Media Sosial Berdampak Positif? Bagaimana Caranya?

Karena seperti dua sisi mata uang, selalu ada hal positif yang bisa diambil dari setiap hal.

Siapapun yang membaca artikel ini pasti sudah memiliki akun media sosial. Entah itu rutin digunakan maupun yang hanya sesekali. Bagi para pengguna aktif, tentu rasanya sulit untuk melepaskan diri dari aktivitas di media sosial. Dampak-dampak negatif seperti kecanduan dan FOMO, selalu menghantui. Namun, tahukah kamu? Tetap ada banyak manfaat positif yang bisa kamu raih lewat media sosial?

Twitter

Akun media sosial yang identik dengan hewan burung ini sebenarnya media yang sangat mendukung bagi kamu yang selalu tidak ingin ketinggalan berita-berita terbaru. Saat ini, sudah banyak sumber pemberitaan akurat yang mulai menggunakan Twitter sebagai salah satu media penyebaran informasi terkini. Tentu saja, akun yang diikuti harus akun yang memang sudah terkenal akurasi pemberitaannya. Selain informasi yang cepat, pastinya kamu juga harus mendapatkan informasi yang valid kebenarannya.

Twitter juga media yang baik untuk memperluas wawasan. Ada banyak akun yang menawarkan pengetahuan umum penting berdasarkan hasil-hasil riset terbaru. Banyak akun yang bisa kamu ikuti untuk bisa memberikan kamu ilmu baru mengenai banyak hal. Bukankah menjadikan media sosialmu sebagai sumber belajar adalah hal yang menyenangkan?

Jangan lupa, tujuan awal Twitter dibentuk adalah untuk memfasilitasi mini blogging. Twitter hadir untuk memudahkan kamu menuangkan isi pikiranmu dalam bentuk tulisan-tulisan singkat. Melalui Twitter, kamu tidak perlu repot membuat blog baru. Fitur-fitur yang ada di Twitter sudah cukup lengkap untuk mendukung kamu berbagi ide dan cerita dalam versi cuitan singkat.

Hal hal yang bisa kamu lakukan di atas, tentu saja lebih bermanfaat daripada menjadikan Twitter sebagai media baru untuk mencela keburukan orang lain dan membeberkan berita hoax. Memperluas wawasan tentu akan lebih memberikan manfaat dibanding mengubah Twitter menjadi medan perang baru terhadap ide orang lain yang berlawanan dengan ide kita.

Youtube

Youtube merupakan media paling populer tempat berkumpulnya video-video. Platform yang masih bagian dari keluarga besar Google ini, banyak digunakan masyarakat untuk berbagai tujuan. Entah itu untuk publikasi iklan, kampanye sebuah gerakan atau produk, hingga untuk kepentingan pribadi. Sempat muncul kekhawatiran video-video dengan konten pornografi atau konten yang provokatif bisa menimbulkan masalah. Namun, bagaimana jika memilih kanal-kanal yang lebih bermanfaat? Beberapa kanal positif yang mungkin bisa mulai Anda subscribe: AJ+, TedTalks, dll.

taken from thesocialeffect.com

Facebook

Bagi banyak kalangan generasi milenial, media sosial ini mungkin sudah banyak ditinggalkan. Biasanya media ini masih digunakan oleh para orang tua yang ingin aktif bermedia sosial. Nah, mengubah Facebook menjadi media mendekatkan keluarga yang berdomisili jauh dari kamu, tentu bisa lebih memberikan manfaat. Daripada menjadikan Facebook sebagai tempat menyebarkan isu-isu tidak jelas, hal ini tentu lebih berguna kan?

Instagram

Media sosial yang dimiliki oleh Facebook ini sudah menjadi salah satu media sosial paling hits di kalangan masyarakat segala usia. Instagram dilabeli sebagai media sosial paling berbahaya untuk kesehatan mental oleh sebuah penelitian. Pun demikian, jika cermat, ada manfaat yang bisa diambil dari memiliki akun Instagram.

Apakah Anda seorang fotografer yang ingin memiliki galeri terbuka yang murah, mudah, namun menjangkau banyak orang? Instagram tempatnya.

WhatsApp

Seperti halnya LINE, ada transformasi fungsi yang terjadi pada WhatsApp. Dulu, media ini murni hanya untuk chatting. Bertukar pesan, mengirimkan foto dan dokumen, serta pesan suara adalah fitur umum yang bisa digunakan. Namun, akuisisi yang dilakukan Facebook, membuat WhatsApp mulai menambah fitur sosialnya, seperti status yang mulai bisa dalam berbagai bentuk (foto, video, atau sekadar tulisan). Mengembalikan WhatsApp ke fungsi utamanya sebagai sarana komunikasi merupakan hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir penyalahgunaan media sosial.

LinkedIn

LinkedIn merupakan media sosial yang populer di kalangan eksekutif dan pencari kerja. Biasanya tidak banyak hal ‘aneh’ yang terjadi di media sosial anggota Microsoft ini. Isinya cukup umum seputar dunia kerja dan bisnis. Kamu bisa menjadikan media sosial ini sebagai sarana mudah mencari pekerjaan. Biasanya banyak karyawan perusahaan yang menyebar lowongan pekerjaan lewat LinkedIn. Selain itu, LinkedIn juga bisa menjadi media yang tepat bagi kamu yang tertarik mengenal lebih dekat orang-orang sukses sesuai bidang yang kamu minati.

Line

Line telah menjadi sarana komunikasi ‘chatting’ yang kini mulai merambah menciptakan lingkungan media sosial yang baru. Penggunanya kebanyakan remaja hingga dewasa awal. Fitur stiker dan metode membagi postingan yang lebih variatif dan edgy membuat media ini cukup dekat dengan para remaja. Pun demikian, seperti yang lain, media ini tidak lepas dari pengaruh buruk untuk kesehatan mental.

Mengembalikan fungsi LINE kembali hanya untuk sarana komunikasi justru lebih baik. Bukan sarana menyebar pesan kebencian, kampanye hal provokatif, atau ‘perang komentar’ di postingan sendiri maupun orang lain.

Bijak Bermedia Sosial Bukan Hanya Wacana

Pada dasarnya, semua media sosial memang memiliki potensi untuk memberikan pengaruh buruk. Entah itu lewat fitur yang diberikan maupun lewat postingan-postingan yang ada di dalamnya. Kabar beredarnya banyak berita hoax di media sosial salah satu yang menjadi sorotan akhir-akhir ini. Bahkan, Facebook dan Twitter beberapa waktu kemarin sempat tersandung masalah oleh pemerintah AS terkait fake news yang tersebar di media mereka terkait pemilihan Presiden AS.

Semua tidak bisa dipungkiri, namun sebagai pengguna yang bijak, Anda harus bisa menerapkan filter pada diri Anda sendiri. Kini, media sosial seakan punya pemerintahannya sendiri dan setiap penggunanya telah menjadi hakim paling benar. Terus ingatkan diri sendiri, tidak semua hal harus dikomentari, tidak semua hal harus diberi respon. Hati-hati dalam membagi berita karena Anda harus memastikan dahulu kebenarannya. Tidak semua orang menjadi ‘jahat’ hanya karena apa yang mereka bagikan di media sosial. Hati-hati dalam memberikan komentar atas apa yang dibagikan orang lain. Bisa jadi komentar negatif Anda dapat menuntun orang itu ke arah hidup yang salah.

Mari gunakan media sosial dengan lebih bijak. Media sosial ada untuk mendekatkan yang jauh dan menjadikan yang dekat semakin hangat. Menciptakan lingkungan media sosial yang ramah adalah tugas kita bersama sebagai pengguna. Bukankah media sosial akan menjadi tempat yang lebih damai jika sesama penggunanya menyadari hal ini?

Ayo wujudkan media sosial ramah kesehatan mental!

 

Total
24
Shares
%d bloggers like this: