“Butuh banyak energi untuk melepaskan diri dari referensi kehidupan Anda yang mungkin bersinggungan dengan karakter (yang dimainkan). Yang saya lakukan adalah menghapus hal-hal itu dan kemudian mencari cara lain untuk tidak mengkhianati kekaguman saya terhadap karakter yang saya mainkan.”
(River Phoenix)

Sering kali saat menonton film kita terhanyut dengan karakter yang dimainkan oleh sang aktor. Tidak jarang karakter yang dimainkan terasa sangat nyata, beberapa diantaranya seperti karakter Joker yang dimainkan oleh Heath Ledger dalam film Batman: Dark Knight, karakter Christy Brown di My Left Foot yang diperankan oleh Daniel Day-Lewis, dan karakter Wladyslaw Szpilman di film The Pianist yang diperankan oleh Adrien Brody. Ternyata karakter tokoh yang terlihat meyakinkan tersebut tidak didapat dengan mudah. Para aktor butuh kerja keras ekstra untuk membangun karakter yang diperankan meskipun hal itu akan mempengaruhi kehidupan pribadi mereka. Beberapa kasus menceritakan aktor-aktor yang berakhir kematian diduga peran mereka dalam film yang tidak bisa lepas dari kepribadian mereka. Kemudian timbullah pertanyaan, bagaimana peran yang dimainkan oleh sang aktor bisa mempengaruhi kehidupan pribadinya? Dan bagaimana para aktor menanggapi hal tersebut?

Memang, diyakini sulit sekali bagi seorang aktor untuk melepaskan karakternya setelah menghuni atau menggunakan karakter tersebut selama 15 jam sehari, atau bahkan untuk berbulan-bulan dan bertahun-tahun lamanya. Dalam kasus ini, ada istilah yang dinamakan Method Acting atau Metode Seni Peran. Metode ini tidak hanya digunakan untuk memasuki pikiran dan tubuh dari karakter yang diperankan, melainkan juga mengandung latihan-latihan secara fisik maupun mental yang akan membantu aktor bisa terlepas dari karakter yang dimainkan. Metode seni peran digunakan oleh aktor untuk membuat emosi karakter yang mereka mainkan menjadi nyata dengan memanfaatkan pengalaman pribadi. Menurut Raymond Hamden, dokter Psikologi Klinis dan Forensik, tujuan metode ini adalah untuk mengelompokkan perasaan-perasaan para aktor saat mereka memainkan karakter lain sehingga mereka dapat membawa perasaan pribadinya jika dibutuhkan untuk melengkapi karakter yang diperankannya. Tetapi ketika emosi ini tidak terkotak-kotak, hal itu dapat mengganggu aspek kehidupan dan jiwa aktor. Efek psikologis yang biasanya muncul antara lain kelelahan emosional seperti takut, gelisah, kekurangan tidur, perubahan kepribadian, dan gangguan psikotik.

Hal ini kemudian dipercaya bahwa ada hubungan yang kuat antara akting dan reaksi psikologis terhadap akting. Namun, akan menjadi bahaya ketika emosi tersebut tidak dikontrol akibat gangguan perilaku secara mendadak dan perubahan perilaku (karakter). Terkadang untuk memainkan sebuah peran, para aktor merubah tingkah lakunya dan mendorong mereka untuk menjadi seseorang yang asing bagi sifat pribadi mereka sendiri. Kesulitan untuk kembali ke tingkah lakunya sendiri menjadi perhatian besar bagi dunia akting sampai saat ini.

Tulisan dari Profesor Goldstein dan Yale, Paul Bloom, mengungkapkan bahwa inti dari psikologi, pola perilaku, dan teater/film adalah mereka melakukan hal yang sama yaitu memahami mengapa seseorang melakukan apa yang mereka lakukan, ruang lingkup tingkah laku kita, dan dari mana tingkah laku itu berasal. Seni peran atau akting mendorong seseorang mengeksplor kemampuan pikiran dan emosi seseorang. Di mana hal tersebut entah Anda melakukannya (akting) atau menontonnya (film) menaruh pikiran-pikiran yang sebelumnya tidak pernah Anda pikirkan. Hal itu tentunya mempunyai pengaruh yang baik maupun buruk bagi kita semua.

Peran yang dimainkan oleh aktor dapat mempengaruhi isi pikiran kita, entah itu sebuah inspirasi atau pertanyaan baru tentang kehidupan. Sebagian orang mengobati kejenuhan mereka dengan menonton film, tidak jarang para aktor yang berhasil memainkan peran mereka memberikan sumber inspirasi dan kemampuan untuk mengubah cara pandang dan opini mereka. Hal itu membuktikan satu hal, bukankah peran aktor dalam sebuah film mempunyai pengaruh yang vital, apalagi jika karakter itu bisa berhubungan dengan emosi orang-orang di sekitar kita.


Referensi:
Artikel.https://www.quora.com/Is-it-possible-that-an-actor-or-actress-gets-affected-by-the-reel-life-character-they-are-playing-in-real-life-If-yes-how-do-they-get-out-of-it.Quora. 2016.
Hamden, Raymond. “Clinical and Forensic Psychology”. Interview. Dubai Today. Arabian Radio Network. Dubai. 14 April 2010. Radio.
Konin. “Acting Emotions: Shaping Emotions on Stage.” Amsterdam University Press, 2000. 89-102.
Psychological effects of method acting. Artikel. https://www.revolvy.com/main/index.php?s=Psychological%20effects%20of%20method%20acting. Revolvy.
How does the acting and the characters in psychological films affect people’s outlook on human behaviour and society: Side Effect. 2014. http://isabelspecialsubject.weebly.com/side-effects—actors-and-audience/side-effects

Sumber Foto:
https://i.ytimg.com/vi/rZf13QY1S2c/hqdefault.jpg

%d bloggers like this: