NH Dini, Lambang Pergulatan Hidup Perempuan Indonesia

“Kesedihan tidak untuk dipampangkan kepada semua orang. Karena kesedihan adalah hal yang sangat pribadi, seperti rahasia, harus disembunyikan dari pandang orang lain.”
— NH Dini

Perempuan-perempuan Indonesia sejatinya adalah perempuan tangguh. Mereka lahir, tumbuh, dan berkembang dalam keadaan yang memaksa mereka untuk belajar. Bukan sekadar belajar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, melainkan juga belajar untuk mempertahankan hidup generasi-generasi penerus bangsa ini.

Tapi kita semua tahu, proses belajar bukanlah proses yang mudah. Banyak aral melintang yang harus dihadapi oleh para pembelajar. Begitu pula yang dihadapi perempuan Indonesia. Banyak di antara mereka yang harus menelan getirnya kenyataan sebuah hak yang diambil. Untungnya, Indonesia memiliki sosok-sosok yang peka terhadap keadaan di sekelilingnya. Indonesia memiliki sosok tangguh yang mengumandangkan keadilan dan kesejahteraan bagi perempuan. Siapakah dia?

Bukan R.A. Kartini, namun bolehlah dikata R.A. Kartini masa kini, dialah Nurhayati Sri Hardini. Nurhayati Sri Hardini, perempuan kelahiran Kota Lumpia (Semarang) ini memiliki nama pena NH Dini. Ia merupakan sastrawati yang masih produktif sampai di usia senjanya saat ini.

Menilik Kisah Hidup NH Dini

NH Dini dilahirkan pada tanggal 29 Februari 1936, sembilan tahun lebih tua dari Negara Indonesia. Keterampilannya untuk menjadi individu yang peka terhadap lingkungan mungkin saja terasah saat NH Dini menjadi pramugari.  Ya, sebelum benar-benar menjadi seorang penulis, NH Dini pernah berkiprah sebagai pramugari di suatu maskapai penerbangan. Ketika masih menjadi pramugari pun NH Dini berhasil menerbitkan buku kumpulan cerpen yang berjudul Dua Dunia.

Ketika Indonesia masih berada dalam kemelut politik terkait kemerdekaan, orde lama, maupun orde baru, NH Dini banyak membaca adanya berbagai masalah yang tampaknya terabaikan. Masalah itu adalah masalah hidup perempuan Indonesia. Lantas NH Dini pun tergerak untuk menuliskan keprihatinannya melalui melalui sebuah karya sastra.

Salah satu novelnya yang membahas para perempuan ‘korban’ politik adalah novel berjudul Jalan Bandungan. NH Dini memaparkan betapa besarnya penderitaan seorang wanita yang ditelantarkan oleh suaminya lantaran suaminya menjadi pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI).  Label ‘komunis’ yang disandang para suami berhasil membuat para wanita kalang kabut. Pelabelan membuat aksesibilitas mereka terhadap ladang penghasilan pun menjadi terbatas. Dalam novelnya, NH Dini berhasil mengemas kisah betapa kuatnya para wanita dari para suami buronan politik itu untuk bertahan hidup di tengah bayang-bayang ketidakpastian.

Pada novel-novelnya yang lain, NH Dini juga menyorot soal peran gender. NH Dini mengisahkan perempuan yang masih dianggap sebagai objek dari laki-laki. Hal-hal terkait belum adanya keadilan yang menyangkut kesejahteraan perempuan banyak didengungkan oleh NH Dini.

Novel-novel NH Dini memang banyak menyorot perempuan. Itulah yang membuat NH Dini disebut sebagai sastrawan feminis. Kemampuan NH Dini mengupas dan menyajikan konflik pada perempuan tampaknya tidak lepas dari perjalanan kehidupan pribadinya sendiri yang sarat pergerakan dan kesabaran.

NH Dini merupakan salah satu perempuan Indonesia yang menikah dengan lelaki yang memiliki banyak perbedaan dengan dirinya. NH Dini menikah dengan seorang diplomat Prancis, Yves Coffin pada tahun 1960. NH Dini dapat mengenal Yves Coffin ketika ia menjadi pramugari. Berkat pernikahan itu, NH Dini dikaruniai dua orang anak bernama Marie-Claire Lintang Coffin dan Pierre-Louis Padang Coffin.

Berstatus sebagai istri diplomat, NH Dini pun kerap ikut mendampingi suaminya untuk tinggal di berbagai negara. Pengalaman hidup di berbagai negeri orang turut memperkaya ide NH Dini dalam menulis. NH Dini pun dapat menuliskan tentang kehidupan perempuan dalam setting negara Jepang. Karyanya itu berjudul Namaku Hiroko¸ terbit tahun 1977.

Sayangnya, pernikahan NH Dini sendiri tidak menuju pada keabadian. NH Dini resmi bercerai dengan Yves Coffin pada tahun 1984. Setelah bercerai, NH Dini berusaha untuk mendapatkan kembali kewarganegaraannya sebagai warga negara Indonesia. Perjuangannya mendapatkan kembali status WNI dapat menunjukkan bahwa NH Dini masih memiliki tekad untuk turut membangun bangsanya.

NH Dini, Inpirasi Kaum Perempuan Bumi Pertiwi

Kini, pada usianya yang tak lagi muda, NH Dini memilih tinggal di suatu panti wredha. NH Dini sendiri yang memilih untuk tinggal di sana. Pilihan yang unik. Tinggal di panti wredha tidak membuat NH Dini mandeg dari segala aktivitasnya. NH Dini tetap melakukan hal-hal produktif. NH Dini masih mengisi seminar, menulis, dan menghidupkan suatu rumah baca yang ia dirikan sendiri.

Sepanjang hidupnya, NH Dini telah menorehkan berbagai prestasi. Prestasi yang NH Dini raih dalam bidang tulis menulis pun sudah berada dalam level internasional. Salah satu penghargaan internasional yang berhasil NH  Dini dapatkan adalah penghargaan SEA Write Award, penghargaan sastra dari pemerintah Thailand.  Karya-karya NH Dini juga digunakan dalam kegiatan di sanggar teater milik W.S. Rendra.

NH Dini beserta karya-karya agungnya telah melambangkan keagungan perempuan di dunia, terlebih di  Indonesia. NH Dini dalam karyanya memberi pesan tersirat bahwa menjadi perempuan berarti harus tangguh. Perempuan semestinya kuat menghadapi berbagai aral. Karena kekuatan perempuanlah terbentuk anak muda yang juga kuat.

Karya-karya sastra NH Dini memang telah berumur. Akan tetapi, karyanya tetap menarik untuk dibaca oleh generasi muda saat ini. Karyanya tetap dapat dinikmati dan dijadikan sebagai media untuk tidak melupakan betapa besar dan beratnya perjuangan perempuan Indonesia pada masa lalu.

NH Dini mampu membuat karya sarat pembelajaran yang akan tetap memiliki relevansi dari masa ke masa.

Seperti petuah yang dikatakan oleh Pramudya Ananta Toer, NH Dini menulis untuk keabadian.


Sumber Data Tulisan

  1. Data terkait kelahiran dan karya-karya NH Dini diperoleh dari buku Ensiklopedia Indonesia Edisi Khusus yang ditulis oleh tim yang dipimpin oleh Hasan Shadily, terbitan PT Ichtiar Baru-Van Hoeve, Jakarta tahun 1992.
  2. Data terkait perkawinan dan kehidupan NH Dini di panti wredha diperoleh dari situs http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20150619111756-241-61050/tentang-novelis-nh-dini-ibu-sutradara-minions/

Featured Image Credit: idwritter.com

Happy Virgina Puspa Nirmala

Mahasiswi yang memiliki ketertarikan pada bidang psikologi sosial. Penyuka sastra. Penikmat kopi.

%d bloggers like this: