“Sifat yang baik lebih bernilai daripada pengetahuan, uang, ataupun kehormatan, bagi seseorang yang memiliki sifat tersebut.” (Henry Ward Beecher)

“Kamu tahu tidak ? si A itu orangnya dikit-dikit marah, dikit-dikit marah.”
“Oh, iya memang dia temperamen orangnya.”

Apakah percakapan seperti di atas sering terdengar di sekitar Anda? Apakah semudah itu memberikan label bahwa seseorang temperamen? Mungkin sebagian dari Anda tidak banyak yang mengetahui dan salah kaprah dalam memaknai sifat temperamen. Berikut uraian fakta dan mitos tentang temperamen yang sering kali dipercaya oleh masyarakat.

Temperamen bersifat turun-temurun
Pernyataan diatas adalah fakta. Temperamen merupakan bawaan sejak lahir, bagian dari genetik yang memberikan pengaruh besar bagi hidupnya. Menurut Jerome Kagan2, ahli psikologi perkembangan di Universitas Harvard sekurang-kurangnya ada empat jenis temperamen pada manusia. Masing-masing temperamen disebabkan oleh kegiatan otak yang berbeda-beda. Meskipun temperamen adalah hal bawaan dari keluarga, setiap anak dalam satu keluarga bisa mempunyai jenis temperamen yang berbeda.

Temperamen tidak bisa dipengaruhi oleh apapun5
Mitos! Seorang anak dengan temperamen yang sulit dikontrol tidak semata-mata disebabkan oleh faktor genetik saja. Selain faktor genetik, kualitas pengasuhan oleh orang tua dan keadaan lingkungan sosial turut mempengaruhi. Jadi, tidak menutup kemungkinan bagi seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengontrol temperamen pada masa kecilnya, bisa terus merasakan kesulitan mengontrol temperamennya hingga dewasa. Selain itu pola interaksi antara ibu dan anak juga mempengaruhi kondisi temperamen. Hal itu dinyatakan dalam penelitian Battle dan Lacey bahwa anak yang mendapatkan sedikit perhatian dan penghargaan positif dari sang ibu, kondisi temperamennya lebih sulit diatur atau hiperaktif.

Temperamen tidak lekang oleh waktu3
Fakta. Beberapa studi menyimpulkan bahwa temperamen bisa dibilang akan bertahan dalam diri seseorang sepanjang waktu dan dalam situasi yang bermacam-macam. Hal ini juga dikemukakan oleh Arnold Buss, penulis buku Temperament: Early Developing Personality Traits pada tahun 1984. Arnold mengemukakan temperamen sebagai sesuatu yang turun-temurun dan bagian dari kepribadian yang tidak dapat diubah.

Temperamen sama dengan amarah
Mitos! Ternyata dalam dunia psikologi, temperamen tidak selalu mengenai emosi, dan sifat yang ada pada temperamen tidak hanya amarah saja. Temperamen merupakan perbedaan pada perilaku dan kondisi emosi tiap orang saat mereka merespon sesuatu.1 Temperamen merupakan kecenderungan dalam berperilaku, bukan yang membedakan perilaku. Temperamen rendah adalah seseorang yang tidak mudah marah atau penyabar. Hal itu ditunjukkan dengan wajah tenang serta berbicara lambat dengan irama yang mantap.4

Seseorang akan menunjukkan temperamennya ketika terjadi ketidakcocokan antara mereka dan lingkungan. Dukungan keluarga merupakan hal penting yang harus diperoleh seorang anak, karena berdasarkan penelitian terbukti berpengaruh pada perkembangan temperamen seseorang hingga ia dewasa.

Nah, semoga sekarang Anda lebih mengerti tentang konsep temperamen yang sebenarnya. Temperamen merupakan sifat bawaan dan kemungkinan untuk bisa diubah sangat kecil sekali. Temperamen dapat dikendalikan dan dipengaruhi oleh lingkungan terutama dari dukungan keluarga. Pengalaman-pengalaman semasa kecil dalam mengatasi temperamen akan menjadi pembelajaran dalam mengontrol temperamen Anda di masa depan.


Referensi:
1Apristiana Fikroti. 2017. Sudahkah Anda Mengenal Temperamen Anak Anda?. Artikel. Pijar Psikologi.
2Daniel Goleman. 1996. Kecerdasan Emosional.
3Doren Arcus, Thomson Gale. 2006. Gale Encyclopedia of Children’s Health: Infancy through Adolescence. Encyclopedia. www.encyclopedia.com/literature-and-arts/performing-arts/music-theory-forms-and-instruments/temperament
4Fauzi, A. 2008. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
http://servoclinic.com/2008/02/13/temperamen-bukan-takdir/
5Stratton, C. W. & Eyberg, S.M (1982). Child temperament: Relationship with child behavior problems and parent-child interactions, Journal of Clinical Child Psychology, 11:2, 123-129.

Sumber foto:
http://www.bitterrootbugle.com/wp-content/uploads/2015/10/peeking-through-blinds.jpeg

Total
3
Shares
%d bloggers like this: