Menjadi Orangtua Tunggal Kuat dan Bahagia

“Menjadi orangtua tunggal bukan berarti menjalani hidup yang penuh perjuangan berat, tapi menjalani sebuah perjalanan yang diperuntukkan untuk orang-orang yang kuat.”

-Meg Lowery

Saat anak saya, Ahmad berusia 7 tahun, saya bercerai dengan suami saya. Sebagai anak yang juga memiliki orang tua yang juga bercerai, saya pernah bersumpah tidak akan menjadikan anak saya korban perceraian.  Namun Tuhan Berkehendak lain, mungkin ini Ujian Tuhan supaya saya menjadi single mom yang lebih baik dari ibu saya dan mengambil pelajaran dari parenting beliau.

Awalnya sangat berat, saya harus mengasuh anak saya, bekerja di kantor, mengurus pekerjaan rumah tangga, saya harus membayar sendiri semua tagihan listrik, air dsb dan juga mengantar jemput anak saya ke sekolah.

Tulisan di atas merupakan contoh ilustrasi dari perjuangan seorang ibu tunggal dalam menjalani tanggung jawab sebagai seorang orang tua tunggal.  Tapi sudut pandang tidak bisa hanya berasal dari sisi orang tua saja,  beban psikologis yang harus dijalani anak yang memiliki orangtua yang bercerai juga tidak kalah beratnya.  Berikut merupakan  beberapa permasalahan psikologis yang dihadapi anak-anak yang memiliki orangtua yang bercerai.

  1. Kecewa

Anak-anak yang memiliki orangtua bercerai akan mengalami kekecewaan yang mendalam karena harapan yang mereka impikan tentang keluarga  yang harmonis tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.

Dalam keadaan seperti ini anak-anak perlu penjelasan yang baik tentang bagaimana sesungguhnya hubungan kedua orangtuanya saat ini.

  1. Kebingungan

Anak-anak akan mengalami kebingungan harus mentaati perintah siapa, mamanya atau papanya.

Maka dari itu diperlukan aturan yang jelas tentang seberapa jauh mama atau papanya bertanggung jawab terhadap pengasuhan anak.

  1. Stress dan Sedih

Anak-anak akan stress dan sedih menghadapi kenyataan bahwa mama papanya tidak lagi bisa bersama.

Pada fase-fase awal perceraian orangtua, maka anak-anak sangat membutuhkan dukungan dan pendampingan orang tua saat-saat masa sulitnya.

Dari sisi orang tua, orang tua tunggal, akan mengalami pukulan yang berat saat menjalani perceraian. Sama halnya dengan anak, orangtua juga perlu melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang menjaga agar para orang tua tunggal tetap bahagia dan bersemangat menjalani hari-harinya. Berikut merupakan kebiasaan-kebiasaan positif yang baik untuk dilakukan orang tua tunggal :

  • Hentikan bertengkar di depan anak, atau meluapkan amarah dan kata-kata buruk saat anak-anak ada di sekitar Anda.

Susan Bartell, seorang psikolog keluarga mengatakan pentingnya orang tua untuk menahan diri supaya tidak mengeluarkan kata-kata buruk di depan anak1, anak-anak yang memiliki orang tua yang bercerai akan sangat mudah sensitif terhadap kata-kata yang dilontarkan kedua orangtuanya. Dan hal tersebut dapat membuatnya makin sedih.

  • Aturan tetap aturan

Saat suatu pasangan bercerai, menjadi ayah/ibu tunggal akan mempererat hubungan orangtua dengan anak sehingga terkadang peraturan-peraturan tertentu untuk anak di rumah jadi longgar. Anda harus tetap bisa mendidik anak untuk bisa menjalani peraturan-peraturan di rumah dengan baik.

  • Jangan menyendiri atau mengisolasi diri sendiri

Tingkatkan kepercayaan diri bahwa menjadi ibu tunggal berarti menjadi orangtua yang kuat. Buatlah kelompok support para orang tua tunggal yang bisa berasal dari wali murid teman anak Anda atau berasal dari rekan-rekan kerja Anda.

  • Re-charge energi secara berkala

Ada masa di mana Anda akan lelah sekali menjalani peran Anda sebagai orang tua tunggal. Jadi sangat penting bagi Anda untuk menyempatkan diri relaksasi atau melakukan hiburan-hiburan yang menyenangkan seperti pergi ke spa, bermain basket/olahraga-olahraga lain, rekreasi dsb.

  • Bekerja sama mendidik anak dengan suami meski sudah bercerai.

Boleh ada istilah mantan istri atau mantan suami, tapi sampai kapan pun tidak ada istilah mantan anak. Sehingga kepada siapapun hak asuh dimenangkan, sebaiknya mendidik anak dilakukan secara bekerja sama  dengan porsi masing-masing.

  • Cara memperkenalkan calon ayah atau ibu tiri kepada anak Anda.

Ada masa di mana Anda akan memperkenalkan calon ayah baru atau calon ibu baru kepada anak. Hal ini harus dilakukan dengan pendekatan yang benar. Berhati hatilah memperkenalkan kekasih Anda dengan anak-anak di awal kedekatan Anda dengan dia. Pastikan dulu apakah posisi yang kosong tersebut mau dan mampu dia isi dengan tulus. Pepper Schwarts, PhD, seorang profesor sosiologi dari Universitas of Washington mengatakan sangat penting untuk menjelaskan bagaimana kehidupan sosial Anda (termasuk tentang kekasih) kepada anak dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh mereka dan tidak membuat mereka menjadi khawatir2.

Menjadi orang tua tunggal merupakan fase baru dalam kehidupan yang membutuhkan banyak penyesuaian. Baik dari Anda sebagai orang tua, maupun bagi anak. Beberapa kiat di atas diharapkan bisa membantu Anda melakukan penyesuaian terhadap fase baru yang akan Anda jalani. Menjadi orang tua tetaplah hal yang menyenangkan karena Anda boleh saja menjadi orang tua tunggal namun Anda akan selalu memiliki anak Anda bersama Anda. Semoga beberapa tips tadi bisa membantu Anda menjadi seorang orang tua tunggal yang mampu untuk terus bahagia dalam mendidik dan membesarkan buah hati Anda.


Sumber Data Tulisan

[1] dan [2] adalah kutipan pendapat ahli dari www.parents.com
By: Nuurul Ilaahi R.

Featured Image Credit: www.kclawgroup.com

nuurul rahmawati

Mahasiswa Magister Profesi Psikologi Pendidikan UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>