantu orang-orang dengan gangguan mental untuk lebih ‘terbuka’. Dalam organisasi tersebut juga Demi berharap generasi muda membawa perubahan bagi generasi selanjutnya agar tidak tabu untuk membicarakan gangguan mental.

Walau awalnya Demi mengaku tidak menerima kenyataan akan diagnosis tersebut, tetapi lambat laun dia mulai menerima dirinya sendiri. Sebab dia tidak punya pilihan selain untuk terus bergerak dan belajar untuk menerima gangguan bipolar tersebut sebagai bagian dari dirinya. Hal ini ia lakukan sekaligus untuk menjaga pikiran dan hatinya tetap jernih.

Demi menyadari bahwa penanganan terhadap gangguan bipolar yang dia alami membutuhkan kesabaran dan proses yang panjang. Untuk itu, Demi mencoba berbagai macam penanganan yang berbeda hingga mendapat penanganan yang tepat untuk dirinya. Selain penanganan seperti mengonsumsi obat atau lainnya, dukungan sosial juga menjadi salah satu cara Demi untuk bertahan menghadapi gangguan bipolar. Baik dari dukungan keluarga, teman-teman, tenaga medis profesionalnya, hingga penggemarnya. Namun, bagi Demi, dirinya sendiri lah yang menjadi faktor utama membuatnya tetap bertahan. Dengan demikian, Demi pun dapat tetap produktif meski mengalami gangguan bipolar.

Dari paparan cerita mengenai Demi Lovato di atas dapat disimpulkan bahwa semua orang bisa mengalami gangguan bipolar. Namun, beberapa orang masih cenderung tertutup untuk mengakui dirinya yang mengalami gangguan bipolar. Berbeda halnya dengan Demi yang terbuka menceritakan dirinya yang mengalami gangguan bipolar. Selain itu, dari kisah Demi di atas kita dapat belajar bahwa kesembuhan itu tidak hanya berasal dari obat atau penanganan yang dilakukan, tetapi juga dukungan sosial. Hal lain yang tak kalah penting adalah dukungan dari diri sendiri.


Referensi:
1Disadur dari http://abcnews.go.com/Entertainment/demi-lovatos-shocking-diagnosis-bipolar-disorder/story?id=13426303 pada tanggal 30 Maret 2017
2Disadur dari http://www.womenshealthmag.com/health/demi-lovato-be-vocal-campaign pada tanggal 30 Maret 2017
3Disadur dari http://www.today.com/series/one-small-thing/1-word-says-your-relationship-meant-be-t109766 pada tanggal 30 Maret 2017
4Disadur dari http://www.bevocalspeakup.com/demi-lovato-bipolar-disorder.html pada tanggal 30 Maret 2017

Sumber Gambar:
http://i.huffpost.com/gen/3005882/images/o-DEMI-LOVATO-facebook.jpg

Apriastiana Dian Fikroti

Introvert, penyuka warna biru, ailurophilia, penikmat kata dan kopi

%d bloggers like this: