Mengendalikan Diri dengan Berpuasa

unsplash-image-HiENMowCYHg.jpg
“Puasa bukanlah ‘diet’ yang membakar kalori, melainkan membakar ego, kebanggaan, dan dosa.”
— Anonim

Puasa merupakan salah satu ibadah yang harus dijalani oleh umat Islam, terlebih pada bulan Ramadhan seperti ini. Jika dilihat dari sisi psikologi, selain sebagai bentuk ibadah, puasa juga memiliki manfaat psikologis. Salah satunya sebagai cara untuk mengendalikan diri.

Dalam teori hierarki kebutuhan yang dicetuskan Abraham Maslow disebutkan bahwa makan dan minum termasuk dalam kebutuhan fisiologis atau primer seseorang. Sementara menurut Freud, keinginan makan dan minum tersebut diibaratkan sebagai id atau keinginan yang muncul secara alami. Ketika seseorang tengah berpuasa, orang tersebut diharuskan untuk menahan itu semua, mengendalikan diri untuk ‘mendekati’ kenikmatan tersebut.

Pada dasarnya puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga hawa nafsu lainnya. Puasa berpengaruh positif terhadap psikologis seseorang, seperti berpengaruh terhadap emosi, performansi, dan perilaku. Puasa juga dapat menjadi sarana untuk melatih kesabaran, mengendalikan emosi negatif, melatih rasa empati, serta mengurangi sifat sombong dalam diri seseorang, Sebab seringkali seseorang berlebihan ketika makan dan minum. Akibatnya muncul perilaku egois atau mementingkan diri sendiri. Untuk itu, puasa menjadi salah satu cara untuk mengendalikan diri atau dalam istilah psikologinya disebut sebagai pengendalian diri atau self control. Istilah ini ditujukan bagi seseorang yang berusaha dengan seluruh kemampuannya serta dengan kesungguhan hati untuk menahan diri dari ‘musuh’ dari dalam dirinya.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa puasa merupakan ibadah yang mengharuskan seseorang untuk menahan nafsunya, seperti lapar dan dahaga. Namun, tidak jarang jika banyak pemicu yang membuat seseorang ingin makan, minum, bahkan membuat emosinya meledak-ledak. Dengan demikian perlu adanya kendali atau kontrol dari orang tersebut. Hurlock, seorang ahli psikologi perkembangan mengungkapkan bahwa pengendalian diri terkait dengan bagaimana seseorang mengendalikan emosi serta dorongan dalam dirinya. Dalam hal ini ‘musuh’ atau dorongan tersebut berupa keinginan untuk makan atau minum ketika berpuasa.

Pengendalian diri meliputi tiga hal yaitu pengambilan keputusan, mempertahankan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu, serta penguatan diri seperti memuji bahkan menyalahkan diri sendiri. Jika dikelompokkan, puasa termasuk ke dalam kategori kedua yaitu mempertahankan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Adanya pengendalian diri tersebut memiliki beberapa fungsi, yaitu membatasi perhatian seseorang terhadap orang lain, membatasi keinginan seseorang untuk mengendalikan orang lain. Selain itu, berfungsi untuk membatasi seseorang bertingkah laku negatif dan membantu seseorang menyeimbangkan kebutuhan. Dengan demikian puasa menjadi alat pengendalian diri yang menuntut seseorang untuk mengendalikan diri seseorang dari tindakan-tindakan yang merugikan diri, orang lain, dan lingkungan.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa puasa bukan hanya ibadah yang mengharuskan seseorang untuk menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Namun, puasa juga bermanfaat secara psikologis, seperti berpengaruh positif terhadap emosi dan perilaku, serta bermanfaat dari sisi kemanusiaan. Seperti melatih empati, mengendalikan emosi, serta melatih kesabaran. Puasa juga menjadi salah satu cara mengendalikan diri. Pengendalian diri tersebut memiliki beberapa fungsi, seperti membatasi seseorang bertingkah laku negatif. Untuk itu, ketika berpuasa sebaiknya diniatkan untuk beribadah sebab puasa memiliki manfaat spiritual dan psikologis. Bukan hanya diniatkan untuk menahan makan apalagi untuk diet.

Referensi:
1Rosita, Chairul Hana. 2009. Puasa dan Pengendalian Diri Perspektif Kesehatan Mental. Skripsi.
2Khairunnisa, Ayu. 2013. Hubungan Religiusitas dan Kontrol Diri dengan Perilaku Seksual Pranikah Remaja di MAN 1 Samarinda. eJournal Psikologi, 1, 2, 220-229.
3Yuwono, Susatyo. Pendidikan Karakter melalui Agama. 225-232
4Asikhin, Ahmad. 2005. Puasa Menurut Quraish Shihab dan Hubungannya dengan Kesehatan Mental.

Apriastiana Dian Fikroti

Introvert, penyuka warna biru, ailuropbilia, penikmat kata dan kopi.

Previous
Previous

Mempercayakan Kesehatan Mental Murid pada Sekolah?

Next
Next

Mereka, Orang-orang dengan Skizofrenia yang Masih Terabaikan di Indonesia