Fanny J. Crosby: Spiritualitas dalam Disabilitas

“Seandainya besok saya ditawari untuk bisa melihat dunia ini dengan sempurna, saya tidak akan menerimanya. Saya mungkin tidak akan pernah bernyanyi memuji Tuhan, jika saya lebih tertarik pada penglihatan yang lebih indah dan menarik.”

– Fanny J. Crosby

Ada banyak hal yang membuat seseorang layak disebut luar biasa: Leonardo da Vinci misalnya, karena mampu memetakan pemikiran-pemikiran yang jauh melampaui zamannya. Sementara Malala Yousafzai, karena menjadi penerima nobel termuda atas keberaniannya memperjuangkan pendidikan perempuan di tengah konflik. Di negara kita, mantan presiden B.J. Habibie dihargai sebagai figur luar biasa karena kegigihannya memperjuangkan industri penerbangan dalam negeri.

Sudah tahukah Anda dengan sosok Frances Jane Crosby? Ya, dia juga merupakan satu di antara sekian banyak figur luar biasa yang pernah hidup. Wanita yang akrab dipanggil Fanny tersebut telah menulis setidaknya 9000 sajak, himne, dan puisi sepanjang hampir 95 tahun masa hidupnya. Konon, ia bahkan tidak perlu merenung atau bahkan menyepi di suatu tempat hanya untuk memperoleh inspirasi. Saking produktifnya, Fanny telah menulis aneka sajak dan himne menggunakan setidaknya 200 nama pena.

Fanny mampu menghafal begitu banyak ayat panjang kitab suci bahkan ketika belum genap berusia sepuluh tahun. Ia pandai menyanyi juga memainkan gitar, piano, dan harpa. Pada usia 23 tahun, Fanny menjadi wanita pertama yang tampil di hadapan parlemen Amerika Serikat dan kemudian menjadi sahabat banyak presiden, mulai dari James K. Polk hingga Grover Cleveland.

Di Amerika Serikat, Fanny J. Crosby dikenang orang sebagai Queen of Gospel Writer—Ratu Penulis Lagu-lagu Pujian, yang karyanya diadaptasi sebagai lirik oleh banyak composer ternama masa itu, seperti Wm. B. Bradburry, J.R. Sweeney, William H. Doane, W.J. Kirkpatrick1, termasuk suaminya sendiri Alex. Van Alstyne. Karya-karya Fanny telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan masih dinyanyikan jutaan umat Kristiani di seluruh dunia hingga saat ini; beberapa yang paling terkenal yaitu: Pass Me Not, O Gentle Savior (“Mampirlah Dengar Doaku”), All The Way My Savior Leads Me (“Di Jalanku Ku Diiring”), I Must Have The Savior With Me (“Kuperlukan Juru’Slamat”), dan Blessed Assurance (“Kuberbahagia Yakin Teguh”)2.

Bagaimanapun, ada satu fakta lagi yang tak boleh terlewatkan dari seorang Fanny J. Crosby: ia kehilangan penglihatan secara permanen sejak berusia enam minggu dan tak pernah menyesalinya. Kehidupan seorang Fanny J. Crosby sendiri tidak melulu pencapaian dan prestasi mengagumkan. Ia sesungguhnya lahir dalam kondisi normal di Putnam County, New York tahun 1820. Ketika terserang demam tinggi enam minggu kemudian, Fanny mengalami malpraktik yang menjadikannya buta seumur hidup. Pada tahun yang sama, ayahnya meninggal dunia.

Fanny menhabiskan sebagian masa kecilnya berjuang menahan olok-olok dari anak-anak sebanyanya. Beruntung, sang nenek—ia seorang penganut Kristiani yang taat—mengajarnya untuk berdoa dan menyerahkan segala keluh-kesahnya pada Tuhan. Dengan dukungan dari ibu dan sang nenek, Fanny mendaftar di New York Institute for the Blind pada usia 15 tahun, tempat di mana ia kelak juga menjadi pengajar dan bahkan menemukan pasangan hidup.

Banyak orang dengan kekurangan fisik merasa putus asa, patah semangat, dan kehilangan semangat hidup. Tak sedikit yang kemudian menyalahkan Tuhan atas nasib yang dialami. Dalam segala kekurangannya, Fanny J. Crosby justru menemukan makna hidup. Ia senantiasa melihat keberadaannya sebagai berkat yang perlu disyukuri. Bahkan ketika putri satu-satunya meninggal tak lama setelah dilahirkan, Fanny masih mampu menulis sebuah sajak yang kelak dikenal sebagai lagu rohani berjudul Safe in the Arms of Jesus (“Selamat di Tangan Yesus”). Syair lagunya berisi kelegaan karena jiwa anaknya kini telah berada di surga bersama Sang Pencipta.

Dunia kita saat ini terbiasa menilai seseorang berdasarkan seberapa kontribusi yang bisa ia jalankan sebagai manusia. Bukan tidak mungkin orang-orang dengan keterbatasan fisik jadi merasa putus harapan karena tak dapat berfungsi seperti orang pada umumnya. Terlepas dari ragam agama dan keyakinan, spiritualitas berperan dalam menunjukkan bahwa seseorang seyogyanya tak dinilai hanya berdasarkan apa yang tampak. Spiritualitas memampukan seseorang menilai seorang manusia sebagai human being alih-alih human doing3; itu membantu seseorang melihat hidup dengan lebih positif.

Tahukah Anda, hati yang gembira sejatinya adalah obat bagi hati yang patah? Fanny menjalani hidupnya dengan penuh syukur dan menjadi jauh lebih produktif dari jutaan manusia lain yang mendefinisikan diri sebagai orang ‘normal’. Semoga kisah Fanny dapat memberi secercah inspirasi bagi hidup kita, ya!


Sumber data tulisan

[1] Dirujuk dari artikel berjudul Miss Fanny J. Crosby: Hymn Writer and Poetess, yang merupakan intisari dari Hall, Jacob H. 1914. Biography of Gospel Song and Hymn Writers. New York: Fleming H. Revell Company yang dapat diakses dalam laman.

2 Disarikan dari artikel berjudul Fanny Crosby: Kidung Indah dari Kegelapan yang diunggah pada 21 September 2014 dalam laman http://www.pmk.lk.ipb.ac.id/2014/09/21/fanny-crosby-kidung-indah-dari-kegelapan/

3 Underwood-Gordon, 1999, hal.60 dalam Herrman, Helen, et al. 2005. Promoting Mental Health: Concepts, Emerging Evidence, Practice: report of the World Health Organization, Department of Mental Health and Substance Abuse in collaboration with the Victorian Health Promotion Foundation and the University of Melbourne. Geneva: World Health Organization.

By: Karina Langit Rinesti

Featured Image Credit: www.suggestkeyword.com

%d bloggers like this: