“Kita boleh percaya pada sebuah keajaiban, tapi jangan pernah bergantung padanya. Kita juga boleh bermimpi setinggi-tingginya. Namun jangan pernah lupa mewujudkan mimpi itu. Bayarnya setiap mimpi dengan kerja keras, semangat, dan komitmen.” – Anonim

Seberkas Cerita dari Lennon

Sumber gambar sumbang tulisan

Seorang pria di Liverpool (Inggris) mengidap disleksia, yakni sebuah penyakit yang membuat penderitanya kesulitan dalam membaca dan menulis. Karena penyakitnya itu, nilai berbagai mata pelajaran di sekolahnya jeblok. Ia tidak bisa melakukan pekerjaan dengan benar dan orang-orang di sekitarnya mengatakan bahwa masa depannya akan suram.

Namun yang paling membuatnya kesal, ia kesulitan menghafal lirik-lirik lagu kesukaannya karena penyakitnya. Dengan tekad yang bulat ia memutuskan untuk menulis lirik dan membuat lagu sendiri. Tak disangka, beberapa tahun kemudian lagu-lagu yang ia bawakan bersama band-nya berhasil membuatnya terkenal.

Nama pria itu adalah John Lennon. Sedangkan band yang senantiasa mendampinginya yaitu The Beatles. Hingga hari ini, John dan The Beatles telah menginspirasi jutaan orang lewat lagu-lagunya. Ia telah sukses membuat penyakitnya menjadi bara pendorong untuk tetap getol menulis lagu dan kemudian menjadikannya legenda dalam dunia musik.

Inspirasi pun datang dari Bauby

Sumber gambar sumbang tulisan 2

Kisah yang tak kalah hebat datang dari Jean Dominique Bauby, pimpinan redaksi majalah Elle di Prancis. Pada tahun 1995, di umurnya yang ke-43, Bauby terkena stroke parah. Setelah 20 hari tak sadarkan diri, ia akhirnya terbangun dengan perasaan kacau balau. Rupanya ia terkena locked-in syndrome, penyakit yang membuatnya tidak mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya (kecuali bagian mata kirinya). Dengan kata lain, ia tidak bisa melakukan apapun kecuali berkedip.

Manusia normal mungkin sudah kehilangan hasrat untuk hidup jika terkena penyakit mengerikan macam itu. Namun tidak dengan Bauby. Ia merasa bahwa imajinasinya masih tetap hidup meski tubuhnya tak bisa digerakkan. Berbekal pengalamannya sebagai penulis, ia bertekad untuk membuat karya dengan kondisinya yang nyaris mustahil untuk menulis buku.

Dengan bantuan asistennya, ia “menulis” buku dengan cara berkedip. Asistennya membacakan rangkaian huruf kepada Bauby dan ia akan berkedip jika alfabet yang disebutkan oleh asistennya sesuai dengan keinginannya. Kemudian asistennya menulis huruf itu di atas kertas. Begitu seterusnya hingga terbentuk kata, kalimat, paragraf, dan akhirnya jadi sebuah buku.

Buku yang disusun dari 200 ribu kedipan itu berjudul The Diving Bell and the Butterfly. Sampai hari ini, buku itu telah terjual sebanyak jutaan kopi dan sempat menjadi buku terlaris di Eropa. Tidak hanya itu, film yang merupakan adaptasi dari buku tersebut juga mendapat 4 nominasi Oscar. Tak diragukan lagi, Bauby telah membuat master piece meski ia hanya bisa berkedip.

Belajar dari Kisah Lenon dan Bauby

John Lennon dan Jean Bauby telah menunjukkan bahwa kekurangan bukan alasan untuk bermuram durja. Mereka terus berkarya. Mereka adalah contoh bahwa manusia memiliki potensi untuk melakukan sesuatu yang besar, meski dihadang hambatan yang juga tak kalah besar.

Dalam kehidupan sehari-hari kita masih sering terpaku pada kekurangan kita, aih-alih berfokus pada apa yang kita miliki. Hasilnya, mau tidak mau, aura pesimisme dan atmosfir keputus-asaan tak jarang menyeruak di sekita rkita.

Ada sebuah pepatah Cina kuno yang berbunyi “Lebih baik menyalakan lilin dari pada terus-menerus mengutuk kegelapan”. Kegelapan adalah symbol dari masalah, hambatan, kekurangan. Sementara lilin merupakan sumber daya dan potensi yang kita miliki. Skill menulis lagu dan kegigihan untuk mampu berkedip adalah “lilin” bagi John Lennon dan Jean Bauby. Mereka telah berhasil menyalakan lilin di tengah gelap.

Masalahnya, pepatah kuno semacam itu justru mirip dengan kalimat-kalimat motivator di televisi: mudah diucapkan tapi sulit setengah mati untuk diterapkan. Mengutuk kegelapan jauh lebih mudah dilakukan dibanding menyalakan lilin. Perlu kemauan dan keberanian ekstra untuk melampaui keterbatasan dan menggunakan seluruh potensi yang kita miliki. Memang tidak ada rumus eksak dalam melakukan hal tersebut, tiap orang memiliki caranya masing-masing. Sayangnya, itulah hal yang tidak bisa diajarkan oleh para motivator dan harus ditemukan sendiri. Yang jelas, sudah banyak orang yang berhasil melakukannya. John Lennon dan Jean Bauby hanyalah dua contoh di antaranya. “Jika orang lain bisa melakukannya, kenapa kita tidak?” Jadi, Never give up!


Profil Penulis

Ditulis oleh Abiyoso, alumnus Psikologi UGM yang menyukai filsafat dan seorang pecinta alam.

Image Credit:

www.nationalwealthcenter.com

www.collective-evolution.com

www.giaoxubinhdong.net

Total
38
Shares
%d bloggers like this: