Kesepian? Siapa Takut! (3)

“Aku butuh sendirian saat menyelesaikan kesepian, tapi sebenarnya saat itu aku tidak bisa sendiri”

Tulisan ini dibuat terkait dengan artikel sebelumnya.

Perasaan Saat Kesepian

Saat kesepian, manusia dapat merasakan berbagai macam hal. Hal tersebut cenderung menjadi perasaan negatif yang dapat menjebak manusia dalam kesepian. Projek mini wawancara yang dilakukan penulis menemukan, perasaan yang sering dirasakan saat kesepian adalah sedih dan kecewa. Bahkan tidak jarang pula dirinya dapat menangis sendiri tanpa tahu penyebab yang jelas.

Kedua narasumber mengakui ketika merasa kesepian, mereka cenderung merasa bad mood dan dipenuhi oleh pikiran negatif. Pikiran bahwa tidak ada orang yang menghubungi, membantu saat menghadapi masalah, atau dengan kata lain, tidak ada lagi orang yang peduli.

Pernyataan di atas memperkuat bahwa seseorang yang kesepian memiliki tantangan untuk melawan pikiran negatif yang ada. Pikiran negatif yang dibiarkan, dapat berdampak pada kesehatan fisik manusia. Sakit fisik yang pernah dirasakan oleh narasumber, yaitu merasa pusing atau migraine. Sakit fisik ini disebabkan ia yang terlalu memikirkan dan memusingkan kesepian yang sedang dirasakan.

Mengatasi Kesepian

Setiap orang memiliki cara sendiri untuk mengatasi kesepian yang dirasakan. Kemudian ada perbedaan antara narasumber pertama dan kedua dalam menghadapi kesepian.

Narasumber pertama menyampaikan bahwa ia memilih tetap menyendiri di tengah kesepian yang dirasakan.  Ia menyadari akan berada dalam kondisi bad mood saat kesepian. Hal ini dapat menyebabkan perasaannya berubah total. Awalnya senang tiba-tiba menangis. Oleh karena itu, dirinya memilih untuk tetap sendiri daripada mencari orang lain untuk ditemui. Ia takut malah akan merugikan orang lain karena bad mood yang sedang dirasakan.

Selain itu, ia mengisi waktu kesendirian dengan menggambar, membuat origami, pergi ke tempat ramai sendiri, atau berolahraga. Dari beberapa pilihan yang disebutkan, hanya olahraga yang membuat narasumber dapat bertemu orang lain. Hal ini disebabkan olahraga adalah aktivitas yang tidak bisa dilakukan sendiri. Olahraga yang biasa dilakukan narasumber pertama ialah bermain basket atau jogging.

Ia juga menyatakan, menggambar adalah cara yang paling efektif mengatasi kesepian. Menggambar memang sudah menjadi hobinya sejak kecil. Ia menganggap gambar dapat menjadi media untuk mengekspresikan apa yang sedang dirasakan dan menghilangkan beban yang ada.

Di sisi lain, narasumber kedua memilih untuk menikmati kesepian yang dirasakan. Seburuk apapun perasaan yang dihadapi, ia akan memilih untuk menikmatinya sampai benar-benar habis. Ia berfokus untuk memperbaiki emosi yang dirasakan. Hingga akhirnya, ia merasa kembali baik seperti sedia kala.

Sebagai tambahan, ia sering mengatasi kesepian dengan merenung sendiri. Dari perenungan tersebut, dirinya belajar untuk menerima keadaan sepi yang ada, memikirkan solusi, serta menjaga pikiran tetap positif. Pada intinya adalah ia tidak ingin menganggap pusing atas kesepian yang dirasakan.

Cara Menghadapi Kesepian?

Terdapat dua penelitian yang membahas tentang respon manusia dalam menghadapi kesepian. Pertama, Rubenstein dan Shaver mengemukakan ada empat macam respon terhadap kesepian. Respon tersebut terdiri dari kepasifan yang menyedihkan (menangis, tidur, berpikir, atau tidak melakukan apapun), kesendirian aktif (mendengarkan musik, olahraga), menghabiskan uang, dan melakukan kontak sosial.

Kedua, Paloutzian dan Ellison berpendapat bahwa strategi yang paling efektif bagi orang kesepian adalah bergabung dengan sebuah kelompok atau melakukan aktivitas yang melibatkan orang lain. Hal ini dapat meningkatan keberhargaan diri seseorang dan berpikir lebih positif karena sudah melakukan suatu hal yang bermanfaat. Pendapat lain menyatakan bahwa aktivitas yang dilakukan seorang diri mampu mengurangi kesepian dengan meningkatkan mood dan kontrol diri seseorang.

Apabila membandingkan dengan jawaban narasumber, terdapat kesamaan dalam merespon kesepian berdasarkan penelitian yang ada. Yang dilakukan oleh mereka sama halnya dengan dengan kepasifan yang menyedihkan dan kesendirian aktif. Ditambah lagi, mereka sama-sama memilih untuk beraktivitas seorang diri demi mengembalikan mood dan dapat kembali mengendalikan diri dengan baik.

Kesepian: Baik atau Buruk?

Kesepian dapat menjadi baik atau buruk tergantung pada penilaian dan anggapan saat menghadapinya. Narasumber pertama menganggap kesepian menjadi hal baik selama mampu menilainya secara positif. Kesepian merupakan momen saat seseorang jauh dari orang lain. Dengan demikian, ia memanfaatkan momen tersebut untuk menginstropeksi diri.

Narasumber kedua juga mengatakan hal serupa. Ketika seseorang menganggap kesepian adalah hal yang biasa, maka akan menjadi baik-baik saja. Hal ini menyebabkan ia mampu melihat sisi positif dari rasa kesepian. Misalnya, memanfaatkan momen kesepian dengan melakukan sesuatu untuk diri sendiri, di saat orang lain tidak ada.

Sementara itu, mereka memiliki pandangan yang sama terkait kesepian dapat menjadi buruk. Ketika seseorang menganggap kesepian itu buruk dan memilih untuk mengisi kesepian dengan hal negatif maka kesepian akan menjadi negatif pula. Misalnya, menyalahkan orang lain, mengomel kepada diri sendiri, atau membagi perasaan negatif yang dirasakan ke media sosial.

 

Keberadaan kesepian dalam kehidupan memang nyata. Ada yang memilih untuk langsung mencari orang lain atau bertahan dengan diri sendiri untuk mengatasi kesepian. Pada prinsipnya, seseorang mencari kegiatan yang menyibukkan pikiran dan hati agar lupa dengan kesepian yang dirasakan.

Kesepian akan terus kembali hadir dalam kehidupan manusia. Perasaan ini menjadi tantangan bagi setiap manusia untuk mengetahui pola yang ada dalam dirinya. Pola dalam merasakan kesepian, menghadapi kesepian, dan selalu siap siaga dalam melawan kesepian yang ada dalam kehidupan kita.

Total
1
Shares
%d bloggers like this: