Move On: Yang Lalu Biarlah Berlalu Agar Tidak Jadi Benalu

“Membiarkan seseorang pergi artinya menjemput realita bahwa beberapa orang hanya menjadi bagian dari sejarah kehidupanmu, bukan bagian dari takdirmu.” – Steve Maraboli

“Hari gini belum bisa move on? Ayolah, masa nggak bisa?”

“Udahlah yang dulu-dulu dibuang ke laut aja, cari yang baru kan gampang, Bro!”

“Dia udah nyakitin kamu, tapi kamu tetep mikiran dia? Oh, ya ampun, yang bener aja!”

“Apa sih yang bikin kamu gak bisa move on sama dia? Banyak kali yang lebih baik selain dia!”

“Kamu kenapa seharian ini murung terus? Masih kepikiran dia?”

Pasti Anda tidak asing dengan kalimat-kalimat diatas? Ya, kata-kata yang sering kali dilontarkan pada teman yang gagal move on! Memang menyarankan teman atau sahabat untuk move on lebih mudah dibandingkan dengan menjalankannya. Kenyataannya, move on tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagi sebagian orang move on adalah hal yang wajib dilakukan ketika sebuah hubungan tidak lagi dapat dipertahankan. Bagi sebagian yang lain, niat untuk move on saja tidak terpikirkan sebab pusingnya bukan kepalang. Maka jangan remehkan, mereka yang susah move on lho, karena menurut penelitian psikologi, putus setelah menjalani hubungan merupakan sumber stres dan depresi yang berdampak pada emosi yang labil1. Nah, kenapa sih move on itu susah sekali? Yuk, simak mitos dan fakta berikut ini.

1. Mendengarkan lagu patah hati bisa menyembuhkan

Mitos. Ketika Anda baru saja putus dengan kekasih, wajar bila perasaan di hati bergejolak. Melakukan aktivitas pun jadi tidak menyenangkan lagi. Akhirnya, Anda memutuskan untuk menyetel radio atau mendengarkan musik yang sesuai dengan hati. Ya, seringkali lagu sendu dan sedih menjadi pilihan yang terbaik untuk didengarkan saat hati gundah gulana, bukan? Nah, ternyata pilihan Anda salah. Faktanya, di awal putus lalu mendengarkan lagu-lagu galau sembari mengingat kenangan bersama kekasih mungkin membuat Anda merasa tenang. Akan tetapi, jika lagu galau diputar terus menerus sampai berhari-hari justru membuat perasaan akan semakin buruk. Hal tersebut diakui oleh terapis musik yang bernama Dr Katrina McFerron. Beliau mengungkapkan bahwa mendengarkan lagu galau disaat hati sedang galau dapat memperburuk kondisi kesehatan mental2. Oleh sebab itu, selain tidak baik untuk kesehatan mental, mendengarkan lagu galau disaat hati risau dapat menggagalkan niat move on.

2. Belum memaafkan

Fakta. Siapa yang menginginkan hidup dalam rasa kesal, sakit hati, dendam, dan penuh kegelisahan? Tentu hidup menjadi tidak nyaman. Terkadang mungkin diri ini masih belum bisa menerima kenyataan bahwa saat ini beranjak dari masa lalu adalah pilihan yang tepat. Nah, kunci betapa sulitnya move on dari masa lalu adalah sulit memaafkan. Memaafkan diri sendiri dan memaafkan kesalahan orang lain memang tidak mudah. Akan tetapi hal tersebut yang membuat susah sekali move on. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hoffman Institute, memaafkan merupakan bagian terpenting dari proses penyembuhan. Entah akibat amarah atau rasa sakit yang ada di dalam hati3. Proses memaafkan membuat kedamaian di hati dan di pikiran, serta menghilangkan perasaan bersalah juga malu. Fakta membuktikan bahwa menerima kesalahan yang terjadi di masa lalu adalah suatu hikmah yang berharga apabila Anda dapat belajar dan beranjak untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Memaafkan menjadikan diri Anda lebih bijak dan lapang dada, move on pun menjadi cepat.

3. Sudah memikirkan masa depan bersama si Dia

Fakta. Didalam sebuah hubungan yang serius tentu masa depan bersamanya sudah dipikirkan bersama-sama. Satu sama lain sudah menceritakan cita-cita, mimpi, dan harapan masing-masing. Namun, apa boleh buat jika ternyata Anda tidak dapat membangun keluarga yang sudah dicita-citakan berdua karena sesuatu hal. Faktanya, hal itulah yang membuat Anda susah move on. Bayangan di masa mendatang, prospek masa depan, dan tujuan hidup yang sama dengan visi misi hidup mantan kekasih membuat move on jadi terhambat. Akan tetapi, jika sebuah hubungan tidak menemukan kecocokan sehingga tidak mampu bertahan maka berpisah memang jawabannya. Tinggal proses move on yang harus terus berlanjut!

4. Hati-hati dengan ‘Limerence’

Fakta. Dalam kajian ilmiah tentang jatuh cinta, terdapat istilah yang dinamakan ‘Limerence’. Limerence adalah suatu kondisi psikologis berupa daya tarik romantis terhadap orang lain sampai membuat 95% pikiran fokus hanya memikirkan pasangan. Dampaknya adalah perilaku obsesif terhadap pasangan. Studi yang pernah dilakukan oleh seorang antropolog bernama Helen Fisher mengungkapkan bahwa orang yang sedang jatuh cinta dan terus memikirkan pasangan mereka mengaktifkan bagian di otak yang berhubungan dengan adiksi4. Kalau sudah adiksi atau ketagihan, tentu sulit melepasnya, bukan? Oleh sebab itu, cinta yang berlebih dapat dipastikan mempersulit proses move on.

5. Tidak ada hubungannya dengan masa kecil

Mitos. Masa kecil dengan keluarga ternyata memberikan pengaruh yang signifikan terhadap cara individu membangun sebuah hubungan. Jika di masa kecil, orangtua dapat memberikan kehangatan dan rasa sayang yang cukup, anak akan merasa memiliki figur lekat yang ia percaya. Anak akan tumbuh dengan perasaan aman dan terlindungi. Apabila suatu hari anak mendapatkan pengalaman ditinggal seseorang, ia tidak akan merasa jatuh dan rapuh. Sebaliknya, jika anak dibesarkan oleh orang tua atau keluarga yang kurang memberikan kasih sayang, anak akan tumbuh dengan kecemasan. Hal itulah yang membuat dirinya selalu membutuhkan orang lain disebelahnya untuk memberikan afeksi atau rasa sayang. Ketika dirinya mengalami pengalaman ditinggal seseorang atau putus dengan kekasih, mudah sekali baginya untuk stres dan terpuruk. Oleh sebab itu, sulitnya move on juga disebabkan karena individu belum mampu berdiri sendiri membangun kepercayaan diri. Bergantung pada kehadiran orang lain jelas menghambat usaha move on.

Nah, setelah membaca mitos dan fakta seputar move on yang beredar di sekeliling kita tentunya kita jadi lebih memahami fenomena move on. Tidak semua orang dapat dengan mudah melupakan seseorang yang pernah singgah di hatinya, mereka punya alasan mengapa move on begitu berat dihadapinya. So, jangan takut untuk move on!


Sumber Data Tulisan:

1 Larson, Grace., & David A. Sbarra. (2015). Participating in Research on Romantic Breakups Promotes Emotional Recovery via Changes in Self-Concept Clarity. Social Psychology and Personality Science, Vol. 6(4), hlm. 399-406.

2http://www.huffingtonpost.com.au/2017/01/20/so-maybe-dont-keep-listening-to-that-breakup-song-if-you-want/

3 https://psychcentral.com/lib/using-forgiveness-to-move-on/

4 Fisher, Helen., dkk. (2005). Romantic Love: An fMRI Study of a Neural Mechanism for Mate Choice. The Journal of Comparative Neurology, hlm. 58-62.

5http://www.dailymail.co.uk/femail/article-3079345/Tracey-Cox-reveals-hard-let-love.html

Referensi foto: http://www.lovepanky.com/

Nurkhalisha Ersyafiani

Mahasiswi Psikologi. Penikmat seni dan pecinta kuliner yang suka berdialog dengan menulis.

%d bloggers like this: