Kesempatan untuk mencicip manisnya pendidikan merupakan bagian hak anak berkebutuhan khusus. Kini, kita dapat melihat mereka tersenyum diatas asa yang mereka bangun melalui pendidikan formal di sekolah.”

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 Tentang Sistem Pendidikan Nasional membuka jalan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk dapat mengenyam pendidikan dengan layak. Pendidikan inklusi secara khusus diartikan sebagai sebuah upaya penyelenggaraan  pendidikan yang diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus dan anak normal untuk belajar. Dengan adanya pendidikan inklusif artinya sekolah tersebut harus mampu mengakomodasi setiap anak tanpa kecuali, baik secara fisik, intelektual, emosional, sosial, bahasa, budaya, etnis, minoritas dan berbagai hal lainnya. Penyelenggaraan mengenai pendidikan inklusi secara lebih jauh terjamin dan diatur dalam Permendiknas Nomor 70 tahun 2009.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan teritori yang telah menyadari pentingnya penyelenggaraan sekolah Inklusi. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya Peraturan Gubernur Nomor 21 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan inklusif. Dalam pendidikan inklusi terdapat guru pembimbing khusus yang diharapkan berkompetensi untuk mendampingi dan membimbing anak berkebutuhan khusus untuk dapat lebih baik. Pelaksanaan pendidikan inklusif tidak terlepas dari partisipasi keseluruhan  tenaga pengajar yang ada di sekolah. Bahkan di Yogyakarta setiap satuan pendidikan (sekolah) diwajibkan untuk memberikan fasilitas bagi anak berkebutuhan khusus. Sebelumnya menurut Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, sekolah inklusi yang ada hanya berkisar antara 22 sekolah dari total  520 sekolah jenjang SD hingga SMA[1]. Dengan adanya Peraturan Gubernur tersebut maka peluang anak berkebutuhan khusus untuk dapat menimba ilmu di bangku sekolah semakin besar.

Penyelenggaraan sekolah inklusi bukanlah sebuah kebijakan yang asal-asalan. Secara lebih jauh sekolah inklusi mengemban tugas penting dalam usaha mencerdaskan siswa dan siswinya[2]. Sekolah hendaknya mampu mengubah sikap dari semua elemen sekolah termasuk siswa, guru, dan orang tua. Selain itu perlu adanya pengawasan untuk memastikan bahwa anak berkebutuhan khusus dapat mengakses pelajaran yang diberikan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengenai kurikulum yang digunakan dalam sistem pembelajaran. Kurikulum tersebut sebaiknya mampu memperbaiki pencapaian atau prestasi akademik anak disemua level. Selain itu dukungan dari warga sekolah juga diperlukan untuk menciptakan iklim positif dalam sekolah inklusi.

Adanya sekolah inklusi membawa peran penting bagi anak berkebutuhan khusus. Menurut Skjorten, interaksi yang terjalin dalam lingkup sekolah akan  meningkatkan kemampuan sosio-emosional mereka secara gradual. Manfaat dari sekolah inklusi tidak hanya dirasakan oleh anak berkebutuhan khusus, namun juga oleh anak-anak normal yang berada di sekolah tersebut[3]. Anak-anak normal dapat mengembangkan kemampuan empati mereka, kemampuan bekerja sama, dan lebih  bijak dalam menerima keadaan teman. Secara umum sekolah inklusi mampu memberi kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus untuk dapat mengembangkan diri mereka. Dengan hal tersebut maka anak berkebutuhan khusus tak lagi termarginalkan.


[1] Riset statistik mengenai kesediaan sekolah inklusi dilangsir oleh surat kabar harian Republika.

[2] Sumber kajian : Jurnal Anup Ahuya tahun 2003 yang berjudul Inclusive Education Pilot Project in Bandung Indonesia.  Jurnal ini dilegitimasi oleh UNESCO.

[3] Sumber jurnal yang ditulis oleh Dewi Hajar pada tahun 2010 dengan judul “Empati Siswa Reguler terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus di Kelas Inklusi SMP  Negeri 18 Malang”. Baca juga Idp.europe.org yang membahas lebih mendalam mengenai pendidikan inklusif.

By: Anggrelika Putri K.

%d bloggers like this: