Part 2 – Tanya Jawab CELUP, Sebuah Refleksi Akan Afeksi

Terkait tulisan saya di bagian pertama, mungkin ada sebagian pembaca yang sedikit kebingungan tentang bagaimana harus bersikap. Pada tulisan ini saya coba deskripsikan beberapa respon batin pembaca lengkap dengan penjelasannya singkatnya.

  • Orang tua saya tidak pernah bermesraan di depan saya, tetapi saya baik-baik saja?!
  • Lalu apakah semua orang tua harus menunjukan kemesraan di depan anak-anaknya? Kan tidak sesuai budaya
  • Kenapa orang tua lagi yang disalahkan? Jadi orang tua itu tidak mudah!
  • Saya masih tidak paham hubungan antara orang tua kurang menunjukkan rasa sayang dengan kebiasaan remaja sekarang yang suka mesra-mesra?
  • Saya heran kenapa juga orang suka ikut campur urusan orang lain?

Orang tua saya tidak pernah bermesraan di depan saya, tetapi saya baik-baik saja?!

Sebenarnya poin yang saya maksud bukan sekedar bermesraan seperti bergandengan tangan, berpelukan, atau cium kening dan bibir. Poin saya adalah apakah seorang anak melihat dan merasakan cinta dari keluarganya?

Pola menunjukan kasih sayang di Asia dan di Barat memang berbeda, akan tetapi tidak sedikit keluarga di Indonesia yang menjadi terlalu kaku hingga anak-anak sama sekali tidak bisa merasakan kehangatan keluarga.

Mereka sadar bahwa ada sesuatu yang kurang dari keluarga mereka. Kesadaran seperti ini biasanya dialami oleh anak-anak yang terlahir sebagai generasi kedua di budaya yang berbeda seperti anak-anak Asia Amerika, anak-anak Asia yang menjadi imigran, atau anak-anak Asia yang sudah pernah tinggal bersama keluarga dari budaya yang berbeda seperti kasus peserta AFS sebelumnya. Anak-anak ini peka terhadap perbedaan dan berbagai pola kasih sayang.

Anak-anak saat ini sudah melihat beragam bentuk kasih sayang dan afeksi. Di usia muda mereka telah mengikuti pertukaran budaya, tinggal bersama keluarga dengan pola kasih yang berbeda, menonton marathon drama korea, Netflix, dan sumber lain di internet. Mereka melihat beragam bentuk cinta kasih, tetapi mereka merasa hubungan di keluarga kering.

Lebih jauh lagi, sedikit cerita dari teman-teman saya yang memiliki depresi, tak sedikit kasusnya karena orang tua mereka tak pernah memuji dan tak pernah memeluknya. Mereka selalu bertanya “apakah saya berharga?”. Tak sedikit juga dari mereka yang lebih sering menghabiskan waktu bersama kekasih karena dari sanalah mereka mendapatkan oase dari keringnya jiwa mereka. Kekasih mereka selalu memuji, selalu menghargai, dan juga tak segan memberikan pelukan.

Lalu apakah semua orang tua harus menunjukan kemesraan di depan anak-anaknya? Kan tidak sesuai budaya...

Pertanyaan sebenarnya adalah, apakah orang tua lebih memilih canggung sesaat untuk menunjukan kasih sayang ke anak-anaknya atau membiarkan mereka mencari kehangatan dari sumber-sumber di luar keluarga?

Pada akhirnya, kita harus sadar. Bahwa zaman kita dan zaman (calon) anak kita berbeda. Kita harus siap dengan akulturasi budaya.

Jika kita enggan memeluk anak kita, jika kita enggan memeluk pasangan kita di depan anak, setidaknya aturlah waktu kencan berdua di mana anak menyaksikan bahwa dua minggu sekali orang tuanya candle light dinner. Orang tuanya masih romantis dan saling menyayangi.

Namun sebenarnya, hal-hal sederhana seperti tatapan mata yang penuh kasih dan sekedar panggilan sayang kepada anak mungkin sudah cukup memenuhi kebutuhan afeksi mereka ketika dilakukan dengan tulus.

Kenapa orang tua lagi yang disalahkan? Jadi orang tua itu tidak mudah!

Jadi orang tua memang tidak mudah. Tetapi ketika kita memantapkan hati untuk menjadi orang tua, sudah selayaknya kita siap menanggung segala risiko kehidupan. Kita bertanggung jawab atas kebahagiaan batin dan fisik anak. Setidaknya sampai dia dewasa dan bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Sedihnya, banyak orang tua yang tidak mempersiapkan diri untuk mengasuh anak. Dikiranya, membina keluarga dan mengasuh anak adalah tugas kehidupan yang cukup dipelajari dengan learning by doing. Padahal, membaca buku pengasuhan dan tetap update dengan perubahan zaman adalah sesuatu yang tak bisa dielakan.

Saya masih tidak paham hubungan antara orang tua yang kurang mengeskpresikan rasa sayang dengan kebiasaan remaja sekarang yang suka mesra-mesra?

Karena kebetulan yang menciptakan CELUP adalah anak-anak muda dari Desain Komunikasi Visual (DKV), maka saya akan coba menjelaskan hubungan ini melalui design thinking framework  dari Eric Ries. Dunia desain bukan hanya tentang merancang desain baju atau karya seni, tapi juga dengan runtutan pola pikir sebelum menciptakan sebuah karya.

Mari kita bahas hubungan orang tua yang kurang mengekspresikan rasa sayang dengan kebiasaan remaja zaman now sekarang yang suka mesra-mesra dengan 5 why’s 

  • Kenapa pelukan dan mesra-mesraan sama pacar?

Karena nyaman

  • Kenapa nyaman?

Karena merasa disayang

  • Kenapa merasa disayang?

Karena cuma dia yang memberi afeksi

  • Kenapa cuma dia?

Karena orang tua tidak akur, tidak punya teman

  • Kenapa kecewa karena orang tua gak akur?

Karena iri melihat orang tua lain atau orang tua di film yang mengekspresikan rasa kasih sayang di antara mereka

Berarti, terjawablah akar permasalahan dari masalah  pelukan dan mesra-mesraan di publik ini.

Saya heran kenapa juga orang suka ikut campur urusan orang lain?

Rasanya kita sudah bisa menyadari bahwa banyak sekali kasus di mana orang-orang suka ikut campur urusan lain. Kasus yang paling sering adalah menciduk dan menggrebek pasangan yang sedang berduaan. Terlebih lagi hingga menelanjangi dan mengaraknya keliling kampung.

Kalau boleh saya bicara lebih jauh, terkadang orang-orang yang gemar menjatuhkan harga diri orang lain dengan cara public shaming atau nyinyir bisa jadi karena mereka tidak puas dengan keadaan diri mereka sendiri. Nyinyir adalah bentuk iri hati yang diwujudkan dengan cara merendahkan subjek nyinyir kita. Bagi saya, orang-orang yang nyinyir sama anak-anak muda yang dikira suka asusila bisa jadi karena faktor iri karena kebutuhan afeksinya tidak terpenuhi. Baca artikel saya tentang ‘budaya’ nyinyir karena tidak puas dengan diri sendiri di sini.

Lagi pula, siapa kita berhak mencampuri urusan orang per orang?

Jadi yuk, kita lebih terbuka dalam menunjukan kasih sayang, tentunya yang masih sesuai norma yang kalian anut tapi tanpa gengsi. Contohnya, jika teman-teman cari manfaat pelukan dan cuddle di jurnal ilmiah, sudah banyak sekali kok.  Teman-teman bisa baca di sini manfaat pelukan dan cuddle.

Sampai-sampai ada profesi khusus memberikan cuddle bagi orang yang kesepianCuddle adalah bahasa universal untuk mereka yang kekurangan afeksi dari orang tuanya. Tugas kita bukanlah public shaming di media sosial. Tugas kita adalah memastikan orang-orang terdekat kita terpenuhi kebutuhan afeksinya.

 

Artikel tentang fenomena CELUP ini bisa juga dibaca di sini

Total
31
Shares
%d bloggers like this: