Keyakinan Diri dan Perilaku Menunda Pekerjaan

unsplash-image-SYTO3xs06fU.jpg

Mahasiswa adalah bagian dari institusi pendidikan yang dituntut untuk dapat menjalani proses akademik agar mampu berprestasi dengan optimal. Pada perjalanannya untuk mencapai tujuan berprestasi dengan optimal, mahasiswa seringkali dihadapkan dengan perkuliahan, tugas akademik dan non-akademik, serta deadline. Namun, hal ini seringkali membuat mahasiswa terlena dan mengerjakan tugas tersebut mendekati deadline waktu pengumpulan. Belum lagi jika tugas banyak dari berbagai mata kuliah dan membuat mahasiswa menumpuk hingga sering membuat kewalahan. Kondisi ini biasa disebut dengan prokrastinasi dalam bidang akademik.

Apa itu Prokrastinasi?

Prokrastinasi sendiri didefinisikan sebagai keadaan saat seseorang seharusnya melakukan suatu kegiatan dan bahkan mungkin ingin melakukannya, namun gagal memotivasi diri untuk melakukan aktivitas tersebut dalam jangka waktu yang diinginkan atau diharapkan. Kegagalan dalam memotivasi diri tersebut dapat mengakibatkan seseorang banyak kehilangan waktu untuk mengerjakan pekerjaannya dan banyak waktu yang sebenarnya bermanfaat menjadi terbuang percuma. Ellis dan Knaus, dalam sebuah penelitian psikologi, memperkirakan bahwa 95% dari mahasiswa Amerika sering menunda pekerjaan dan 20 orang adalah orang yang suka menunda-nunda secara kronis.

Prokrastinasi memiliki beberapa pemicu dan hal ini sulit untuk diisolasi penyebab utama dalam setiap kasus. Hal ini juga memungkinkan penyebab prokrastinasi adalah karena kurangnya motivasi. Kurangnya motivasi untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan akan mendorong individu untuk menemukan alasan agar tidak melakukan hal tersebut dan hal ini akan membuat rasa bersalah dan stres, yang selanjutnya melemahkan motivasi individu. Namun, Kendall dan Hammen berpendapat bahwa penundaan tersebut dilakukan individu sebagai bentuk coping yang digunakan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi yang dapat membuatnya stres.

Penelitian Seputar Prokrastinasi

Ada sebuah studi yang dijelaskan oleh Ferrari, dkk  mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik, yang dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kondisi fisik dan kondisi psikologis karena kurangnya rasa kepercayaan diri yang mana tugas tersebut dipersepsikan terlebih dahulu sulit, motivasi diri, ketekunan, kontrol diri, self-esteem, konsep diri dan pengaturan diri yang kurang baik. Faktor eksternal meliputi gaya pengasuhan orang tua, tingkat sekolah, reward dan punishment, tugas yang terlalu banyak dan kondisi lingkungan. Jika dikaitkan dengan fenomena ini salah satu faktor contohnya adalah gaya pengasuhan orang tua yang kurang mengawasi proses belajar anaknya dirumah akan mendorong individu untuk menyelesaikan pekerjaannya  tidak tepat waktu dari deadline yang telah ditentukan.

Individu cenderung menghindari tugas yang dirasa tidak menyenangkan bagi dirinya. Steel mengemukakan bahwa manusia secara alami akan menghindari stimulus yang tidak menyenangkan. Semakin situasi tersebut tidak menyenangkan, semakin sering individu tersebut menghindarinya. Demikian pula dengan tugas kuliah. Karakteristik tugas yang membuat mahasiswa enggan untuk mengerjakannya akan meningkatkan perilaku prokrastinasi. Penelitian mengenai prokrastinasi dan kesuksesan akademik mengungkapkan bahwa mahasiswa yang melakukan prokrastinasi memiliki rating yang tinggi dalam penarikan diri, penurunan performa akademik, dan kesehatan yang buruk.

Keyakinan Diri Berpengaruh Besar

Menghadapi fenomena di atas dan penyebab prokrastinasi akademik tersebut diperlukan keyakinan mahasiswa akan kemampuannya untuk menghadapi permasalahan dan melakukan  tindakan yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Keyakinan seseorang akan  kemampuan yang dimiliki disebut sebagai self-efficacy. Hal ini terkait dengan perasaan optimis bahwa diri kita adalah individu yang berkemampuan dan efektif.

Prat-Sala dan Redford menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat self-efficacy yang tinggi dalam hal membaca dan menulis tugas akan mengambil perkuliahan dengan gaya yang strategis. Sementara orang-orang yang memiliki tingkat self-efficacy rendah mengambil perkuliahan seolah-olah merasa tanpa beban. Dengan adanya self-efficacy yang tinggi membuat kita memiliki keyakinan atas kemampuan yang kita miliki dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Self-efficacy ini menuntun kita untuk menetapkan tujuan yang memiliki tantangan dan agar kita menjalankannya dengan tekun.

Dalam sebuah studi lintas budaya yang dilakukan di Singapura dan Kanada, variabel motivasi (misalnya, self-efficacy melalui kepercayaan diri dalam belajar) dan prokrastinasi ditemukan sangat memiliki keterkaitan. Di sini, self-efficacy digambarkan sebagai sumber dari motivasi bahwa self-efficacy individu dapat mempengaruhi seberapa seseorang ingin menunda pekerjaan. Berkenaan dengan prokrastinasi akademik, mahasiswa dari Singapura dan Kanada melaporkan prokrastinasi akademik yang paling sering dilakukan adalah dalam menulis tugas, berlawanan dari perilaku membaca atau belajar.

Jadi, mahasiswa yang memiliki self-efficacy tinggi akan berusaha untuk segera mengerjakan dan menyelesaikan tugas-tugas perkuliahannya dan tidak mudah menyerah sampai mencapai target yang diinginkan. Mahasiswa yang memiliki self efficacy rendah ketika dihadapkan pada suatu permasalahan tugas-tugas perkuliahan akan cenderung menghindarinya dan akan menunda pekerjaan serta penyelesaian tugas tersebut.

Pada dasarnya, prokrastinasi merupakan fenomena yang sering terjadi di kehidupan keseharian kita. Ada banyak hal yang sebenarnya mempengaruhi mengapa seseorang selalu ingin menunda-nunda pekerjaan. Ketidakyakinan akan kemampuan diri merupakan salah satunya. Yuk, yakinkan dirimu bahwa kamu bisa menaklukan semua tantangan pekerjaan/tugas yang diberikan kepadamu. Dengan tidak menunda pekerjaan, waktu kita akan lebih teratur dan hidup tentunya akan lebih nyaman!

Artikel dikirimkan oleh Amalia Fauhanisa

Pijar Psikologi

Pijar Psikologi adalah media non-profit yang menyediakan informasi kesehatan mental di Indonesia.

Previous
Previous

Kiat Saat Cemas Menjadi Pusat Perhatian

Next
Next

Mengapa Berhenti Merokok itu Sulit?