“Mutiara hanya perlu diasah untuk dapat berkilau, begitu juga dengan anak-anak mereka hanya butuh limpahan perhatian dan kasih sayang untuk dapat mencapai masa depan yang lebih baik”

Dunia anak merupakan ajang untuk bermain dan mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Mereka mulai mengeksplor lingkungan untuk dapat mempelajari berbagai hal yang ada di sekitar mereka. Merupakan sebuah hal yang wajar jika anak-anak kemudian menjadi aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Disinilah peran orang tua begitu diperlukan untuk dapat memfasilitasi perkembangan mereka. Orang tua dipandang sebagai agen sentral yang mampu mendampingi putra-putri mereka dalam proses pembelajaran sehari-hari. Namun masalah mulai muncul ketika anak menunjukkan tanda-tanda perkembangan yang menyimpang dan tidak semestinya. Banyak orang tua yang justru mengeluhkan polah anaknya dan melabel anak-anak mereka yang hiperaktif sebagai “anak nakal”. Bahkan mungkin banyak orang tua yang menganggap bahwa tingkah putra-putri mereka terlalu bandel dan susah diatur.

Kegemaran anak dalam membangun pengetahuan merupakan sebuah hal yang wajar. Meskipun begitu terkadang anak-anak justru menujukkan perilaku yang agresif, sulit memusatkan perhatian, dan kurang dapat mengkontrol diri. Hal yang justru dijumpai adalah anak mudah marah dan berlaku kasar berinteraksi. Selain itu ia juga cenderung tidak bisa menyelesaikan suatu tugas yang telah diberikan secara tuntas. Ia sulit untuk diberi wejangan dan bertindak dengan sesuka hati. Anak yang menunjukkan perilaku demikian tentu tidak dapat menjalani proses pembelajaran dengan baik. Saat anak memang sudah tidak mampu memperhatikan dan tidak dapat diarahkan, orang tua perlu mewaspadai indikasi adanya ADHD. Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau yang biasa disebut dengan ADHD merupakan gangguan psikologis yang dicirikan dengan kesulitan untuk berkonsentrasi, perilaku impulsif, dan pola perilaku yang terlalu aktif [1]. Berdasarkan DSM IV yang biasa digunakan sebagai pedoman deteksi gangguan psikologis, gejala ADHD  menetap selama paling tidak 6 bulan hingga menunjukan indikasi maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan anak.[2]

Hal lain yang perlu digarisbawahi adalah anak yang cenderung atraktif dan aktif tidak selalu mengalami ADHD. Masyarakat awam seringkali salah kaprah dengan memberikan judgement secara semena-mena pada anak. Hal ini tentu dapat mempengaruhi perkembangan dan aspek psikologis mereka. Untuk dapat mendapat diagnosa lebih lanjut, orang tua dapat membawa putra-putri mereka ke psikolog untuk dapat mengetahui dinamika kesehatan mental anak. Dengan berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater orang tua dapat mengetahui gambaran umum mengenai perkembangan aspek psikis putra dan putri mereka.

“Berspekulasi mengenai keadaan psikis anak secara berlebihan akan membawa dampak negatif bagi perkembangan anak sendiri

Ketika anak mengidap ADHD, lantas apa yang harus dilakukan oleh orang tua? Ingat bahwa orang tua merupakan figur utama yang berpengaruh dalam kehidupan anak. Anak dengan ADHD butuh pendampingan dan dukungan dari sosok orang tua agar mereka mampu berkembang secara optimal. Jika anak terlalu aktif dan membutuhkan pendampingan khusus, menggerutu dan menyalahkan anak tidak akan menjadi sebuah solusi yang baik. Beberapa kiat berikut mungkin dapat menjadi jawaban dan rujukan bagi orang tua untuk dapat mendampingi putra-putri mereka yang mengidap ADHD.

Kurangi konsumsi karbohidrat sederhana dan gula yang dapat  memacu hormon adrenal anak dengan ADHD.

Langkah awal yang perlu ditempuh adalah dengan memperhatikan pola makan anak. Pengaturan pola makan bukan merupakan sebuah hal yang remeh-temeh. Selain berdampak pada asupan nutrisi yang akan diperoleh oleh anak, makanan juga dapat mempengaruhi hormon pemicu ADHD [3]. Perlunya makanan yang mengandung protein, lemak, dan omega 3 juga menjadi sebuah hal yang perlu diperhatikan. Tetap berikan makanan dengan porsi yang 4 sehat dan 5 sempurna untuk mendukung aktivitas anak yang cenderung lebih atraktif daripada anak lainnya. Mempertimbangkan pola makan anak dengan ADHD sering disebut dengan istilah terapi nutrisi dan diet.

Pada prinsipnya mengunakan pujian justru akan lebih ampuh daripada menggunakan kata cacian pada anak.

Cara ampuh yang dapat digunakan adalah dengan verbal persuation. Bantu anak untuk lebih menumbuh-kembangkan potensi mereka melalui kalimat-kalimat positif yang dilontarkan oleh orang tua.[4] Dengan pengunaan kalimat pujian, anak akan termotivasi untuk melakukan hal positif yang dikehendaki. Begitu juga sebaliknya, ketika anak diberi tekanan atau ucapan sarkastik justru mereka tidak akan termotivasi menghargai diri mereka sendiri. Pujian merupakan hal sederhana untuk diucapkan namun dapat memiliki implikasi yang besar terhadap pembentukan perilaku anak.

Fasilitasi minat dan bakat anak dengan kegiatan yang positif. Anak dengan ADHD memiliki banyak energi untuk melakukan berbagai hal.

Anak seringkali tidak dapat mempertahankan fokus dan menyelesaikan suatu tugas. Orang tua perlu memandang hal tersebut sebagai celah untuk dapat meningkatkan potensi yang dimiliki oleh anak. Orang tua juga dapat mengetahui kecenderungan aktivitas yang sering dilakukan atau digemari anak. Jika perlu lakukan diskusi dengan anak terkait dengan apa yang mereka sukai. Dengan begitu artinya orang tua telah memberikan kesempatan bagi anak untuk dapat mengembangkan diri. Memberikan fasilitasi terhadap hal yang digemarinya dan memberikan bimbingan agar mereka mampu[5]. Intinya adalah diperlukan pengarahan atas minat dan bakat yang dimiliki bukan dengan mengkekang anak untuk melakukan sederet kegiatan yang orang tua inginkan.

Beri perhatian pada anak dan bantu mereka untuk dapat belajar dengan baik melalui sistem token.

 Pada dasarnya anak-anak sangat dekat dengan permainan. Orang tua dapat menggunakan esensi permainan dalam membentuk perilaku anak ADHD sehari-hari.[6] Contoh kongkritnya adalah dengan memberlakukan sistem token ketika anak mampu mematuhi peraturan yang diberikan oleh orang tua. Selain itu, memberikan anak hadiah karena bagi anak karena ia telah menjalankan peraturan yang diberikan akan menjadi stimulus untuk berperilaku dengan baik. Orang tua hanya perlu memberikan pengarahan, perhatian dan kesabaran untuk mengawal proses pembelajaran anak dengan ADHD.

Alternatif terakhir yang mungkin dapat ditempuh adalah dengan psikofarmaka atau dengan terapi obat-obatan.

Obat-obatan yang biasa digunakan adalah jenis antidepresan yang meliputi dexedrine, desoxyn, ritallin, adderal, maupun clonidine.[7] Namun perlu diperhatikan bahwa terapi tersebut cenderung memiliki efek samping terkait dengan kesehatan anak. Kerentanan dan kadar toleran dalam tubuh anak juga mempengaruhi efektivitas pemberian obat. Catatan yang harus dipahami orang tua adalah jangan mengantungkan obat-obatan semata untuk menangani anak dengan ADHD. Terapi keperilakuan seperti yang telah disebutkan sebelumnya juga berkontribusi untuk dapat berkontribusi terhadap pola pengasuhan yang tepat bagi anak yang mengidap ADHD.

Secara umum, orang tua perlu memiliki kesadaran mengenai pentingnya pendampingan anak dengan ADHD. Mereka memiliki hak yang sama untuk tetap memiliki masa depan yang cerah seperti anak-anak pada umumnya. Anak dengan ADHD mulai dapat terdeteksi sejak menginjak usia empat tahun. Orang tua meski bersikap bijak dengan tidak memberikan cercaan dan makian terhadap anak-anak yang cenderung dianggap bandel. Luangkan perhatian dan arahkan mereka untuk senantiasa berkembang secara positif.


[1]FE Waruwu – Jurnal Provitae, 2006 – books.google.com  mengungkap mengenai pengenalan dan penanganan anak dengan ADHD.

[2] DSM IV (Diagnostic and statistical manual of mental disorder), mengenai gejala dan karakteristik ADHD.

[3] Kajian mengenai asupan nutrisi anak dengan ADHD, diet terhadap makanan tertentu terbukti dapat membantu. Sumber pustaka selengkapnya:http://www.academia.edu/8146822/Diet_Sehat_Anak_Hebat,

[4] Sumber pustaka : A Webe – 2010 – books.google.com, mengenai smart teaching terhadap anak. Baca pula,Jurnal M Miftah, BPM Semarang–Pustekkom-Depdiknas – 2012 – unair.ac.id terkait dengan komunikasi yang efektif bagi anak.

[5] Sumber kajian : inclusiveedu.wordpress.com/author/hiet90 tentang kiat menangani anak ADHD.

[6] Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan (JIPT), Vol 1, No 2 (2013) oleh Hartiningsih tentang aplikasi sistem token dalam mendidik anak.

[7] Sumber solusinutrisi.org/wp/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd/ mengenai intervensi biomedis anak dengan ADHD.

By: Anggrelika Putri K.

%d bloggers like this: