“Kepribadian dibangun sebagian besar oleh tindakan introyeksi: sesuatu yang sebelumnya dialami dari luar, diambil ke dalam.” – Erich Neumann

Pulang sekolah, Nana (10 tahun) menemui Ibunya sambil menangis tersedu.

“Bu, nilai matematika Nana jelek lagi,” katanya.

“Ya sudah, benar kan kata Ayah kemarin. Dari dulu kamu nggak jago soal hitung-hitungan,” jawab Ibunya.

Beberapa minggu yang lalu, Nana pernah menangis dan mengadukan hal serupa pada Ayahnya.

Sejak saat itu, Nana menilai bahwa dirinya memang tidak pandai dalam Matematika. Ia akan selalu merasa kesulitan untuk memahami soal hitungan.

Nilai Matematika Nana pun cenderung berada pada batas ketuntasan minimal.

Apa yang terbayangkan dalam pikiran Anda ketika membaca ilustrasi di atas? Apakah Anda berpikir bahwa Nana memang kesulitan dalam memahami hitungan? Bagaimana bila sebelumnya Nana adalah siswa yang pandai dan pemberani di kelasnya. Akan tetapi setelah kejadian itu, nilai-nilai Nana menjadi turun?

Kisah di atas adalah ilustrasi sederhana tentang percakapan anak dengan orangtuanya. Barangkali ada di antara Anda pernah mendengar atau menjadi salah satu tokoh dalam percakapan tersebut?

Apa yang dialami Nana adalah hal nampak sederhana di awal. Mendengar penilaian atau komentar orang lain atas diri sendiri, lalu secara tidak sadar mengimani hingga menjadikannya bagian dari diri sendiri. Hal ini dinamakan sebagai sebuah introyeksi.

“Introyeksi adalah memasukkan hal hal dari luar ke dalam diri.”

Introyeksi merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri dalam teori psikoanalisa, yang dicetuskan oleh ahli psikologi Sigmund Freud. Mekanisme pertahanan diri adalah cara seseorang menanggapi ancaman dari luar dan konflik yang terjadi dalam dirinya.

Apakah Introyeksi Berbahaya?
Introyeksi terjadi ketika kita mengambil perilaku, sifat, atau hal-hal yang berasal dari orang lain dan menanamkannya ke dalam diri kita. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Freud, proses memasukkan perilaku, sifat, atau nilai-nilai dari luar diri kita ini terjadi secara tidak sadar.

Proses introyeksi ini terjadi selama rentang hidup manusia. Sejak kecil, tanpa kita sadari, nilai-nilai yang ditunjukkan oleh orang tua akan masuk dan menjadi nilai-nilai kita pula. Tentu saja internalisasi nilai ini tidak selalu bernilai negatif. Hal-hal positif pun dapat diinternalisasi seorang anak dari orangtua, misalnya sifat dermawan atau kepercayaan diri.

Mungkin di antara kita akan bertanya: Apakah salah ketika seseorang melakukan introyeksi?

Tentu saja itu relatif. Salah-benar adalah perkara perspektif. Upaya kita untuk menjadi seseorang atas dasar penilaian orang lain tentu tidak selalu salah.

Apalagi bila kita menyerap hal-hal yang dapat membuat diri kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Namun demikian, kita tetap perlu bijaksana dalam menerima nilai-nilai yang berasal dari luar diri.


Sumber data tulisan

  • Terinspirasi dari penggalan artikel: Identity and Introjection (https://www.psychologytoday.com/blog/traversing-the-inner-terrain/201306/identity-and-introjection)
  • Tayangan youtube (https://www.youtube.com/watch?v=Dv6BkKd1jNA )
    Feist, J., & Feist, G. J. (2009). Theories of Personality, 7th ed. New York: McGraw Hill.
  • Arndt, W. B. (1974). Theories of Personality. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.
  • Projection and Introjection (http://changingminds.org/disciplines/psychoanalysis/concepts/projection_introjection.htm) diakses pada 16 Februari 2017
  • Ego Defence Mechanisms: The Work of Anna Freud (https://www.psychologytoday.com/blog/sideways-view/201510/ego-defence-mechanisms-the-work-anna-freud ) diakses pada 17 Februari 2017
  • The Ability to Reject The Projection (https://www.psychologytoday.com/blog/traversing-the-inner-terrain/201309/the-ability-reject-the-projection ) diakses pada 25 Februari 2017
%d bloggers like this: