Kenali Lebih Mendalam tentang Massa

“Massa dapat bertindak secara primitif dan tidak rasional karena individu yang menjadi bagian dari massa dan dipengaruhi sikap serta tindakan karena adanya massa yang hadir.”

-Gustave Le Bon

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan kata demonstrasi, seperti yang beberapa kali terjadi satu bulan terakhir ini. Setelah peristiwa 411 atau demonstrasi yang terjadi pada tanggal 4 November, tanggal 2 Desember kemarin demonstrasi kembali terjadi. Kali ini bertajuk “Aksi Super Damai”. Ribuan massa berkumpul di Lapangan Monumen Nasional (Monas). Mendengar kata “massa” entah mengapa identik dengan demonstrasi. Namun, tahukah kalian apa itu massa?

Massa merupakan kumpulan orang banyak dalam waktu, tempat, dan tujuan yang sama1 serta bersifat sementara2. Menurut Mennicke, seorang psikolog sosial mengungkapkan bahwa ada dua macam massa yaitu massa abstrak dan konkret. Massa abstrak merupakan sekumpulan orang-orang yang didorong oleh adanya persamaan minat, persamaan perhatian, kepentingan, tujuan, strukturnya tidak jelas, dan tidak terorganisasi. Sementara massa konkret merupakan sekumpulan orang yang mempunyai ikatan batin, persamaan norma, dan struktur yang jelas3.

Lain lagi dengan Park dan Burges, ahli sosiologi, membagi massa menjadi dua jenis, yaitu massa aktif dan massa pasif. Massa aktif disebut dengan mob karena bentuk massanya telah melakukan tindakan yang nyata. Sementara massa pasif disebut dengan audience yaitu sekumpulan orang-orang yang belum melakukan tindakan nyata2. Dan demonstrasi merupakan salah satu bentuk massa aktif. Menurut Neil Smelser, salah seorang sosiolog, mengemukakan ada beberapa kondisi yang memungkinkan munculnya massa, yaitu kegagalan kontrol sosial, struktur sosial, ketegangan dalam masyarakat, dan kejadian yang memicu munculnya massa4.

Dalam Psikologi, massa merupakan salah satu bentuk kolektivisme atau kebersamaan 4. Tidak heran jika massa seringkali disebut sebagai perilaku kolektif atau bentuk dari perilaku kelompok5. Seseorang yang terlibat dalam massa cenderung kehilangan kepribadian yang sadar dan rasional, serta melakukan tindakan kasar dan irasional yang berlawanan dengan kebiasaan2.

Ahli dalam perilaku massa lainnya, Gustave Le Bon, mengatakan bahwa massa memiliki sifat-sifat psikologis. Seperti orang tersebut mau dan mampu melakukan sesuatu yang tidak akan dilakukannya jika tidak tergabung dalam suatu massa2. Sebab sifat massa itu lebih impulsif, mudah tersinggung, ingin bertindak dengan segera dan nyata, kurang rasional, lebih mudah dipengaruhi, dan lebih mudah mengimitasi6.  Gustave Le Bon juga menambahkan bahwa dalam massa terdapat hukum bernama law mental unity, yaitu massa merupakan kesatuan pikiran dan jiwa2. Sementara itu, Freud, seorang psikolog juga mengungkapkan bahwa pada dasarnya manusia memiliki jiwa lain yang berlainan dengan sifat-sifatnya. Namun, terkadang manusia kurang menyadarinya dan terpendam begitu saja. Baru setelah bergabung dalam situasi massa, sifat-sifat tersebut muncul6.

Dari pendapat-pendapat tersebut, terlihat bahwa massa cenderung dianggap negatif. Padahal massa dapat membangun secara konstruktif, mendorong untuk melakukan perbuatan susila, dan terdapat sifat-sifat positif seperti rela berkorban dan suka membantu6. Jika dilihat dari konteks demonstrasi, tergabung dalam massa tergantung pandangan individu tersebut apakah ingin menjadi agresif atau yang konstruktif?


Sumber Data Tulisan (sertaan daftar pustaka atau footnote)

1Hafid, Dedi Herdiana. Psikologi Massa. Yogyakarta: UNY.

2Arishanti, Klara Innata. 2005. Handout Psikologi Kelompok.

3Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Yogyakarta: Penerbit Andi.

4Suryanto. 2008. Memahami Psikologi Massa dan Penanganannya. Diakses pada tanggal 1 Desember 2016 dari http://suryanto.blog.unair.ac.id/2008/12/03/memahami-psikologi-massa-dan-penanganannya/

5Matulessy, Andik. 2006. Massa, Kerusuhan dan Konflik Sosial: Suatu Telaah Psikologi Sosial. Diakses pada tanggal 1 Desember 2016 dari ttp://andikmatulessy.untag-sby.ac.id/tulisan/karya-ilmiah/88-massa-kerusuhan-dan-konflik-sosial-suatu-telaah-psikologi-sosial

6Santoso, Fauzan Heru. Psikologi Sosial.

Featured Image Credit: http://www.jeumpanews.com

Apriastiana Dian Fikroti

Introvert, penyuka warna biru, ailuropbilia, penikmat kata dan kopi.

Previous
Previous

Di Balik Kekuatan Pengaruh Sosial

Next
Next

Jobs: Memimpin dengan Idealisme