“Anak-anak memang harus dididik, namun mereka juga harus bisa mendidik diri mereka sendiri.”

Ernest Dimnet.

Anak-anak terlahir bagaikan kertas putih yang tidak bernoda. Tentunya orangtua dan juga lingkungan disekitarnyalah yang menuliskan catatan-catatan pengetahuan bagi anak. Pengetahuan agama pun tak luput dari kehidupan anak-anak. Tentunya bukan perkara yang mudah untuk mengajarkan perihal agama yang abstrak pada anak-anak. Orang tua dan juga orang di sekitar anak seringkali dibuat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sang anak. Padahal justru lingkungan lah yang sangat berperan dalam membentuk kehidupan beragama pada anak.

Pengaruh lingkungan memang sangat berpengaruh bagi keberagamaan seorang anak. Seorang anak yang berada pada lingkungan yang religius kemungkinan besar akan menjadi religius pula. Selain itu, seorang anak pun secara otomatis akan mengikuti agama yang dianut oleh orangtuanya. Pernahkah Anda berfikir mengenai caramengajarkan pendidikan agama bagi anak-anak yang sejatinya belum bisa memikirkan hal yang abstrak? Yuk intip beberapa tips dibawah ini.

  1. Berikan contoh yang baik pada anak.

Mekanisme keagamaan yang paling menonjol pada anak adalah meniru, seperti perkembangan aspek-aspek psikologis lainnya yang juga berkembang pesat melalui proses peniruan. Clark menyatakan jika salah satu ciri kehidupan beragama bersifat imitatif atau meniru orangtuanya. Anak-anak hanya mengikuti saja apa yang diyakini dan dilakukan oleh orangtuanya, anak-anak belum memiliki kesadaran serta keseriusan didalam diri mereka untuk melakukan ritual-ritual keagamaan. Untuk itu sangat penting bagi orangtua untuk memberikan contoh yang baik serta benar pada anak mengenai tata cara melakukan ritual keagamaan.

  1. Biasakan anak dalam melakukan ritual keagamaan.

            Orang tua bisa mengajarkan kehidupan beragama pada anak dengan melakukan pembiasaan pada anak untuk melakukan ritual-ritual keagamaan. Misalnya, bagi anak yang beragama muslim, saat adzan sedang berkumandang orangtua mengingatkan pada anaknya untuk segera mengambil wudhu dan melaksanakan shalat. Begitupula bagi agama lainnya, orangtua hendaknya selalu mendorong anaknya agar mau melakukan kegiatan keagamaan sehingga hal tersebut akan menjadi kebiasaan bagi sang anak. Orangtua bisa memberi reward pada anak agar anak selalu terdorong untuk rutin dalam melakukan ritual keagamaan. Clark menyatakan jika  seorang anak melakukan ritual keagamaan hal tersebut hanya bersifat superfisial atau masih sangat dangkal. Penghayatan dan pemahaman mendalam mengenai pengetahuan agama sebenarnya belum ada. Bagi mereka menjalankan ajaran agama hanya bersifat ritualistik semata. Akan tetapi, nyatanya hal tersebut adalah proses pembelajaran yang baik untuk menjadikan anak menjadi religius.

  1. Beri respon positif pada anak yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar agama.

            Anak-anak kerap kali mengajukan pertanyaan mengenai agama. Pertanyaan tersebut bahkan kerapkali membuat orang dewasa di sekitarnya menjadi kebingungan. Pertanyaan yang kerapkali muncul di dalam benak anak-anak adalah tentang konsep Tuhan, seperti bagaimana wujud Tuhan, di mana Tuhan tinggal dan lain sebagainya. Jika dijawab sekenanya, tak jarang anak akan melanjutkan pertanyaan yang lainnya. Menurut Subandi dalam bukunya yang berjudul Psikologi Agama dan Kesehatan Mental, sejak dini anak-anak perlu dikenalkan dengan ajaran agama yang terkait dengan pertanyaan-pertanyaan seputar keagaman. Untuk menjawab pertanyaan sang anak, orangtua tetap harus menjawab sesuai dengan ajaran agama yang dianut secara bijaksana.

  1. Ceritakan kisah keagamaan dengan menguatkan unsur supranatural.

            Masa anak-anak adalah masa yang penuh dengan imajinasi, anak-anak sangat senang dengan hal-hal yang berbau sihir dan cerita fantasi. Untuk itu, orang dewasa di sekitarnya bisa menceritakan hal-hal yang bersifat keagamaan dengan menakankan pada unsur-unsur magis, misalnya cerita mengenai mukjizat. Setelah itu ajak anak berdiskusi mengenai pelajaran apa yang bisa diambil.

  1. Beritahukan pada Anak Jika Tuhan Maha Pemberi.

            Kehidupan beragama anak-anak masih bersifat egosentris, anak-anak pada umumnya mengartikan agama sesuai dengan kebutuhannya. Anak-anak mempersepsikan Tuhan sebagai sesuatu yang dapat memenuhi apa yang diinginkannya. Anak-anak banyak berdoa untuk hal-hal yang  bersifat untuk kesenangannya saja, misalnya untuk mendapatkan mainan yang mereka inginkan. Anak-anak memang belum memiliki kesadaran untuk melaksanakan doa sebagai wujud pengabdian, akan tetapi pengetahuan-pengetahuan yang diberikan kepadanya mungkin akan melekat pada Anak hingga mereka dewasa.

Sejatinya, anak-anak memang belum mengerti mengapa  mereka perlu melakukan ritual-ritual keagamaan. Mereka pun hanya mencontoh apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Untuk itu lingkungan sekitar sangat perlu memberikan contoh yang baik bagi anak. Oorang dewasa di lingkungan sekitar anak juga perlu memberikan pengetahuan-pengetahuan pada anak-anak, akan tetapi pengetahuan yang diberikan juga harus disesuaikan dengan tahapan kognitif anak, sehingga anak bisa memahaminya.


Sumber Data Tulisan

  1. http://www.indowebby.com/anak-anak/#
  2. Subandi. 2013. Psikologi Agama dan Kesehatan Mental. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

By: Dita Ayu Puspita

Featured Image Credit: sharingdisini.com

Total
57
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

%d bloggers like this: