Manusia sebagai makhluk sosial, tidak lepas dari kegiatan berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, manusia menyusun kata demi kata sehingga menjadi sebuah kalimat yang dapat dimengerti lawan bicara. Namun, apakah kamu tahu bahwa sebuah kalimat memiliki kekuatan yang lebih dari sekadar susunan kata?

Sebuah kalimat mampu menjadi pemantik sekaligus penghancur semangat hidup bagi seorang individu.

“Yaelah, lebai amat lo!”

“Dasar caper!”

“Yaelah, gitu doang dimasukin ke hati! Kaku banget lo kaya kanebo kering!”

“Gitu doang ga bisa, ga becus amat jadi orang.”

“Bego lo!”

“Dasar jelek!”

Jangan Anggap Remeh Kalimat yang Terkesan Sepele

Pernah mendengar atau malah mengucapkan kalimat di atas pada orang lain? Ada baiknya kita mulai introspeksi diri. Sederet kalimat yang mungkin menurut kita sepele dan hanya bahan bercandaan, bisa jadi merupakan hal yang menyakitkan dan menjadi beban pikiran bagi orang lain. Mereka mungkin saja memikirkan kalimat-kalimat sepele tersebut jauh lebih dalam dari yang bisa kita bayangkan.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sebuah kalimat mampu menjadi pemantik semangat sekaligus penghancur semangat hidup orang lain. Dalam hal ini, kalimat-kalimat sepele tersebut sangat mungkin menjadi penghancur semangat bagi seseorang. Efek yang ditimbulkan dari kalimat-kalimat sepele tersebut akan lebih parah apabila individunya adalah orang dengan mental illness. Mari kita sebut orang yang berjuang melawan mental illness-nya sebagai “Pejuang”.

Apa Itu Mental Illness?

Sebelumnya, saya akan sedikit membahas tentang mental illness. Mental illness dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan gangguan mental. Orang dengan gangguan mental bukan berarti gila. Gangguan mental mengacu pada berbagai kondisi kesehatan mental, meliputi gangguan mood, pemikiran, dan perilaku.

Beberapa contoh gangguan mental adalah eating disorder, kecemasan, depresi, skizofrenia, dan perilaku adiktif. Secara sederhana, gangguan mental adalah gangguan yang menyerang jiwa dan berefek pada fisik.

Para pejuang ini biasanya menjadi sedikit tertutup dengan yang mereka rasakan. Ditambah lagi, jika orang-orang di sekelilingnya sering menyepelekan mereka dan merespon kurang baik saat mereka berbagi cerita tentang beban hidup. Penggunaan kata-kata sepele yang kurang baik seperti yang sudah dijabarkan di atas oleh orang-orang terdekat bisa menjadi sesuatu yang memperburuk keadaan.

Hal-hal tersebut membuat pejuang merasa tidak didengarkan, tidak memiliki teman untuk sekadar berbagi cerita, bahkan merasa dunia tidak membutuhkannya. Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi pikiran mereka. Mereka tidak bisa berpikir dengan jernih maupun logis. Pada tahap ini, tidak hanya rasa minder yang muncul, tetapi sangat mungkin baginya untuk melakukan hal-hal seperti menyakiti diri sendiri, atau bahkan bunuh diri.

Ya, dari kalimat sesepele itu, kamu bisa membunuh seorang manusia.

Saatnya Lebih Menghargai Mereka yang Memiliki Gangguan Mental

Mereka berjuang melawan pikirannya sendiri. Mereka mengalami gangguan tetapi tidak bisa berbagi pada siapapun. Saat ingin bercerita, orang sekitar malah menyepelekan dan memberi respon buruk. Dengan ditambah kalimat-kalimat sepele yang menyakitkan hati, mereka akan merasa tidak berguna. Mereka merasa tidak dibutuhkan siapapun di dunia ini. Jangankan memikirkan agama, berpikir logis pun barangkali sudah tidak bias mereka lakukan.

Kita yang bukan merupakan salah satu dari para pejuang tersebut mungkin merasa kalimat saya di atas terlalu berlebihan atau malah mengada-ada. Namun, yakinlah bahwa the struggle is real. Hal tersebut nyata adanya dan sudah banyak buktinya.

Yang kamu perlukan saat ini adalah mulai berpikir panjang saat ingin melontarkan sebuah kalimat. Perlu mempertimbangkan kalimat tersebut akan menyakiti orang lain atau tidak.

Sebagai orang awam, kadang kita tidak bisa membedakan mana orang yang berjuang melawan mental illness dan mana yang tidak. Apalagi, tidak jarang pula para pejuang mampu menyembunyikan segala sesuatu yang mereka rasakan dengan senyum dan bersikap seolah tidak ada masalah.

Berbaikhatilah, karena Kita Tidak Pernah Tahu

Be nice to people. You don’t know their struggle. Be kind. You have no idea what people are dealing with in their personal lives.”

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” –HR. Bukhari.

Ya, mulailah berbuat dan berkata baik pada semua orang. Mulailah dari hal-hal kecil seperti menjadi pendengar yang baik saat seseorang ingin berbagi ceritanya padamu. Beri respon seperlunya yang tidak menyakiti. Selain itu, barangkali kamu juga bisa mengarahkan mereka untuk kembali ke agama agar menjernihkan pikiran mereka.

Always listening, always understanding. Ya, untuk mengerti orang lain, bukankah kita harus rajin mendengarkan? Mengucapkan “terima kasih” atau “tolong” mungkin juga bisa membantu mereka merasa lebih dihargai. Dari hal-hal sesepele itu, kamu bisa menyelamatkan seorang individu, lho!

Namun demikian, bukan berarti kamu harus mendewakan para pejuang atau mendewakan semua orang.  Menjadi pribadi dengan tutur kata yang baik memang tidak ada salahnya.

Sekadar self-reminder, mari lebih bijak dalam menggunakan kata meskipun sedang bercanda. Kita tidak pernah tahu seberapa parah efek sebuah kalimat sepele bagi orang lain. Sebab, beda orang, beda pola pikir, beda pula responsnya.

 

 

Artikel dikirimkan oleh Sherly Deftia A, seorang mahasiswi kedokteran yang jatuh cinta pada ilmu kesehatan jiwa dan dunia tulis menulis.

 

 

 

Total
3
Shares
%d bloggers like this: