Gila Belanja? Kenapa Bisa? Ini Faktanya!

“Hati-hati dengan pembelian impulsif terkait stres. Jangan terjerumus dengan pemikiran bahwa menghabiskan uang akan membuatmu merasa lebih baik.” -Anonim

Saat pergi ke suatu tempat, kita akan pergi dengan tujuan tertentu. Jika tujuannya adalah tempat berbelanja, bisa jadi memiliki tujuan untuk membeli sesuatu yang sudah menjadi kebutuhan. Namun, apa jadinya jika Anda membeli sesuatu yang tidak menjadi kebutuhan Anda? Membeli sesuatu tanpa direncanakan dan pada akhirnya barang itu tidak digunakan!

Nah, coba sejenak untuk melihat sekeliling rumah, kamar atau meja kantor Anda, mungkin saja Anda menemukan barang dulu di beli dan sampai kini belum pernah tersentuh oleh Anda. Jika ada, mungkin saat itu Anda mengalami impulsive buying atau pembelian secara impulsif.

Impulsive buying terjadi saat kita membeli suatu barang secara spontan di luar perencanaan yang seharusnya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Berikut fakta mengenai impulsive buying!

Meningkatnya impulsive buying didukung oleh paparan media

Kecanggihan teknologi memberikan cara praktis untuk bisa berbelanja dengan satu ‘klik’ saja. Kenyamanan berbelanja di rumah, menghemat waktu, uang dan mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri saat berbelanja merupakan utilitarian dan hedonic motivation yang melatarbelakangi kita untuk melakukan impulsive buying. Tidak hanya itu, ternyata impulsive buying juga dapat terjadi ketika Anda terhibur dengan iklan produk tersebut atau bahkan mendapati idola yang Anda cintai juga memakai produk yang sama. Apakah Anda pernah mengalaminya?

Membeli barang yang tidak biasa, terbatas dan dalam ‘tekanan’

Impulsive buying dapat terjadi ketika kita melihat sebuah barang yang sama sekali berbeda tampilannya misalnya desain, merek, bentuk, kegunaan dan lainnya. Barang yang ketersediaannya terbatas memunculkan keinginan kita untuk menjadi salah satu orang yang memilikinya di dunia ini!

Tekanan dapat terjadi ketika barang tersebut hanya dijual dengan harga murah dan mendapatkan bonus pada tanggal tertentu saja. Hal ini tentu memacu adrenalin untuk mendapatkannya, bahkan tidak masalah jika menunggu berjam-jam dengan antrian panjang asal bisa mendapat lebih barang tersebut! Hm, kita tidak ingin ketinggalan, bukan?

Impulsive buying dapat didasari oleh kemarahan, kejenuhan dan stres

Cara setiap orang menyelesaikan masalah tentu berbeda-beda. Tak jarang jika seseorang memilih berbelanja untuk menurunkan tingkat stresnya. Berbelanja memang dapat memicu perasaan yang lebih baik, namun ternyata perasaan menyenangkan itu hanya bertahan sementara saja. Alih-alih menyelesaikan masalah, tagihan kartu kredit malah akan mengejar Anda setelahnya.

Impulsive Buying dari sisi gender dan usia

Dari segi gender, wanita memiliki tendensi untuk melakukan impulsive buying lebih besar daripada pria. Wanita cenderung menggunakan sisi emosional dan alasan ‘hubungan dekat’ dengan orang lain dalam membeli barang, sedangkan pria membeli sesuatu dengan melihat kegunaan barang tersebut bagi dirinya.

Dibandingkan usia tua, ternyata usia 18-39 tahun dinilai rentan mengalami impulsive buying. Usia muda tersebut dinilai menjadi masa dimana orang-orang tidak merasa cemas untuk menghamburkan duit dan biasanya usia ini memiliki kontrol diri yang rendah.

Setelah membaca artikel ini, tentunya ‘Gak mau kantong lebih bolong lagi, kan?’. Oleh karena itu, mari berhati-hati dengan paparan media, barang dengan harga murah serta bonus besar-besaran dan hal lainnya! Tentu masih banyak hal yang dapat Anda lakukan dengan setiap lembar rupiah Anda dibandingkan menghamburkannya.

Mulai kini, tetapkan perencanaan belanja dan mulai kontrol diri Anda. Setiap lembar rupiah yang merupakan jerih payah Anda sehingga hendaknya dipergunakan dengan bijak.

Rinesha Tiara Romauli Siahaan

S1 Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan. Memiliki minat dalam dunia perkembangan anak dan remaja.

%d bloggers like this: