“Jika selalu menunggu segala sesuatunya sempurna baru melakukan sesuatu, maka kita tidak akan memulai apapun” –Ivan Turgenev

Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang perfeksionis? Atau mungkin Anda sendiri adalah seorang perfeksionis? Orang yang perfeksionis itu seringkali sangat menyukai kerapian dan keteraturan. Maka dari itu, tak jarang mereka selalu mencegah dirinya membuat kesalahan (kebutuhan untuk menjadi sempurna). Misalnya, ketika membuat laporan dan mereka melihat terdapat kesalahan pengetikan (typo), maka mereka pasti akan melakukan print ulang laporan tersebut agar tidak terdapat kesalahan dan hasilnya rapi. Sifat ini seringkali membuat mereka menunda pekerjaan dan lama dalam menyelesaikannya.

Sebenarnya, Apa itu Perfeksionis?

Menurut Jennifer Kromberg, seorang psikolog dan terapis, perfeksionis adalah dorongan yang terus-menerus dalam diri seseorang untuk memiliki segala sesuatu yang berjalan dengan sempurna, misalnya dalam hal akademik dan kehidupan sehari-hari.

Ini loh, 5 Karakteristiknya!

  1. Anda orang yang sangat kompetitif hampir dalam semua hal.
  2. Kebanggaan yang Anda rasakan bersifat sementara, maka Anda perlu terus melakukan usaha yang lebih lagi dalam bekerja.
  3. Anda yakin jika hasil kerja Anda sempurna, maka akan menghasilkan kedamaian dan ketenangan dalam diri (fokus pada hasil, bukan proses).
  4. Ketika Anda tidak melakukan sesuatu dengan sempurna, itu artinya Anda gagal (berpikir hitam-putih; benar-salah; berhasil-gagal).
  5. Anda meyakini bahwa orang akan menghargai dan mengagumi Anda hanya jika Anda berhasil mencapai hasil tertinggi/sempurna dalam suatu tugas/pekerjaan.

Perfeksionis itu Baik atau Buruk, ya?

Di satu sisi, menjadi perfeksionis itu merupakan sesuatu yang baik karena dapat menghasilkan kualitas tugas yang sempurna. Akan tetapi, individu yang perfeksionis seringkali mengalami berbagai permasalahan secara psikologis. Misalnya, ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan untuk menjadi sempurna, terkadang membuat pasangan merasa tertekan, sedangkan dirinya seringkali merasa kecewa dan marah. Dalam lingkungan pertemanan pun mereka seringkali menjadi kompetitif dan kaku.

Kebutuhan untuk selalu sempurna ini juga seringkali menyebabkan mereka merasa cemas dan lelah sepanjang waktu karena selalu merasa bahwa pekerjaan mereka belum sempurna. Jika mereka tidak berhasil mencapai standar diri yang tinggi/sempurna tersebut, maka mereka akan menjadi kecewa terhadap diri sendiri.

Sebuah penelitian oleh Hewitt dan Flett mengungkapkan bahwa terdapat hubungan antara perfeksionis dan masalah kesehatan mental, yaitu depresi dan gangguan makan seperti anorexia nervosa dan bulimia.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Berpikir lebih realistik:

“Tidak ada orang yang sempurna”; “Saya sudah melakukan hal terbaik yang saya bisa”; “Membuat kesalahan bukan berarti saya bodoh atau gagal”.

Berpikir dari perspektif orang lain:

“Tidak meraih nilai A pada mata kuliah ini merupakan hal yang wajar bagi orang lain karena mata kuliah ini memang dikenal sangat sulit”.

Lihat secara gambaran besar:

“Apakah hal ini sangat berpengaruh?”; “Apa kemungkinan terburuk yang dapat terjadi?”; “Jika hal terburuk tersebut terjadi, apakah saya masih dapat melaluinya?”

Seseorang yang terlalu perfeksionis dapat merasa cemas sepanjang waktu. Karena itu, terlalu perfeksionis dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental. Untuk mengatasinya, seorang perfeksionis dapat mengurangi standarnya menjadi lebih realistis.

Mengurangi standar sendiri bukan berarti tidak memiliki standar. Memiliki standar yang realistis dapat membantu Anda untuk menghasilkan kualitas terbaik dalam berbagai aspek kehidupan, seperti keluarga, pertemanan, dan kesehatan mental.


Sumber data tulisan:

Selanjutnya dapat dibaca pada artikel “4 Difficulties of Being a Perfectionist” (https://www.psychologytoday.com/blog/inside-out/201311/4-difficulties-being-perfectionist)

Selanjutnya dapat dibaca pada artikel “The Many Faces of Perfectionism” (http://www.apa.org/monitor/nov03/manyfaces.aspx)

Selanjutnya dapat dibaca pada artikel “How to Overcome Perfectionism” (https://www.anxietybc.com/sites/default/files/Perfectionism.pdf)

Featured Image Credit:
tvtropes.org


1 comment

Comments are closed.

%d bloggers like this: