Perfeksionis Merupakan Ciri-Ciri Gangguan Obsesif Kompulsif, Benarkah?

“Jangan takut akan kesempurnaan, sebab tidak seorangun bisa mendapatkannya.” – Salvador Dali

Sifat perfeksionis dalam pandangan psikologi merupakan keyakinan pada diri seseorang bahwa kesempurnaan dapat dan harus dicapai. Banyak spekulasi yang mengatakan bahwa sifat perfeksionis merupakan ciri-ciri seseorang mengalami gangguan obsessive compulsive disorder (OCD). Apakah hal tersebut benar? Ternyata tidak, meskipun keduanya sama-sama mengandung unsur kompulsif. Berikut ini beberapa penjelasannya mengeni perbedaan antara keduanya!

1. Orang yang perfeksionis umumnya adalah pekerja keras, sedangkan OCD adalah gangguan mental di mana salah satu simtomnya adalah seseorang selalu merasa harus memeriksa suatu hal terus menerus dan melakukan rutinitas yang ketat.

2. Seseorang yang perfeksionis biasanya selalu mengikuti ‘aturan’. Selama individu tersebut menjalankan aturan tersebut maka tidak terjadi masalah. Akan tetapi, seseorang dengan OCD akan melakukan pengulangan perilaku hingga dapat menyebabkan kelelahan secara fisik maupun mental.

3. Berdasarkan faktor penyebabnya, sifat perfeksionis biasanya dapat muncul karena kesalahan pola asuh orang tua yang keras atau sering disebut dengan pola asuh otoriter. Orang tua dengan pola asuh ini biasanya mempunyai harapan yang tinggi pada anaknya agar anakanya patuh dan tunduk serta menghargai usaha orang tuanya. Sedangkan seseorang dengan OCD biasanya disebabkan oleh faktor genetik atau bawaan.

4. Seseorang yang perfeksionis biasanya mengacu pada kerapian dan keteraturan. Akan tetapi, orang dengan OCD terkadang membuat dirinya sendiri terperangkap dalam ketidakteraturan karena perilaku berulang-ulang yang dilakukan.

Demikianlah beberapa hal yang membedakan sifat perfeksionis dengan perilaku gangguan obsesif kompulsif (OCD). Meskipun keduanya berbeda, akan tetapi perlu diwaspadai karena sifat perfeksionis juga dapat menjadi pemicu seseorang mengalami gangguan OCD. Seperti yang dikatakan oleh Michael Mufson, MD, seorang psikiater dari Harvard University, bahwa perfeksionis merupakan satu set gejala yang terdapat pada gangguan obsesif kompulsif, meskipun keduanya berbeda.

Jadi, boleh saja kita bersikap disiplin dan keras pada diri sendiri. Akan tetapi, jangan jadikan hal tersebut sebagai acuan yang mutlak. Tidak apa-apa melakukan kesalahan, yang penting kita bisa belajar dari kesalahan tersebut!

Heni Andini

Mahasiswa Psikologi Universitas Sriwijaya

%d bloggers like this: