Narsis, Yakinkah Anda Sudah Mengenal dengan Benar Makna Kata Ini?

“Orangorang dengan gangguan mental hanya butuh dipahami. Setelah mereka dipahami maka banyak orang akan menyadari, orang dengan gangguan mental sama dengan orang biasa, hanya saja dengan sesuatu yang ekstra dalam diri mereka.” – Stephen Fry

Apakah Anda akrab dengan kata narsis? Maraknya perilaku di dunia maya seperti mempublikasi foto hasil swafoto atau selfie, menulis status tentang kebanggaan diri.  Serta perilaku lainnya banyak dikaitkan dengan perilaku narsis. Namun, tahukah Anda apa sebenarnya yang dimaksud dengan narsis? Apakah perilaku-perilaku yang tadi disebutkan memang termasuk ke dalam perilaku narsis?

Narsis termasuk ke dalam kategori gangguan mental

Tahukah Anda fakta bahwa narsis sesungguhnya masuk ke dalam kategori gangguan mental? Narsis memiliki nama ilmiah Narcisstic Personality Disorder. Nama ilmiah ini sesuai dengan panduan diagnosa dan statistik gangguan mental yang dibuat oleh Asosiasi Psikiatri Amerika serta digunakan di seluruh dunia. Apa sebenarnya pengertian gangguan kepribadian narsistik?

“Sebuah gangguan yang ditandai dengan perasaan superior yang berlebihan, kebutuhan untuk dikagumi dan kurangnya empati yang dimulai di masa dewasa awal dan terjadi di banyak konteks kehidupan pribadi yang bersangkutan.”

Selain pengertian di atas, ada beberapa indikasi lain yang harus terpenuhi untuk dapat mengategorikan seseorang memiliki gangguan kepribadian narsistik, yaitu:

  • Memiliki keinginan yang besar untuk mementingkan diri sendiri (menonjolkan secara berlebihan akan prestasi dan talenta yang dimiliki, ingin dikenal sebagai seorang yang superior meski tanpa prestasi yang mendukung)

  • Sering berfantasi tentang kesuksesan tidak terbatas, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan atau cinta yang ideal.

  • Memiliki kepercayaan bahwa dirinya adalah sosok yang spesial dan unik serta hanya bisa dimengerti atau disandingkan dengan orang atau institusi yang memiliki kekuasaan tinggi.

  • Memiliki ekspektasi yang tidak masuk akal terutama mengenai perlakuan spesial dari orang lain atau keinginan orang lain secara otomatis mengabulkan keinginannya

  • Sering memanfaatkan orang lain untuk memperoleh hasil yang diinginkan

  • Kecenderungan untuk membaca adanya maksud merendahkan atau mengancam yang tersembunyi di balik ucapan manis orang lain

  • Memiliki kemampuan empati yang rendah dan tidak ingin mengenal atau mengidentifikasi perasaan dan kebutuhan orang lain

  • Sering merasa iri kepada orang lain atau berpikiran bahwa orang lain iri terhadap dirinya

  • Menunjukkan kesombongan dan perasaan atau perilaku superior terhadap orang lain.

Seseorang yang sudah didiagnosa oleh psikolog, psikiater atau pihak medis kejiwaan lainnya, tidak selamanya akan memiliki gangguan ini seumur hidup mereka. Individu dengan Narcisstic Personality Disorder biasanya kesulitan untuk tetap berperilaku seperti ini saat mereka mulai menua.

Jangan mudah menilai orang

Nah, sekarang Anda sudah mengetahui pengertian dan detil tentang indikasi gangguan kepribadian narsistik sesuai dengan makna yang sebenarnya. Alangkah lebih baik jika pengetahuan ini digunakan untuk semakin memahami orang lain, bukan untuk menilai mereka. Perlu diingat, menjustifikasi seseorang memiliki gangguan mental hanyalah hak seorang psikiater, psikolog, atau orang lain yang bekerja di medis bidang kejiwaan. Jika Anda merasa orang yang Anda kenal atau mungkin diri Anda sendiri cocok dengan indikasi yang telah diurai di atas. Maka ini saatnya Anda untuk lebih memahami. Baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Mereka yang memiliki indikasi-indikasi di atas tetap merupakan individu biasa yang sepantasnya diperlakukan sama dengan orang lain. Tentu perilaku mengucilkan, memberi julukan atau merendahkan mereka yang terlihat memiliki indikasi di atas bukanlah perilaku yang terpuji. Sudah saatnya kita mengenal apa yang mereka alami untuk memahami mereka dengan lebih baik serta membantu mereka mencari pertolongan yang tepat. Menilai mereka dengan pemberian label tertentu hanya akan menambah masalah mereka, tidak mengurangi.

Apakah semua perilaku mencintai diri sendiri termasuk narsis?

Jawabannya tidak. Perilaku mencintai kekurangan dan kelebihan diri sendiri adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua orang. Terlebih agar Anda mampu memahami diri sendiri dengan lebih baik dan lebih menghargai orang lain. Perbedaan Anda yang mencintai diri sendiri dengan orang narsis adalah orang narsis melakukan perilaku mencintai diri sendiri yang berlebihan demi orang lain. Mereka melakukannya agar orang lain bisa memandang mereka baik. Perilaku mencintai diri sendiri yang baik adalah cintai diri sendiri untuk kebaikan diri bukan untuk pandangan orang lain. (cek bahasan tentang ini selengkapnya di sini)

Jadi, dengan mengetahui banyak hal tentang sebuah gangguan mental, siapkah Anda menjadi agen perubahan yang tidak lagi sembarang menilai orang dengan gangguan tersebut? Pastikan Anda menjadi yang memahami dunia mereka, bukan yang menjadi pemberi label negatif untuk mereka. Mereka semua sama dengan kita. Mereka tidak memilih untuk berada di keadaan di mana diri mereka memiliki gangguan ini. Sudah saatnya kita menjadi yang membantu mereka untuk menjadi lebih baik. Bukan dengan label negatif namun dengan dukungan positif!


Sumber Data Tulisan

  • Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) – V. Terbit 2013

Featured image credit: http://wikihow.com

Koes Ayunda Zikrina Putri

Alumna Fakultas Psikologi UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: