Sedikit Penolakan Perlu Untuk Pribadi Lebih Baik
“When you say ‘Yes’ to others, make sure you are not saying ‘No’ to yourself.” ~ Paolo Coelho

Pernahkah mulut Anda berkata “ya” pada ajakan seseorang sedangkan pikiran dan perasaan Anda ingin berkata “tidak”? Mengapa hal itu terjadi?

Kehidupan sosial menuntut kita untuk selalu mementingkan kelompok dibandingkan kepentingan pribadi. Tuntutan tersebut memaksa segala aktivitas lebih baik dilakukan bersama-sama dibandingkan dilakukan sendiri. Lama kelamaan, menyendiri menjadi stigma yang negatif di masyarakat.

Kehidupan Sosial di Atas Segalanya

Dalam dunia yang sangat terhubung ini, keinginan untuk menyendiri sering kali dianggap aneh. Pada kenyataannya, setiap orang membutuhkan waktu dan ruang untuk berekspresi dan menikmati hal yang diinginkannya sendiri. Waktu dan ruang tersebut kita paksakan terbuang demi kehidupan sosial yang dianggap penting di atas segalanya.

Pandangan bahwa aktivitas sosial sangatlah penting membuat orang-orang mengurungkan niatnya untuk menyendiri.  Banyak dari kita yang terlalu takut untuk menolak ajakan bersosialisasi. Penolakan dianggap sebagai hal yang tidak menghargai orang lain.

Mengapa Kita Takut Menolak?

Sejak kecil kita terbiasa diajari oleh ayah dan ibu kita untuk menerima atau menyetujui pernyataan maupun pertanyaan mereka. Memasuki usia anak-anak hingga remaja kita semakin sering berkata “ya” pada ajakan bermain atau berkumpul demi mendapatkan teman yang banyak. Sampai pada usia dewasa dan memasuki lingkungan kerja kita menganggap penolakan sebagai hal yang menyakiti orang lain. Lama kelamaan, kita terbiasa “menyulitkan” diri kita demi penerimaan. Kita juga semakin berpikir bahwa berkata “ya” membutuhkan energi dan waktu yang lebih sedikit dibandingkan mengatakan “tidak” yang memerlukan penjelasan lebih banyak. Terlebih lagi, kita takut untuk menghadapi respon negatif orang lain terhadap penolakan.

Terkadang, kita terlalu takut untuk menolak sebuah ajakan atau undangan meskipun sebenarnya kita tidak ingin menerimanya. Susan Newman, seorang psikolog sosial menjelaskan dalam bukunya, bahwa kita sering kali menyamakan sikap sopan dengan berkata “iya” pada segala hal. Akhirnya, kita berpikir bahwa perkataan “tidak” terlalu kasar atau terlihat sebagai penghinaan terhadap yang bertanya. Pola pikir ini membuat kita semakin takut menolak karena dianggap kurang peduli.

Lantas, sampai kapan Anda akan membiasakan untuk berkata “ya” pada setiap hal dan mengesampingkan waktu pribadi Anda?

Saatnya Untuk Berani

Berikut beberapa langkah sederhana untuk mulai berani mengatakan “tidak” dan tanpa membuat pengajak atau penanya merasa tidak dihargai:

Tetapkan prioritas

Prioritaskan hal-hal terpenting dalam hidup Anda, misalnya pekerjaan, kesehatan, dan keluarga. Jangan sampai demi memenuhi semua permintaan, Anda mengabaikan pekerjaan, waktu istirahat, dan waktu Anda bersama keluarga. Ingat juga, yang terpenting dari Anda adalah diri Anda sendiri, jangan paksakan tubuh Anda menjalani aktivitas yang tidak benar-benar Anda nikmati. Buat diri Anda sebagai prioritas agar lebih nyaman dalam melakukan sesuatu.

Buatlah aturan pribadi

Misalnya Anda menetapkan hanya akan memenuhi permintaan untuk jalan-jalan maksimal dua kali dalam seminggu. Ketika muncul permintaan ketiga, maka sebaiknya Anda menolak. Begitu juga dengan ajakan lainnya yang mengambil waktu jam makan siang, jam pulang kantor, dsb. Buatlah aturan tersebut dengan segala resiko yang terjadi jika Anda melanggar. Ingat bahwa dengan melanggar, jadwal Anda semakin tidak beraturan dan membuat Anda kelelahan. Aturan sederhana ini akan memudahkan Anda untuk lebih siap menolak suatu ajakan.

Siapkan diri Anda untuk berkata “tidak”

Terkadang, kita terlalu cepat merespon ajakan seseorang dengan memberi jawaban “ya” tanpa berpikir panjang. Alhasil, jadwal berantakan dan ada waktu yang harus dikorbankan untuk memenuhi permintaan yang terlanjur disetujui. Setelah dua langkah di atas telah dilakukan, pikirkan apakah suatu permintaan akan melanggar prioritas dan aturan yang telah dibuat atau tidak. Jika Anda tidak dapat memenuhi permintaan seseorang, mulailah berani untuk menolak. Berikut mungkin beberapa kalimat yang dapat membuat Anda dan rekan Anda nyaman tanpa muncul rasa tidak enak atau tidak dihargai.

  • “Terima kasih ya undangannya, tapi maaf saya ada pekerjaan yang belum selesai.”
  • “Saya sangat ingin datang, tapi saya tidak punya waktu luang hingga akhir minggu ini. Bisa ajak saya lagi?”
  • “Saya benar-benar berterima kasih atas undangannya, tapi saya sudah ada acara lainnya.”
  • “Maafkan saya. Sedih rasanya, tidak bisa ikut merasakan kesenangan kalian.”

Beberapa kalimat di atas mungkin bisa membantu Anda menghilangkan rasa khawatir terhadap respon negatif pengajak. Perlahan, mulailah untuk lebih jujur terhadap perasaan Anda yang sebenarnya. Mulailah untuk jujur dengan berkata tidak dibandingkan berbohong demi memenuhi keinginan orang lain. Orang lain juga akan memaklumi jika kita punya alasan yang pantas untuk menolak ajakannya.

Seimbangkan Kehidupan Sosial dan Kebebasan Untuk Menyendiri

Ketakutan dan rasa bersalah yang dirasakan saat Anda menolak ajakan orang lain demi kepentingan sendiri mungkin dirasa sangat salah. Namun, ingat juga bahwa menolak ajakan orang lain demi alasan pribadi tak akan menjadikanmu sebagai orang yang jahat. Begitu pula bagi yang ditolak, mungkin mereka akan merasa tidak dihargai. Memang benar penolakan itu tidak menyenangkan, tetapi menerima ajakan begitu saja juga bukanlah hal yang baik. Mungkin Anda masih berpikir bahwa menolak ajakan seseorang dengan alasan ingin menyendiri tetaplah tidak santun. Namun, cobalah memahami bahwa setiap orang memiliki keinginan dan tujuan yang berbeda-beda, termasuk diri Anda. Setiap orang juga butuh kebebasan untuk menikmati waktu dan haknya untuk menyendiri.

“Live your life for you not for anyone else. Don’t let the fear of being judged, rejected or disliked stop you from being yourself.” ~ Sonya Parker

Total
13
Shares