Cinta yang tidak dewasa berkata, ‘aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu’. Cinta yang dewasa berkata, ‘aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.’

– Erich Fromm

Siapa diantara Anda yang sedang jatuh cinta hari ini? Apakah jatuh cinta Anda membuat rasa malas atau justru bersemangat? Bahasan kali ini adalah tentang 5 fakta mitos dibalik cinta. Jatuh cinta itu membuat rasa malas, fakta atau mitos? Untuk tau selengkapnya yuk kita baca bahasan di bawah ini!

  1. Cinta pada pandangan pertama itu ada

Yaps, cinta pada pandangan pertama memang ada. Berdasarkan teori cinta Sternberg, tipe cinta seperti ini disebut sebagai infatuation atau istilah mudahnya adalah cinta pada pandangan pertama. Disebut cinta pada pandangan pertama karena hanya memiliki satu komponen saja yaitu, passion. Passion atau gairah adalah komponen yang bersifat fisiologis karena menyebabkan seseorang merasa ingin dekat secara fisik, menikmati atau merasakan sentuhan fisik dan lain sebagainya.1 Tipe cinta pada pandangan pertama dinggap akan cepat hilang karena hanya ada komponen tertarik secara fisik atau seksual tanpa ada komitmen dan kedekatan secara emosional.

  1. Friendzone itu tidak ada

Faktanya istilah friendzone dapat digunakan sebagai pengertian sederhana dari teori cinta Sternberg tipe liking. Tipe cinta seperti ini merupakan contoh lain dari cinta yang hanya memiliki satu komponen yaitu, intimacy. Intimacy merupakan komponen yang bersifat afeksi karena pelakunya berusaha melakukan kedekatan emosional dengan orang yang dicintainya.2 Anda hanya teman yang membuat orang lain nyaman. Tidak lebih, karena tipe cinta seperti ini tidak memiliki gairah dan komitmen jangka panjang.

  1. Orang yang memiliki cinta adalah orang yang sehat mental.

Yap, jika Anda orang yang sedang jatuh cinta atau memiliki cinta maka Anda adalah orang yang memiliki kepribadian yang sehat atau sehat mental. Orang yang sehat secara psikologi dapat memperlihatkan hubungannya yang hangat dan akrab dengan orangtua, anak, partner dan lain sebagainya. Cinta yang dimiliki oleh orang yang sehat secara psikologis adalah cinta tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat. Apabila mereka memberi cinta, maka cinta itu diberikan dengan syarat-syarat dan kewajiban-kewajiban yang tidak bersifat timbal balik.3 Jadi, sudah tuluskah Anda dalam mencintai seseorang? Bak cinta seorang ibu kepada anaknya. Kasih sayang dan cinta sepanjang masa.

  1. Jatuh cinta membuat seseorang menjadi malas.

Salah satu tokoh psikologi yaitu Fromm, menjelaskan bahwa orang yang memiliki kepribadian sehat adalah orang yang memiliki cinta yang produktif. Cinta produktif  berbeda dengan cinta erotis karena cinta produktif adalah cinta yang berbentuk kegiatan seperti cinta kepada sesama manusia, cinta seorang ibu kepada anaknya dan lain sebagainya. Cinta yang produktif memiliki empat sifat yaitu perhatian, tanggung jawab, respek dan pengetahuan.4 Berbagi makanan dengan tukang becak atau membantu seorang nenek menyebrang jalan merupakan contoh kecil dari cinta yang produktif. Jadi buang rasa malas Anda dan lakukanlah cinta yang produktif!

  1. Orang yang sedang jatuh cinta sanggup tidak makan.

Yakin Anda sanggup tidak makan ketika jatuh cinta? Menurut Maslow –tokoh psikologi yang terkenal dengan teori hierarki kebutuhan menjelaskan bahwa kebutuhan cinta dan kasih sayang berada di tingkat ketiga setelah kebutuhan akan rasa aman yang menjadi tingkat kedua pada hierarki kebutuhan Maslow. Makan menjadi salah satu kebutuhan mendasar, setelah melewati tingkat pertama baru Anda dapat melanjutkan ke tahap berikutnya, salah satunya kebutuhan cinta dan kasih sayang. Menurut Maslow, memberi dan menerima cinta sama pentingnya dengan cara membangun suatu hubungan akrab dan penuh perhatian dengan orang lain.5


Sumber Data Tulisan

1 Triangular theory of love, lebih lanjut dapat ditinjau dari artikel: http://study.com/academy/lesson/sternbergs-triangular-theory-of-love-definition-examples-predictions.html

2 lebih lanjut dapat dibuka pada laman www.psychologymania.com/2012/08/teori-cinta-triangular-theory-of-love_20.html?m=1

3, 4, 5 selanjutnya dapat Anda baca pada buku Duane Schultz : Psikologi Pertumbuhan

Featured Image Credit: www.scientificamerican.com

Total
6
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

%d bloggers like this: