Kekerasan dan Ketidakpedulian Masyarakat: Apa Alasan Psikologis di Belakangnya?

Kabar naas mengenai penemuan jenazah Angeline, anak berusia 8 tahun yang dinyatakan hilang 16 Mei lalu, dinilai cukup menggucangkan. Angeline ditemukan di halaman rumah keluarga angkatnya sendiri dengan bekas jeratan di leher dan luka di kepala1. Desas-desus mengenai penelantaran dan kekerasan terhadap Angeline pun mencuat ke permukaan2. Kemajuan terakhir dari investigasi polisi menginformasikan kepada warga Indonesia bahwa tersangka, seorang pekerja di kediaman tempat Angeline tinggal, telah memperkosa dan membunuh si gadis3. Orang-orang di sekitar si gadis kecil telah menaruh kecurigaan sejak lama, pertanyaannya; kenapa tragedi ini bisa sampai terjadi?

Berita populer lain terkait penganiayaan dan pembunuhan adalah kasus pembunuhan pembantu rumah tangga (PRT) di kediaman Syamsul Anwar, Medan, pada akhir tahun 2014 lalu. Kasus ini melibatkan kurang lebih tujuh pelaku penganiayaan, dua diantaranya masih di bawah umur, dua orang dipastikan sebagai korban meninggal dunia, penemuan 23 tulang di tempat kejadian perkara, dan video CCTV yang membuktikan adanya kekerasan45. Kenyataannya, seorang mantan PRT di kediaman tersebut mengaku telah mengadukan kasus serupa tahun 2012 lalu6. Ia mengakui bahwa penganiayaan ini sudah terjadi sejak lama dan korban yang ada kemungkinan lebih banyak, pertanyaannya; kenapa hal ini baru terungkap?

Peristiwa di atas menjadi cerminan kehidupan masyarakat yang sebenarnya sering sekali terjadi. Bedanya, kasus di atas adalah salah satu dari contoh yang paling ekstrim. Dalam keseharian kita, peristiwa ini bisa saja terjadi dalam contoh berikut: ketika Anda sedang di rumah sakit, Anda menyaksikan seorang anak kecil ditampar oleh ibunya karena ia rewel. Anda sesungguhnya merasa tidak tega dan mungkin Anda tahu cara untuk menenangkan anak itu. Anehnya, Anda tidak tergerak untuk membantu. Anda berpikir, “mungkin kalau saya ikut campur, akan terkesan tidak sopan”, atau, “saya tidak punya urusan dengan mereka”.

Apa yang Terjadi?

Difusi tanggung jawab (Diffusion of Responsibility) adalah istilah untuk mendeskripsikan berkurangnya rasa tanggung jawab seseorang untuk mengambil tindakan di dalam situasi darurat karena hadirnya bystander lain; semakin banyak jumlah bystanders, kemungkinan masing-masing individu untuk mengambil tindakan semakin berkurang7. Bystander adalah orang yang ada di tempat kejadian dan turut menyaksikan kejadian. Dalam contoh di atas, Anda berperan sebagai bystander terhadap anak dan ibunya.

Difusi tanggung jawab dapat membuat seorang bystander tidak melakukan tindakan apapun ketika menyaksikan peristiwa yang butuh segera ditindaklanjuti. Salah satu contohnya adalah kasus pembunuhan Catherine Genovese yang disaksikan secara langsung oleh tiga puluh delapan orang selama empat puluh lima menit, namun tidak satu pun dari saksi yang datang menolong atau pun menelepon polisi8. Dalam konteks difusi tanggung jawab, beban tanggung jawab yang dirasakan bystander berkurang karena ia yakin ada bystander lain yang menyaksikan. Bila ada dua bystander, maka beban tanggung jawab menjadi ½, bila ada tiga bystander, maka beban tanggung jawab menjadi 1/3, dan seterusnya.

Dalam kasus-kasus yang dibahas sebelumnya, seseorang mungkin mencurigai, atau bahkan mengetahui, sesuatu mengenai peristiwa yang dialami oleh Angeline ataupun PRT di kediaman Syamsul Anwar, tetapi tidak bertindak. Dalam kasus penganiayaan PRT di Medan, misalnya, beberapa pembantu telah melaporkan kasus ini ke polisi pada tahun 2012, namun sekalipun mengetahui bahwa kekerasan mungkin masih terjadi di kediaman Syamsul Anwar, laporan ini tidak ditidaklanjuti karena kurangnya bukti. Dalam kasus pembunuhan Angeline, para guru di sekolahnya telah lama menaruh curiga bahwa si gadis tidak terurus dengan baik dan tampak murung, tetapi belum ada banyak usaha untuk memindahkan anak ke lingkungan yang lebih kondusif. Dalam konteks ini, terdapat kemungkinan bahwa para bystander mengalami difusi tanggung jawab.

Percaya tidak percaya, difusi tanggung jawab sering terjadi di sekitar kita ataupun pada diri kita sendiri. Dalam contoh anak dan ibu yang dijabarkan sebelumnya, Anda mungkin enggan membantu karena merasa tidak sopan dan tidak punya kepentingan untuk menyela si ibu. Reaksi lain yang paling tipikal dalam difusi tanggung jawab adalah ketika seseorang, sebagai bystander, merasa tidak perlu melakukan apapun karena mengira bystander lain telah melakukan sebuah tindakan atau merasa bahwa ia tidak perlu bertindak karena bystander lain tampaknya tidak bertindak9. Hal ini adalah sebuah ironi karena menolong sesama adalah tanggung jawab semua orang yang harus dilaksanakan tanpa ragu-ragu dan takut-takut.

Seiring waktu, terdapat semakin banyak kasus kekerasan di Indonesia. Peristiwa-peristiwa yang bermunculan seharusnya menjadi ultimatum bagi kita semua; apa sebenarnya yang salah? Kepekaan kita sebagai anggota masyarakat harus diasah kembali sebagaimana dikatakan oleh anggota Komisi VIII DPR, Maman Imanulhaq, “Ada enggak keberanian dari tetangga. Misalnya, anak kecil matanya sayu, terus diidentifikasi anak tersebut mengalami KDRT, berani enggak laporkan?”10. Keberanian dan kepekaan kita terkadang tidak cukup kokoh untuk mendeteksi keberadaan korban kekerasan di sekitar kita. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa bantuan sekecil apapun dari kita dapat berarti besar bagi para korban. Dari kesadaran ini, marilah kita mulai merajut kepedulian bersama dan memberanikan diri untuk mengambil langkah pertama dalam menolong orang-orang di sekitar kita. Ingat, hal sekecil apapun bisa saja memberi dampak yang sangat besar bagi siapapun yang membutuhkan.


Sumber Data Tulisan

  1. http://regional.kompas.com/read/2015/06/10/22124881/Agus.Ditetapkan.Jadi.Tersangka.Pembunuh.Angeline

  2. http://regional.kompas.com/read/2015/05/26/09360881/Harus.Beri.Makan.Ayam.Sebelum.Sekolah.Badan.Angeline.Bau.Kotoran?utm_source=news&utm_medium=bp&utm_campaign=related&

  3. http://bali.tribunnews.com/2015/06/11/ini-kronologi-agustinus-tai-menghabisi-nyawa-bocah-malang-angeline?page=6

  4. http://regional.kompas.com/read/2015/04/17/21031791/Ikut.Aniaya.Tiga.PRT.Kiki.Divonis.2.Tahun.6.Bulan.Penjara

  5. http://regional.kompas.com/read/2014/12/12/22320191/Temuan.23.Tulang.di.Rumah.Syamsul.Diduga.Korban.Mutilasi

  6. http://regional.kompas.com/read/2014/12/13/02410881/Kasus.Penganiayaan.Keluarga.Syamsul.Tahun.2012.Mengendap?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news

  7. Kassin, S., Fein, S., & Markus, H. R. (2011). Social Psychology. Belmont: Wadsworth.

  8. http://en.wikipedia.org/wiki/Murder_of_Kitty_Genovese

  9. http://psych.princeton.edu/psychology/research/darley/pdfs/Bystander.pdf

  10. http://nasional.kompas.com/read/2015/06/11/22283931/Anggota.DPR.Kasus.Angeline.Harus.Jadi.Momentum.Perbaikan.Perlindungan.Anak

Featured Image Credit: www.riaupos.co

By: Ade Triani, mahasiswa Psikologi UGM yang mencintai dunia debat. Ia telah beberapa kali mengikuti kompetisi debat, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Previous
Previous

Glove: Ajarkan Anak Bisu dan Tuli untuk Percaya Diri

Next
Next

Benarkah Game Bisa Mengurangi Kecemasan saat Pergi ke Dokter Gigi?