Anak dengan retardasi mental seringkali dianggap sebagai pribadi yang inferior (lebih rendah) dibandingkan dengan anak normal seusianya. Hal ini tampak dari bagaimana orang-orang di sekitarnya memberikan ruang gerak yang terbatas pada kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu kurangnya penerimaan dari orang tua tak jarang menyebabkan perkembangan mereka semakin terhambat. Padahal dengan latihan yang cukup dan dukungan yang kuat, penyandang retardasi mental dapat hidup secara mandiri dan berkontribusi bagi lingkungan di sekitarnya. Karena itulah, langkah awal yang paling mudah adalah dengan belajar memahami kondisi mereka. Yuk, kita simak sedikit ulasan tentang retardasi mental!

Apa sih Retardasi Mental itu?

Istilah “retardasi mental” masih cukup asing di telinga sebagian besar masyarakat kita. Di dunia pendidikan Indonesia, retardasi mental lebih dikenal sebagai “tuna grahita”. Retardasi mental adalah sebuah kondisi di mana kemampuan intelektual seseorang di bawah rata-rata (IQ di bawah 70) dan terdapat gangguan dalam perilaku adaptif 1. Perilaku adaptif merupakan kemampuan seseorang dalam membina hubungan sosial dan menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari (seperti menggunakan transportasi umum, menggunakan uang untuk berbelanja, dsb). Dalam beberapa kasus, penyandang retardasi mental biasanya memiliki gangguan lainnya, seperti misalnya down syndrome, fragile-x syndrome, dsb.

Nah, jika dilihat dari hasil tes IQ, penyandang retardasi mental dapat dibagi menjadi kategori sebagai berikut:

  1. Retardasi Mental Ringan (IQ 50-69)

Pada kategori ini, kesulitan utama yang ditemui adalah tugas-tugas akademik di sekolah. Sebagian besar anak dengan retardasi mental memiliki perkembangan bahasa yang cukup untuk aktivitas berbicara sehari-hari. Meskipun terbilang lambat tapi anak dapat mencapai ketrampilan praktis dan rumah tangga untuk bisa hidup mandiri secara penuh.

  1. Retardasi Mental Sedang (IQ 35-49)

Mengalami perkembangan bahasa yang bervariasi. Ada yang mencapai kemampuan komunikasi secara  sederhana. Ada pula yang hanya mampu berkomunikasi seadanya untuk kebutuhan dasar saja. Selain itu, cenderung memiliki prestasi akademik yang rendah.

  1. Retardasi Mental Berat (IQ 20-34)

Memiliki kemampuan yang sama dengan kategori retardasi mental sedang. Umumnya menderita gangguan fisik motorik (gerakan) yang mencolok.

  1. Retardasi Mental Sangat Berat (IQ di bawah 20)

Pemahaman dan penggunaan kata sangat terbatas. Dengan latihan dan pengawasan yang tepat, anak dengan retardasi mental dapat melakukan tugas praktis dan rumah tangga yang sederhana.

Anak dengan Retardasi Mental dapat Hidup Mandiri!

Dulunya, banyak pakar yang percaya bahwa anak dengan retardasi mental tidak dapat mengalami peningkatan kemampuan dan sama sekali tidak bisa disembuhkan. Namun, saat ini anggapan tersebut perlahan-lahan mulai diubah. Penanganan dan pendampingan yang tepat akan anak dengan retardasi mental dapat bertindak secara mandiri. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa anak dengan retardasi mental kategori ringan dapat dilatih untuk mencapai kemampuan layaknya orang normal.

Beberapa ahli mengatakan bahwa baik-buruknya perkembangan kemampuan anak dengan retardasi mental sangat bergantung pada lingkungan di sekitarnya. Dalam hal ini, keluarga memiliki peran paling besar untuk membantu anak menjadi mandiri. Orang tua dan saudara harus mampu menerima kondisi keterbatasan anak untuk menerapkan pengasuhan yang tepat sesuai kebutuhan mereka. Misalnya saja, anak dengan retardasi mental kategori ringan dapat terus dilatih untuk bisa hidup mandiri sehingga anak tidak perlu bergantung. Terlalu memanjakan anak tanpa membekali kemampuan apapun justru dapat menjadi bumerang bagi masa depan anak.

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan?

Berbicara mengenai kebutuhan dari anak dengan retardasi mental, sebenarnya akan berkaitan dengan kategori retardasi dan kemampuan yang mereka miliki. Untuk itulah, sangat dianjurkan untuk pergi menemui psikolog anak guna melihat sejauh mana potensi dari anak. Akan tetapi, ada beberapa hal umum yang bisa dijadikan acuan mengenai apa yang harus diperhatikan oleh keluarga:

  1. Pemilihan Sekolah

Dengan kemampuan di bawah rata-rata normal, kadangkala anak dengan retardasi mental kategori ringan tidak tampak mengalami gangguan. Gangguan akan mulai terdeteksi ketika anak mengalami masalah dalam bidang akademik. Untuk itulah, cari rujukan dari psikolog mengenai sekolah terbaik yang sesuai dengan kebutuhan anak. Jangan merasa gengsi untuk memasukkan anak di Sekolah Luar Biasa karena sebenarnya itulah yang dibutuhkan oleh anak. Memaksakan anak untuk sekolah di sekolah normal dapat menimbulkan masalah lain seperti bullying dan gangguan emosional.

  1. Melatih Kemampuan Berbahasa

Secara berkala, ajari anak untuk melatih kemampuan berbahasa. Secara perlahan, ajarkan kosakata yang dapat membantu dia berinteraksi dengan dunia sekitar. Tekankan pada kata-kata yang dia butuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Mengajari Anak Untuk Aktif

Di kehidupan sehari-hari, anak dengan retardasi mental memiliki pilihan yang sangat terbatas mengenai aktivitas yang bisa dia lakukan. Kebanyakan anak dengan retardasi mental hanya menghabiskan waktu dengan menonton TV atau mendengarkan radio. Hal ini bisa menyebabkan perilaku pasif pada anak. Ajarkan anak kegiatan-kegiatan yang dapat membuat dia berinteraksi dengan orang lain. Anak juga bisa dituntun untuk memiliki hobi yang menguntungkan seperti memasak, melukis, dsb.

  1. Perkembangan Seksual

Masalah seksual juga perlu mendapat perhatian serius. Ajari anak untuk memahami masalah-masalah pubertas yang mungkin muncul, seperti menstruasi atau mimpi basah.  Anak juga harus diberikan pengertian tertentu agar tidak terjebak pada pelecehan seksual. Sangat disarankan untuk menemui dokter atau psikolog yang bisa memberikan anjuran mengenai penanganan masalah seksual anak.

  1. Persiapan Untuk Masa Depan

Bekali anak dengan keterampilan-keterampilan hidup yang akan membantu ia untuk tidak terlalu bergantung pada keluarga. Ajarkan pula cara berkomunikasi dengan baik, etika ketika berada di tempat umum, ketepatan waktu, hingga kemampuan untuk berkarir di pekerjaan sederhana. Sadari orang tua atau keluarga tidak bisa selamanya menjaga hidup anak. Salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan kemandirian anak adalah dengan menempatkan anak pada sekolah yang tepat, sekolah yang berfokus pada peningkatan life-skill anak.

Tentu saja masih banyak sekali toleransi dan dedikasi yang harus diberikan dari orang-orang sekitar untuk membantu kehidupan anak dengan retardasi mental. Akan tetapi, kelima hal tersebt bisa dijadikan langkah awal untuk memberikan perawatan yang sesuai bagi kebutuhan anak. Perbanyak berdiskusi dengan ahli yang berkompeten dan biasa menangani kasus-kasus semacam ini. Semangat mengasuh anak dengan retardasi mental, kalian semua tidak sendiri. 🙂


1 Kampert, A. L., & Goreczny, A. (2007). Community involvement and socialization among individuals with mental retardation . Research in Developmental Disabilities , 278-286.

2Hallahan, D. P., Kauffman, J. M., & Pullen, P. C. (2012). Exceptional Learners. Upper Saddle River : Paerson .

Berikut beberapa sumber pustaka lain yang dapat digunakan terkait retardasi mental :

Maslim, R. (2001). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa . Jakarta : PT Nuh Jaya .

Shea, S. E. (2006 ). Mental Retardation in Children Ages 6 to 16. Seminar in Pediatric Neurology , 1-9.

By: Anggrelika Putri K.

Image Credit : http://www.psikologiku.com/wpcontent/uploads/2014/11/Karakteristik-Anak-Tunagrahita.jpg

Total
183
Shares
%d bloggers like this: