“Gangguan mental bukanlah takdir yeng mereka inginkan. Jadi, mari dukung mereka untuk menghadapi takdir dan hidup bahagia seperti apa yang mereka inginkan.”

Setiap insan tentu tak ingin dipandang sebelah mata, bukan? Ya, manusia memang tidak dapat memilih ia terlahir dengan keadaan seperti apa dan bagaimana. Namun percayalah, Tuhan telah menitipkan potensi yang berbeda pada setiap ciptaan-Nya. Bagi mereka yang memiliki gangguan mental, hidup tidaklah semudah yang dibayangkan. Terkadang mereka masih berteman dengan kesendirian karena justru diasingkan. Bahkan tak jarang mereka dicaci, diolok, atau malah terabaikan. Lalu, pernahkah kita merasakan untuk berada di posisi mereka?

Orang-orang dengan gangguan mental pada umumnya akan kesulitan dalam menjalin hubungan dan mengembangkan interaksi dengan lingkungan. Mereka cenderung memiliki kontak sosial yang terbatas.1 Tentu saja mereka merasa kesepian dan terisolasi. Untuk itu, mereka membutuhkan dukungan sosial (social support). Sedikit dukungan dari kita adalah semangat mereka.  Inilah yang menjadi kekuatan utama mereka dalam menjalani hidup.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dukungan sosial merupakan elemen yang penting, terutama dukungan dari keluarga. Dukungan dari keluarga dapat diartikan sebagai sikap, tindakan, dan penerimaan terhadap anggota yang mengalami gangguan mental.2 Lalu, seperti apa bentuk-bentuk dukungan yang dapat dilakukan? Mari temukan jawabannya melalui beberapa penjabaran berikut :

  1. Jangan pernah ragu untuk menjalin komunikasi

Inilah yang disebut dengan pemberian dukungan informasional. Komunikasi merupakan gerbang untuk dapat memperoleh pemahaman dari hati ke hati. Hal ini dapat diwujudkan dengan mendengarkan keluh kesah mereka maupun memberikan  tanggapan atas apa yang telah mereka lakukan. Dengan begitu, mereka tak akan lagi merasa sendiri. Sharing akan membuat mereka terbuka untuk mencurahkan isi hati.

  1. Berikan penilaian positif

Ingat, jangan pernah memandang rendah orang dengan gangguan mental. Kita perlu mengapresiasi mereka. Dukungan dapat dilakukan dengan menghapus pandangan buruk yang selama ini dilabelkan pada mereka. Saat kita menghargai mereka, saat itulah mereka juga akan belajar untuk menghargai diri mereka sendiri. Hal ini akan membantu meningkatkan self esteem mereka. Self esteem merupakan rasa penghargaan terhadap diri. Seseorang yang  memiliki self esteem akan mampu  memaknai kehidupan mereka secara positif.

  1. Lakukan kontrol dan pengawasan

Fasilitasi orang dengan gangguan mental untuk dapat mengembangkan diri mereka menuju kesembuhan. Perhatian dari orang sekitar merupakan obat penyembuh yang mujarab. Berikan pula dukungan instrumental agar  mereka tidak menyerah dalam menjalani hidup. Hal ini dapat diwujudkan dengan melakukan pengawasan terhadap aktivitas yang mereka jalani. Jangan lupa untuk melakukan kontrol pola makan, memantau perkembangan, atau mengingatkan mereka untuk menjalani pengobatan. Satu hal, jangan mengekang mereka dengan sederet  peraturan yang membebani. Beri kesempatan bagi mereka untuk dapat melakukan aktivitas yang mereka suka selama itu tidak membahayakan diri mereka sendiri. Hal tersebut mampu menghindarkan mereka dari  stress maupun depresi.

  1. Terima mereka dengan tulus dan tanpa syarat

Tak jarang orang dengan gangguan mental merasa didiskrimasi. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa tak semua orang mampu menerima mereka dengan baik. Benar, mereka sering merasa ditolak. Oleh karena itu, dukungan emosional sangat diperlukan. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui penerimaan, kepedulian, pemberian semangat untuk menjalani kehidupan. Cobalah memberi ruang bagi mereka agar mereka mampu menjadi diri sendiri. Dengan demikian mereka akan mampu memupuk rasa percaya diri. Saat mereka telah memiliki rasa percaya diri, mereka akan mampu menjalankan fungsi dan peran mereka dengan baik.

Tak ada seorangpun yang dapat mengarungi hidup sendirian. Begitu juga dengan orang dengan gangguan mental. Mereka membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya. Melalui dukungan sosial,  kita dapat membantu mereka untuk mencapai subjective well-being atau kesejahteraan. Dukungan juga mengandung energi positif bagi mereka. Saat mereka kehilangan semangat dan melambaikan bendera putih pada kehidupan, maka dukungan sosial siap menjadi penopang agar mereka mampu bangkit kembali.

Sejatinya, dukungan sosial merupakan aspek dasar kehidupan. Sayang sekali, kenyataannya dukungan sosial bagi orang dengan gangguan mental masih rendah.4  Dukungan dari orang sekitar merupakan hal sederhana yang jarang mereka dapatkan. Tentu  dukungan sosial hendaknya tak hanya  datang dari keluarga semata tapi juga dari masyarakat secara luas. Memberikan dukungan sosial tidaklah sulit. Namun, sudahkah kita melakukannya? Ayo mulai beri dukungan dan jadi bagian dari setiap kebahagiaan mereka.


Sumber Data Tulisan

1Davidson, L., Haglund, K. E., Stayner, D, dkk. (2001). ‘It was just realizing…that life isn’t one big horror’: A qualitative study of supported socialization. Psychiatric Rehabilitation Journal, 24(3), 275–292

2Friedman, M.M. (2003). Family Nursing Research Teory and Practice 5rd Edition. Stanford : Appieton & lange.

3Setiadi. (2008). Keperawatan Keluarga. Jakarta : ECG

4 Ryan, J William. (1999). Perceived of Social Support and The Efect Living in the Community for Individual with Serious and Presistent Mental Ilness.University of Pennsyvania.

Baca juga jurnal terkait :

Brian H., Mc Corkle E., Sally Rogers, dkk. (2008). Increasing Social Support for Individuals with Serious Mental Illness. Evaluating the Compeer Model of Intentional Springer Science+Business Media. Community Ment Health 44:359–366 DOI 10.1007/s10597-008-9137-8

By: Anggrelika Putri K.

Featured Image Credit: www.eryica.org

%d bloggers like this: