Orang dengan Disleksia Bisa Raih Asa? Steven Telah Membuktikannya!

“Diagnosa disleksia di umur 60 tahun bagai potongan puzzle terakhir dari sebuah misteri besar yang saya simpan sendiri seumur hidup saya.”

– Steven Spielberg

Siapa yang tidak tahu film “Jurassic Park”?  Film tentang dinosaurus di masa lampau itu begitu populer.  Lalu, apakah Sobat Pijar kenal film legendaris berjudul “Jaws” yang menceritakan tentang teror hiu? Mungkin mayoritas dari masyarakat familiar dengan film itu. Tapi banyakkah yang mengenal sosok dibalik film-film tersebut?

Ya, Steven Spielberg adalah seseorang yang turut  mengambil peran dalam film legendaris itu. Steven Allan Spielberg, lahir di Cincinnati, Ohio pada 18 Desember 1946. Sejak kecil, Steven Spielberg sudah menggeluti bidang pembuatan film. Di umurnya yang masih 13 tahun, Steven telah memenangkan penghargaan untuk film garapannya yang berjudul “Escape to Nowhere”. Film tersebut bertajuk peperangan dan berdurasi sekitar 40 menit.

Siapa yang mengira bahwa Steven Spielberg ternyata adalah individu dengan disleksia. Sebelumnya, tidak ada yang pernah mengetahui atau menyadari tentang gangguan yang dialaminya. Bahkan Steven sendiri tidak mengetahuinya hingga ia didiagnosa memiliki gangguan disleksia pada tahun 2007.  Mengapa bisa demikian? Disleksia yang dimilikinya baru dapat didiagnosa karena kurangnya pemahaman terhadap gangguan ini. Sejak adanya diagnosa itu, Steven mulai banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman dalam hidupnya yang berkaitan dengan disleksia.

Steven mengungkapkan bahwa hidup di awal tahun 1950-an (sebelum didiagnosa memiliki gangguan disleksia) merupakan saat-saat yang sulit. Ia membutuhkan waktu dua tahun untuk dapat membaca, jauh lebih lama dari anak-anak sebayanya. Steven juga banyak mengalami masa-masa sulit di sekolah. Kemampuan membaca dan menulisnya yang jauh berada di bawah teman-teman seusianya membuat ia dicap sebagai anak bodoh dan anak malas oleh guru-guru serta teman-teman sebayanya. Kekurangan yang dimiliki membuatnya sering menjadi korban bullying dan dikucilkan. Steven lalu mulai berteman dengan anak-anak lain yang ikut menjadi korban bullying dan dikucilkan dengan berbagai sebab. Pertemanannya dengan anak-anak ini kemudian menjadi inspirasi salah satu filmnya yang berjudul “The Goonies”.

Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin banyak kesulitan yang dirasakan oleh Steven. Akhirnya pada saat mengambil pendidikan S-1 di tahun 1968, Steven memutuskan untuk berhenti kuliah dan mengejar karir di bidang pembuatan film. Didunia film sendiri, Steven mengakui ia banyak menemui kesulitan. Steven mengungkap bahwa ia membutuhkan waktu dua kali lebih lama untuk membaca buku dan transkrip film dibandingkan teman-temannya di Hollywood.

Meskipun begitu, tidak ada yang menyurutkan semangat Steven untuk terus berkarya. Steven berkata bahwa membuat film banyak membantu kehidupannya. Dengan membuat film ia merasa terbebas dari rasa malu, rasa bersalah, dan banyak mengurangi beban yang ia rasakan karena merasa memiliki kekurangan.

“Saya tidak pernah merasa sebagai korban,” ujar Steven saat menceritakan kisah hidupnya.

Steven mampu menjalani masa sulitnya. Ia tidak memungkiri bahwa dukungan orang tuanya yang sangat berlimpah membuatnya mampu melalui masa-masa buruk dalam hidupnya dengan baik. Orang tuanya banyak membantu dan mendukung Steven untuk dapat bersekolah dengan sebaik mungkin.

Sampai saat ini, Steven Spielberg telah memenangkan tiga piala Oscar dengan salah satunya adalah penghargaan kehormatan atas karya-karyanya yang sangat berpengaruh di dunia perfilman Hollywood. Hebat bukan?  Bahkan total penghargaan yang telah diterimanya di bidang film adalah sebanyak 176 penghargaan dan 137 nominasi penghargaan lain yang tidak dimenangkannya. Sungguh luar biasa! Selain itu, Steven juga berhasil membuat studio perfilmannya sendiri yang didirikan bersama dua temannya pada tahun 1994. Studio ini kemudian diberi nama Dreamworks SKG.

Perjalanan hidup seorang Steven Spielberg membawa kita pada satu titik dimana disleksia bukan menjadi hambatan seseorang untuk dapat berkarya. Lelaki yang telah sukses di dunia film itu menunjukkan bahwa dibalik disleksia tetap ada sisi positif yang dapat diambil. Meskipun kemampuan membacanya yang buruk dan ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membaca, Steven tidak putus asa. Ia menjadikan membaca sebagai salah satu kegiatan yang menyenangkan. Disleksia dan semangat hidupnya membuat ia lebih mampu memahami cerita pada buku maupun transkrip film yang dibacanya. Hal ini berpengaruh besar dalam pekerjaannya saat menggarap film. Disleksia justru adalah salah satu hal yang membuat seorang Steven Spielberg bisa sampai di titik kesuksesannya saat ini.


Sumber Pustaka

Refrensi biografi dan kisah seputar Steven Spielberg dapat dilihat lebih lanjut melalui tautan berikut:

1http://dyslexiahelp.umich.edu/success-stories/steven-spielberg

2http://abcnews.go.com/blogs/entertainment/2012/09/steven-spielberg-escaped-his-dyslexia-through-filmmaking/

3http://articles.latimes.com/2012/sep/25/entertainment/la-et-mn-steven-spielberg-on-unlocking-tremendous-mystery-of-his-dyslexia-20120925

4http://www.sheknows.com/entertainment/articles/972725/steven-spielberg-opens-up-about-his-fight-with-dyslexia

5http://www.biography.com/people/steven-spielberg-9490621#career-highlights

6http://www.thebiographychannel.co.uk/biographies/steven-spielberg.html

7http://www.imdb.com/name/nm0000229/awards

Featured Image Credit: www.jplegacy.org

By: Ayunda Zikrina

Koes Ayunda Zikrina Putri

Alumna Fakultas Psikologi UGM

%d bloggers like this: